Monday, August 03, 2009

Sejenak Mengukur Malu


Mari kita menyanyi lagu kebebasan dengan atribut individualisme. Dimana saya dan kalian menjadi begitu berjarak satu sama lain, padahal kita dekat. Urus saja kepentingan kita masing-masing karena saling bantu hanya ada di pelajaran Kewarganegaraan—PPKN. Kita telah diajarkan untuk malu dari kecil—malu membantu, malu menolong, malu menyapa, malu berkenalan. Dan malu-malu yang lain jumlahnya masih banyak jika dirunut satu-persatu.

Wajar, sifat manusia mengenai malu memang ada. Coba periksa pada psikiater apakah kita masih mempunyai rasa malu atau tidak. Lalu tanyakan padanya berapa kadar malu yang kita punya sebagai manusia normal. Biasanya hal itu menghasilkan angka beberapa digit, semisal tes IQ yang bisa diukur dari angka dua digit sampai tiga digit. Jika angka dua digit katakanlah IQ kita 75, kita bukanlah orang jenius. Kita seperti Forrest Gump. Namun jika angka tiga digit katakanlah 130, kita disebut orang jenius karena tingkat kepintaran di atas rata-rata.

Masalahnya, saya tak pernah menjalani tes rasa malu. Saya tak tahu berapa kadar rasa malu yang saya punya. 50, 75, 80, 100, 120? Lalu, jika mungkin malu bisa diukur dengan angka seperti itu, apakah itu penting?

katakanlah rasa malu dianalogikan dengan IQ, namun menggunakan metode berbanding terbalik. Jika IQ angkanya semakin besar berarti semakin jenius, maka rasa malu adalah kebalikannya. Semakin besar angka yang kita peroleh dari rasa malu, maka kita menjadi cenderung autis. Namun jika angka yang kita peroleh semakin kecil, berarti kita (katakanlah) percaya diri.

Dan berbahagialah wahai psikiater yang bisa mengukur rasa malu, kalian akan sangat laku keras!



gambar: www.deviantart.com

Friday, July 24, 2009

TERIMA KASIH POWER RANGERS, BERUBAHLAH BAJA HITAM



Sore itu cerah, waktu yang tepat untuk keluar rumah dan bermain dengan yang lain. Riuh-gaduh anak-anak di depan rumah menggoda kami untuk bergabung. Celotehan mereka tak kuasa untuk dibendung. Apalagi mereka berencana untuk bermain permainan tradisional bernama gobag. Ah, semakin tak bisa kami tahan.

Sementara itu, bibi saya mengharuskan kami nonton siaran berita TVRI. Karena menurutnya di situ berisi pendidikan dan pengetahuan tentang banyak hal. Kalian mungkin akan sangat familiar dengan perjuangan heroik Yasser Arafat dengan PLO-nya, konflik Bosnia Herzegovina, Konflik Palestina, dan lain-lain. Atau mungkin kalian akan sangat mengingat penggalan bait lagu ini:

Garuda Pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot Proklamasi
… (dst)


Bagi kami waktu itu, kami sangat kenyang menyanyikan lagu perjuangan tersebut. Pada zaman itu, anak seumuran saya sudah khatam di luar kepala. Pola indoktrinasi zaman orde baru dalam menanamkan rasa nasionalisme melalui lagu saya akui sangat hebat.

Kami bukannya tak mau menonton berita. Saya, adik, dan sepupu kadang bosan dengan berita dalam negeri yang tidak dinamis. Dimulai kunjungan presiden ke desa anu, lalu dalam tayangannya presiden Soeharto ikut dalam seremoni memotong padi. Berita dalam negeri relative berita yang stabil.

Saat ini kami punya kebutuhan mendesak. Kebutuhan kami adalah hiburan. Kami tidak mengerti mengapa konflik Palestina-Israel terjadi, kami mana tahu konflik Bosnia dan Afganistan, kami hanya tahu sekjen PBB waktu itu adalah Kofi Anan. Biarlah semua permasalahan yang terjadi di sana diselesaikan oleh orang dewasa yang konotasinya mendekati kata ‘tua’. Kami hanya butuh bermain dan hiburan! Kami sebagai anak kecil waktu itu punya hak menikmatinya!

