Monday, July 23, 2007

KAMU MAU KAN NERIMA AKU LAGI?

Aku sudah mulai berkhianat pada diriku sendiri. Beberapa hari ini, aku ketemu “kecengan” baru yang jauh lebih asyik, lebih sexy, dan membuatku nyaman berada di sampingnya. Intinya, aku mulai selingkuh dengan “kecengan” baruku dan melupakan ”pacar” lamaku.
Maaf, bukan maksudku untuk membuatmu terluka. Aku juga tak berniat melakukan hal ini. Sungguh. Aku hanya sedang jenuh pada dirimu dan mencoba pergi darimu. Aku ingin suasana baru yang bisa menyegarkan hati dan pikiranku. Dan akhirnya, aku bertemu dengannya. Dari first impression yang dia miliki, sudah jelas dia lebih unggul darimu. Physicly, impression, dan attitude sudah pasti dia menang darimu. Maka dari itu, sekarang aku lebih senang dengannya daripada denganmu. Maaf.
Tapi, suatu saat aku akan kembali padamu. Setidaknya, jika aku telah bosan padanya. Atau mungkin, jika dia yang bosan padaku. Ya, salah satu diantara kita yang telah bosan itulah yang akan membuatku kembali padamu.
---
Gelaran LA Indie movie kemaren seru banget. Gue bisa ketemu Garin Nugroho dan ngobrol banyak seputar film. Bisa ketemu Monty Tiwa yang talented abis. Dan tentunya yang terakhir, gue ketemu sutradara asal Filipina yang namanya John Torres. Si Alga—vox Panas Dalam—lebih seneng manggil dia Mr. John Tor (baca: Jontor).
Pagi-pagi jam setengah sembilan, gue dan beberapa temen gue udah ngantri di Blitz Megaplex. Ini adalah sesi registrasi ulang buat yang kepilih workshop LA indie movie. Antriannya panjang banget. Tapi, dengan penuh kesabaran dan ketabahan, akhirnya kita semua beres registrasi ulang.
Waktu sempet ngaret sedikit. Pukul sembilan harusnya kita udah mulai workshop. Namun karena ada kendala teknis dari panitia, kita mulai workshop sekitar jam 9 lebih 20 menit. Gue masuk ke gedung bioskop diiringi temen-temen gue. Gue duduk dan mereka pun duduk. Gue muntah mereka nggak muntah. Heran gue.
Buat pembuka dan warming up, panitia mempersilahkan mas Garin Nugroho untuk sekedar bercerita tentang film. Gue antusias banget uy dengernya. Gue nggak habis pikir nih orang pemberontak banget. Bisa dibilang juga agak sedikit anti-mainstream dalam pembuatan film-filmnya.
Soal pengalaman emang nggak diragukan lagi. Udah banyak festival yg diikutin. Penghargaan bejibun, skill teruji, dan argumennya jelas banget. Dari awal ngomong, kayaknya gue udah kebius sama kata-kata mas Garin.
Pembicara selanjutnya adalah Monty Tiwa. U know that? Yeah, dialah sutradara film ”Maaf, Saya Menghamili Istri Anda”. Buat gue pribadi, Monty bukanlah komunikan yang baik. Penjelasannya nggak ngena banget. Dia kayaknya termasuk orang yang sedikit banyak terpengaruh teori text book. Boring banget ngejelasin filmnya. Tapi, jokes-nya OK juga. Fresh jokes from the oven. Dia ngelmu dari siapa ya?
Untuk memberi warna baru dalam pola pikir perfilman indie, pihak LA mengundang sutradara film indie dari Filipina. Namanya John Torres—sebut saja Jontor. Sesi kali ini bener-bener bikin gue pusing. Kalo gue nggak malu, gue lebih milih tidur dari pada dengerin penjelasan si Mr. Jontor ini. Selain karena bahasa pengantarnya pake Inggris, film-filmnya juga gue nggak ngerti. Kata dia sendiri, film-film yang diputer Cuma megang prinsip shoot-edit-shoot-edit. Jadi nggak jelas banget apa isi dari film itu. Jangankan pesan yang pengen disampein, dia sendiri aja bingung sama pesan dari filmnya. Baru kali ini gue nonton film berasa ngelahap buku Noam Chomsky. Njelimet pisan!
Satu yang bikin gue heran sama Mr. Jontor ini, walaupun film-filmnya—hampir semua peserta—nggak bisa dimengerti, film-filmnya yang diputer telah meraih beberapa penghargaan di festival film Singapura. Ajaib!
Ini dia sesi yang gue tungguin. Walopun mesti nungu sampe bulukan, gue jabanin deh. Kapan lagi gue bisa interaksi lebih jauh sama garin Nugroho? Belum tentu kesempatan ini bisa dimaksimalin sama orang lain. Maka dari itu, gue all-out aja pas sesi mas Garin.
Ternyata, Garin memang lebih dari sekedr sutradara biasa. Pengalamannya luas banget. Tanya soal film, proposal film, metode film, dan lain sebagainya udah dijabanin. Gue Cuma bisa takjub ngeluarin air liur.
Acara kelar sampe jam 5 sore. Gue bener-bener interest banget sama LA indie movie ini. Gue jadi mikir, kok bisa ya perusahaan rokok ngasih materi kayak gini? Rokok kan identik sama racun dan perusak organ tubuh. Tapi di sisi lain, mereka juga—perusahaan rokok—ngasih kontribusi lebih buat perkembangan budaya pop bangsa khususnya film dan musik. Jarang banget gue denger Depdikbud menggelar diskusi budaya, film, dan musik misalnya. Atau departemen pariwisata menggelar film tentang kebudayaan dan musik daerah berkolaborasi dengan musisi pop. Kenapa harus perusahaan rokok? Dimana peran menteri Pendidikan dan Kebudayaan? Kenapa rokok yang jelas-jelas menyebabkan kanker, impotensi, serangan jantung dan gangguan kehamilan dan janin bisa melakukan penyegaran otak, nutrisi bergizi kebudayaan, kreatifitas tanpa batas, dan karya anak muda penuh semangat? Apakah instansi pemerintahan terlalu miskin untuk mengadakan acara seperti ini?