“Ki, abis maen gobag pasti tuh anak-anak di depan nonton Baja Hitam” Kata Agung, sepupu saya.
“Bener, Gung. Ikut nonton, yuk!” kata saya bersemangat.
“Tapi mesti minta izin dulu. Tapi pasti nggak diizinin”

Kami hanya diam sembari memutar otak. Bagaimana caranya kami bias nonton Ksatria Baja Hitam agar bisa memuaskan rasa penasaran. Tentu saja kita penasaran siapa musuh selanjutnya, bagaimana jalan ceritanya, apa kabar Gorgom dan Maribaron?

Waktu kecil kami agak tidak leluasa nonton film seperti itu. Bibi saya berendapat bahwa film seperti itu hanya akan mengacaukan imajinasi anak-anak. Atau ada juga alasan lain bahwa film-film semacam itu membuat kita malas belajar. Maka dari itu bibi sangat sering tidak mengizinkan kami menonton film ksatria Baja Hitam dan sejenisnya. Apalagi waktu itu televis di rumah tidak men-support channel RCTI. Jelas saja penderitaan kami bertambah.

Apalagi kalau hari minggu, anak-anak pasti dimanjakan oleh isi programnya. Doraemon dan Power Rangers, dua serial yang selalu kami tunggu. Di depan rumah kami ada rumah tetangga yang televisinya bagus dan gambarnya jernih. Maka dari itu, banyak anak-anak yang sering ikut nonton di situ. Setiap sore rumah tetangga saya pasti penuh sesak oleh anak-anak. Hari minggu apalagi, sampai meluber keluar. Oh, terima kasih wahai tetangga yang baik hati!

Namun sekali lagi, kami selalu terbentur dengan aturan di rumah nenek waktu itu. Bahwa kami sangat tidak leluasa menonton film semacam itu. Kami sempat beberapa kali kabur dan menonton di tetangga depan rumah. Namun selepas itu kami pasti dimarahi dan dinasehati. Dalam hati saya tak suka, namun apa daya. Kalau tidak boleh ya terpaksa kami harus menonton berita lagi dan lagi. Berita yang itu lagi-itu lagi. Monoton. Statis.

Berbahagialah kalian yang masa kecilnya mempunyai banyak kesempatan nonton film kartun dan serial jagoan!

* * *

Jargon jagoan dulu selalu kami ingat: membela keadilan, membasmi kejahatan. Ah, indah sekali kata-kata itu. Ketika kami sebagai anak kecil sering disodorkan pada hal hitam-putih, baik-jahat. Dan anak-anak dulu selalu terobsesi untuk menjadi sang pahlawan. Ciri-ciri pahlawan biasanya diinterpretasikan dengan badan gagah, wajah ganteng atau cantik, dandanan rapi, disiplin. Maka jangan heran kalau teman-teman saya ditanya apa cita-citanya, maka biasanya ada dua hal: polisi atau ABRI.

Sekarang film kartun atau serial jagoan konfliknya sangatlah kompleks. Kebenaran tidak selalu harus menang. Kebenaran hanyalah sebuah hal yang relatif, dan ujung-ujungnya tergantng selera pasar. Benar atau tidak ya terserah penonton. Contoh film kartun Death Note. Tokoh utama dalam kartun Jepang ini terlihat sangat baik dan pintar. Namun ternyata dia orang paling kejam yang bisa membunuh orang dengan menuliskan namanya saja di buku catatan kematian.

Saya tidak bilang itu tidak bagus, namun agak ‘berbeda’ dengan film anak-anak zaman saya dulu. Dulu kita hanya disuguhi jalan ‘lurus, benar, dan monoton’ dalam film anak. Hari ini, bahkan anak kecilpun bebas memilih film dengan jalan ‘benar, jahat, dan unik’. Jika bosan Naruto, masih ada Bleach. Kalau bosan Power Rangers tinggal pindah channel. Banyak versi film anak dengan konflik yang sangat kompleks.

Nostalgia. Saya hanya ingin nostalgia saja. Saya senang pernah hidup di zaman itu, zaman yang mengharuskan saya berjuang keras hanya untuk sekedar nonton film anak. Zaman yang penuh dengan keceriaan dunia anak-anak. Zaman dimana anak-anak masih sangat ‘dimanja’ oleh televis dengan film dan lagu anak. Dimana anak-anak tidak menjadi dewasa sebelum waktunya.

Selamat hari anak bagi yang merasa pernah menjadi anak-anak. Saya yakin masa kecil kalian indah dan menyenangkan.


Gambar: www.deviantart.com

Wednesday, July 22, 2009

Nulis Lagi

Kenapa berhenti nulis? Males.

Beberapa bulan ini saya jarang upload tulisan ke blog ini. Mungkin hampir 2-3 bulan nggak posting lagi. Banyak yang tanya kenapa nggak nulis lagi? Saya bilang saya tetep nulis kok. Cuma nggak diposting di blog.

Hmmm...zaman udah serba internet. Seseorang aktif nulis atau nggak bisa dilihat dari blognya. Kalo dia sering update, dia salah seorang yang aktif nulis. Tapi kalo jarang berarti dia pasif. Lalu saya? blogger aktif, yang update-nya kadang satu atau dua bulan sekali hehe...

Pengen ganti tampilan dan lay out akhirnya jadi juga. Semoga tulisan saya juga lebih berisi dan berbeda.

Tuesday, July 21, 2009

Haruskah Dibandingkan?


Membandingkan satu dengan yang lain. Aku rindu kata-kata ini, sekaligus sangat membencinya. Rindu karena aku bisa mengetahui berapa nilai diriku dibanding orang lain, berapa penghasilan orang lain dibandingkan diriku, berapa harga diriku dibanding orang lain. Aku benci apabila ada orang lain yang bisa melakukan lebih dariku, benci untuk memikirkannya, benci menjadi terbebani, benci untuk menjadi seperti orang lain yang aku tak bisa.

Padahal hal itu sangat relatif. Mungkin karena orang lain berpikir bahwa finansial adalah sebuah tolak ukur tak resmi yang selalu menjadi acuan, maka tingkat kesuksesan seseorang dilihat dari jumlah pendapatannya. Mungkin juga bahwa tingkat kesuksesan seseorang dilihat dari jabatan, setinggi dia menjabat setimpal dia mendapat. Yah, aku sadar bahwa ini sangat relatif bahkan ukuran kaya sekalipun. Kaya juga relatif, mahal juga relatif, semua serba relatif. Namun rasanya relatif telah berubah menjadi sesuatu yang pasti dalam masalah ini.

Yang bilang bahwa kau sukses karena kau kaya adalah orang yang bilang pada konteks zaman itu. Apakah hal itu akan menjadi sebuah nilai yang besar setelah zamanmu lewat? Aku tak tahu.

Namun setidaknya kau menciptakan sejarah. Karena pada dasarnya manusia ingin selalu dikenal dan dikenang sebagai seseorang. Aku juga begitu. Ingin dikenal banyak orang dan dikenang kalau sudah lewat masanya. Perasaanku begitu menggebu ketika harus berbicara dan menjelaskan sesuatu di depan orang lain. Entah apa yang merasuki diriku, yang pasti banyak motif. Ingin dikenal sebagai pembicara yang bagus, dikenal sebagai orang yang pintar bicara juga pintar ngobrol—untuk yang satu ini sangat alamiah, tak perlu bakat khusus.

Untuk menjadi seseorang yang dikenal nampaknya tidak mudah. Intinya lumayan sulit. Menjadi terkenal kau butuh jam terbang lebih tinggi dari biasanya. Menjadi terkenal kau harus meluangkan waktumu dan bergulat dengan sesuatu yang kau senangi—jika mungkin yang kau benci. Ah, menjadi terkenal nampaknya menjadi sebuah beban sampai tulisan ini diturunkan.