Ah, aku tak mau jawab. Biarlah waktu yang menjawabnya.

Kemarin-kemarin aku telah selingkuh. Ya, selingkuh sama LA indie movie karena terobsesi sama film dan melupakan kegemaranku: menulis. Aku bela-belain buat ikutan LA indie movie. Dan aku melupakan rutinitasku: menulis.
Maaf, aku sudah selingkuh bersama LA indie movie. Aku benar-benar khilaf. Aku mohon kamu mau maafin aku dan nerima aku lagi. Aku sadar sekarang. Apalagi setelah penjaringan tahap 2, aku nggak kepilih. Maka dari itu, aku pengen balikan sama kamu lagi. Kamu mau kan nerima aku lagi?
Sebagai permintaan maafku, aku hadiahkan tulisan ini padamu. Ini yang bisa aku tulis dari pengalaman sehari “selingkuh” bersama LA indie movie. Kamu mau kan nerima aku lagi?


Monday, July 16, 2007

MATAKU ADA EMPAT

Adakalanya seseorang itu harus menyerah pada sesuatu bernama MALU. Kadang, karena terpaksa dan dipaksa oleh keadaan kita bisa menutupi rasa malu tersebut. Walaupun tetap malu, toh lebih baik malu daripada tidak sama sekali (ngomong apaan sih?).

Jadi begini, gue dulu parno banget kalo sesuatu yang nggak biasa tiba-tiba harus melekat dan menjadi image bagi gue. Gue udah biasa disebut orang alim dan hampir nggak mau disebut anak badung. Gue udah terbiasa dengan berita-berita baik dan nggak mau denger berita buruk. Tapi itu dulu.



Sekarang gimana? Hmm...kalo sekarang sudah sedikit berubah dan fine-fine aja mau disebut anak apapun. Toh ternyata itu hanya paradigma gue aja yang salah. Tapi ada satu hal yang masih ngeganjel soal paradigma ini dan susah banget buat gue nerimanya. Apakah itu?



Kaca mata. Lebih tepatnya, pria berkacamata. Yeah, gue masih nggak PD kalo harus memakai kaca mata. Rasanya nggak banget dan terkesan pemikir tulen yang gaulnya Cuma sama buku. Gue juga nggak mau dikatain, “Wah, Zak lo minus berapa? Makanya jangan kebanyakan baca buku. Sekali-kali main dong”.



Memang, nggak selamanya orang berkacamata identik sama buku. Mungkin juga banyak orang yang nggak baca buku memakai kaca mata karena alasan tertentu. Contoh: Ian Kasela. Tapi nggak tahu kenapa ya, gue punya perasaan nggak banget deh pake kaca mata.



Seharusnya, gue rajin pake kaca mata dari kelas 2 SMA. Waktu itu minusnya masih imut-imut, yaitu minus 1 dan 0,75. Duh, masih imut dan jinak banget ya minusnya. Namun karena alasan kesehatan, dokter menyarankan untuk membeli kaca mata. Ya, dokter menyarankan untuk membeli kaca mata. Akhirnya, gue membeli kaca mata. Pertama kali dicoba di toko optik rasanya mata jelas banget. Serasa terlahir kembali ke dunia. Gue udah bertekad bulat untuk memakainya.