Well, ini berbicara tentang saya. Dimana selalu berkutat dengan dunia tanda tanya. Banyak hal yang selalu kutanyakan setiap hari dalam pikiran ini. Dan anehnya, pikiranku seolah tak pernah menyisakan ruang penuh bagi banyak pertanyaan. Selalu ada ruang yang disediakan untuk berpusing-pusing ria. Semakin kau berpikir bahwa hidup ini cukup, tak perlu dipertanyakan, semakin bertubi pertanyaan itu menyerang.

Dan pertanyaan saya kali ini adalah, haruskah dibandingkan?

Jika ada psikiater yang dengan sukarela mau memeriksa kejiwaanku, nampaknya aku akan masuk dalam daftar personal terganggu (DPT). Ya, terganggu secara kejiwaan. Adakah istilah yang menggambarkan bahwa seseorang selalu merasa tidak cukup puas dengan dirinya sendiri ketika melihat apa yang orang lain capai? Mungkinkah ini tetangga dekatnya kleptomania atau anoreksia? Apakah ini masuk dalam iri hati dalam istilah agama? Atau apa itu namanya?

Dia terkenal aku tidak. Aku terkenal dia lebih jauh terkenal. Dia kaya aku miskin. Aku kaya dia lebih kaya satu rupiah. Dia punya ini aku punya itu. Mengapa aku tidak punya ini tetapi punya itu? Mengapa masa laluku seperti ini dan masa lalunya seperti itu? Kalimat-kalimat semacam itu. Apakah kalian pernah mengalaminya? Atau mungkin sering? Aku sering.

Ya, anak SD pun tahu kalau kegiatan ini bernama membandingkan dua objek yang sangat berbeda. Permasalahan yang berbeda. Yang jadi persoalan adalah ketika hal ini selalu dipermasalahkan.

Mempermasalahkan kualitas, bukan kuantitas. Saat ini saya mempermasalahkan kualitas diri saya dibanding orang lain. Karena saya berangkat dari suatu teori dasar bahwa dalam memperdalam sesuatu bernama ilmu kita harus mendahulukan prinsip fastabiqul khairat—berlomba/berkompetisi dalam kebaikan—daripada prinsip qona’ah—merasa cukup dengan apa yang ada.

Dan pada satu kesempatan, saya diberikan sebuah perumpamaan. Sebuah analogi tentang masalah perbandingan ini. Ketika saya berkumpul dengan seorang teman dan membicarakan berbagai persoalan menarik. Salah satu persoalan yang kami bahas adalah tentang harga gadget yang akhir-akhir ini harganya turun dengan sangat tajam.

‘Aku beli gadget ini sekitar tiga bulan yang lalu. Sekarang harga gress-nya anjlok banget! Turun tujuh ratus ribu, man!’

‘Oh, ya?’

‘Beneran. Temen aku beli gadget merek T yang tadinya harga tujuh jutaan, dia beli Cuma lima koma lima juta kemaren. Parah banget, kan?’

‘Ah, buat saya itu gak jadi soal. Lagian kalau terus ngebandingin harga kan repot. Bisa-bisa nggak jadi beli karena nungguin harga turun’

‘…’

Memang, ini percakapan sederhana. Namun saya tidak bisa melewatkan. Ada sesuatu yang seolah tersirat dan memberi tanda pada saya bahwa ada sesuatu yang harus saya ambil dari percakapan ini. Entah apa, namun saya memikirkannya terus dan terus.

Saya mengerti satu hal, bahwa kita bukan mencari harga terendah demi kepuasan tertinggi. Bukan pula prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa pengeluaran sekecil-kecilnya demi pendapatan sebesar-besarnya. Di sini saya mulai sadar bahwa intinya kita harus mengambil keputusan, apapun itu. Entah ketika harga tinggi atau harga turun, intinya kita mesti memutuskan untuk beli gadget tersebut. Karena tujuan dasar kita bukan menunggu harga turun ke dasar yang paling rendah, tujuan kita adalah memiliki gadget tersebut untuk dipergunakan.