Namun apa yang terjadi saudar-saudara? Datang ke pondok mental gue ciut. Belum lagi harus menghadapi orang-orang se-tipe Peu2 dan P-nyoe yang kata-katanya terlalu tajam untuk didengar. Pokoknya, gue rahasiain hal ini dan berharap tidak ada seorang pun yang tahu kalo gue pake kaca mata.



Dugaan gue Cuma bertahan 1 hari. Temen-temen se-asrama udah pada tahu kalo Zakky bermata minus dan bertubuh kecil (ya iyalah ). Muka gue merah pas pake kaca mata diliatin sama Minceu dan Ade. Mereka ketawa-tawa nggak karuan. Sedangkan gue nggak sadar kalo gue lagi pake kaca mata. Hmm...orang yang aneh.



Akhirnya, berita itu tersebar dengan cepat ke asrama lainnya. Gue Cuma bisa pasrah dan berharap mereka mau mengampuniku (lho???). Ya sudah, karena kepalang tanggung, aku pake aja kaca mata tersebut di kelas. Harap dicatat, hanya dipakai di kelas. Sedangkan di luar kelas nggak dipake. Temen-temen juga agak sedikit aneh memandang gue memakai kaca mata. Gue apalagi. Dunia memang terasa lebih jelas. Namun agak sedikit aneh. Nggak tahu kenapa.



Waktu itu mungkin gue nggak PD buat pake KM (akronim dari Kaca Mata). Maka dari itu, usia KM gue nggak bertahan lama. Hanya beberapa bulan pake KM, gue dengan berat hati menyimpannya di tempat peristirahatan terakhirnya yaitu kotak KM. Lebih tepatnya dimumikan dan diawetkan.



Gue bebas dan nggak terbebani lagi sekarang. KM yang membatasi udah gue lepas. Lebih baik bebas daripada dibatasi oleh kaca mata. Itulah prinsip gue waktu dulu.



Namun, seiring waktu berjalan, ternyata penglihatanku semakin kabur saja. Cewek yang dulu kelihatannya cantik mendadak mukanya rata dalam penglihatanku. Cowok yang nggak ganteng-ganteng amat kok berubah jadi paling ganteng se-Unisba. Gue merenungi hal ini. Gue introspeksi, mungkin gue punya banyak dosa. Dan ternyata mata gue yang banyak dosa. Maksudnya, mata gue minus dan harus segera diobati. Dan satu-satunya pengobatan yang harus dilakukan sekarang adalah memakai kaca mata! Alamak....



Akhirnya gue menghubungi seorang teman yang punya kenalan dengan seorang spesialis kaca mata dan mata minus. Gue disuruh baca huruf dari kejauhan. Dan hasilnya sangat mengkhawatirkan! Mataku sekarang minus 1,75 dan 1,5 brow!!!



Dengan berat hati, terpaksa saya harus rajin pake kaca mata. Ke kampus, ke kost-an temen, ke rumah, dan kemana pun saya pergi. Duh, repot banget pake KM ini. Apalagi pilihan lensanya adalah photo grey. FYI, lensa ini terbuat dari kaca. Selain itu, bisa menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Jika keadaan sekitar intensitas cahayanya berlebihan, maka secara otomatis lensa berubah warna menjadi agak kehitaman. Dan bila intensitas cahaya kurang, maka lensa berwarna bening. Dibandingkan dengan super sin yang terbuat dari plastik dan mudah tergores, photo grey tahan gores. Kekurangannya Cuma satu: agak berat kalo dipake.



Perjuangan belum berakhir seobat. Ketika pertama kali pake kaca mata, keluarga gue pada heran. Temen-temen apalagi. Terutama ketika kita latiha debat di masjid, temen cewek gue perlu waktu beberapa saat untuk mengenali siapakah orang yang berkaca mata ini. Dia aja sampe segitunya. Apalgi ntar kalo ketemu temen-temen SMA. Bisa mati aku!



Akhirnya, saya sadar. Saya sadar kalau KM itu penting sekali. Setidaknya untuk saat ini. Mungkin, kalau saya punya rezeki banyak, Insya Allah akan saya normalkan pakai LASIK he..he..(mimpi itu harus yang tinggi dan nggak boleh setengah-setengah dalam bermimpi). Salah seorang teman saya bilang: ”Selamat datang di dunia kaca mata. Secara otomatis anda sudah terdaftar menjadi member dari spesies kami”.