Jika kita terus menerus berpikir dan menunggu karena pertimbangan harga, di Mall A harganya segini dan Mall B segitu, lalu berapa harga di Mall C ya? Apa lebih murah atau lebih mahal? Kalau misalnya lebih murah, berarti kemungkinan besar ada Mall yang bisa ngasih lebih murah lagi, tapi dimana ya? Ah, sebelum dapetin Mall yang paling murah mending browsing dulu, siapa tau ada yang jual di internet.

Terus dan terus pikiran kita diarahkan pada sebuah polemik harga karena perbandingan harga yang satu dan lainnya hanya beda tipis. Padahal tujuan awal kita adalah memiliki gadget untuk dipergunakan. Pada dasarnya, murah atau mahal bukanlah sebuah masalah. Yang menjadi masalah adalah selisih harga yang beda-beda tipis.

Hidup kita bukan diarahkan untuk melibatkan diri dalam polemik, justru diharuskan untuk memutuskan keluar dari polemik.

Ah, perbandingan. Saya pun sadar kalau saya tak seharusnya dibanding-bandingkan atau membanding-bandingkan diri saya. Bukannya saya tidak mau punya contoh. Saya hanya berpikir bahwa ini bukan lagi sebuah perasaan yang baik ketika kau menjadi terbebani oleh sesuatu. Maka saya harus putuskan tugas saya bukan membandingkan, tugas saya adalah melakukan apa yang saya sukai.

Jika terus dan terus melibatkan diri dalam polemik, kapan saya bisa bekerja? Kapan saya bisa kreatif? Saya rasa sudah cukup, saya ingin bernafas lega dengan tidak dibandingkan atau membandingkan diri saya dengan seseorang. Banyak hal terbengkalai dan harus segera saya selesaikan.

Jika saat ini kalian masih menunggu harga Blackberry jatuh di pasaran, segeralah ambil keputusan. Jika kalian masih menunggu harga Vaio P-series menjadi sangat rasional—yang biasanya dikonotasikan lebih murah—ambil keputusan sekarang. Kelak semuanya akan menjadi sangat relatif, kau bisa menyebutnya mahal namun belum tentu orang lain. Ambil keputusan: YA atau TIDAK.

Wednesday, April 01, 2009

Pico Sejauh Ini...




Setelah kemarin sempat nulis ‘working with my Pico’, dan itu pun reviewnya belum fix benar, maka sekarang saya akan tulis lagi review selanjutnya. Posting yang kemarin bisa disebut Developing Pico, maka sekarang saya sebut sebagai Developed Pico hehe...
Setelah saya sempat menyesal tidak bisa memboyong seri DJM 616 dan terpaksa harus mengikhlaskan membeli seri DJJ 615, rasanya saya harus tarik ucapan saya. Karena sejauh ini saya puas banget sama kinerja Pico saya ini. Setelah dicoba oprek sana-sini, coba wi-fi, sound, kompatibel nggaknya sama perangkat lain, bahkan sampai harus digeber berjam-jam juga siap. Kalau misalnya dikomparasi sama HP Mininote 2133 juga berani lah sekarang mah hehe…

Mulai dari wi-fi deh. Pertama kali daftar hotspot di kampus kok wi-fi Pico nggak bisa connect. Saya bingung dan mulai berprasangka buruk. Tapi setelah Tanya ke dealer Axioo dan diperiksa di sana ternyata ada dua driver wi-fi yang terinstal, hal ini menyebabkan crash atau tabrakan dua software ketika wi-fi Pico diaktifkan. Terpaksa harus install ulang di dealer Axioo (gratis pula plus bonus aplikasi lainnya) dan menunggu satu hari. Dan setelah beres, saya coba hotspotan di kampus. Wuiihh,,,keren pisan wi-fi-nya! Kenceng banget! Mau download ini-itu gampang dan lumayan cepet. Buka fb, buka blog, download adobe, download mp3, lumayan cepet deh. Padahal nggak pake software tambahan yang biasa diunduh dari situs Axioo. Karena yang saya baca di beberapa review, ada beberapa pengguna Pico yang mesti download dulu driver khusus di situs axioo.

Kedua masalah sound. Suara yang dihasilkan Pico saya ini terbilang cukup jernih. Walaupun tidak keras, tapi suara yang dihasilkan memang cukup jernih. Beberapa temen saya bilang kayak gitu.

Ketiga tentang distribusi panas. Karena beda desain sama DJM 616, maka penempatan hardware juga pasti berbeda. Distribusi panas Pico saya kurang bagus. Pico saya termasuk netbook yang cepat panas, terutama di bagian bawah. Maka mesti pake blower tambahan kalau tidak ingin cepat panas. Namun sayangnya pas pake blower tambahan, distribusi panas di bawah malah naik ke atas. Tepatnya ke keyboard bagian kiri. Cukup bikin nggak nyaman juga sih.

Keempat masalah aplikasi. Saya udah instal corel draw X3, adobe photoshop CS2, adobe reader 9, dan beberapa program yang dirasa ‘berat’. Sejauh ini berjalan baik-baik saja, tidak ada masalah. Saya pernah coba instal corel draw X4, tapi buat bukanya perlu loading yang lumayan lama. Ya sudah, saya ganti lagi saja dengan Corel Draw X3. Lalu saya juga baru ubah tampilan windows dengan XP Black. Tidak ganti OS sih, hanya tampilannya saja. Saya pake Bricopack vista inspirate 2. So far so good. Tampilan lebih hidup. Mungkin saya akan ganti OS juga, atau kalau tidak paling pake Bricopack lagi dengan tampilan windows 7 terbaru. Walaupun masih sebatas versi betha. Saya penasaran gimana tampilannya.

Kelima masalah bobot. Memang tidak ada masalah dalam bobot, cukup ringan daripada laptop. Cuma kenapa ya, atau memang karena udah biasa atau body saya yang terlalu kecil, kok kesini-sini kerasanya berat juga ya? Hehe…

Fyi, setiap hari rabu netbook saya pasti jadi langganan dosen auditing. Karena kenapa? Netbook saya selalu klop dengan proyektor. Pasang konektor layar dan tekan Fn+F4 lalu siap presentasi. Padahal dosen saya bawa Compaq Presario tapi nggak bisa connect. Bahkan dosen auditing curhat ke saya kalau dua buah laptop miliknya nggak bisa connect sama proyektor setiap kali ngajar auditing. Apalagi rabu kemarin sudah dua laptop teman saya, salah satunya pake Mininote 2133, juga nggak bisa display ke proyektor. Dan ujung-ujungnya, netbook saya yang harus ambil alih hehe…
Masalahnya sih sederhana. Laptop dosen dan dua teman saya tidak ada aplikasi Intel R Graphics media Accelerator, jadi susah nyambung ke proyektor.

Tapi sehabis dipake ke proyektor, fungsi OSD (kayak software buat ngatur-ngatur panel di keyboard) jadi gak jalan. Jadi mesti install manual lagi. Nah ini dia repotnya. Mungkin crash kali ya pas pasang kabel konektor proyektor? Ada yang bisa kasih tahu?

Keenam masalah keyboard. Jujur, keyboard-nya terlalu kecil. Leutik pisan euy! Jadi kagok buat ngetik, apalagi kalau harus ngerjain tugas yang panjang. Bheuu…salah melulu kalau ngetik.

Tapi nggak apa-apa. Ketutup sama harddisk 250 GB kok. Saya juga bingung mau diisi apa aja harddisk segede gini. Total yang baru saya pake buat semuanya baru sekitar 15 GB. Berarti masih nyisa banyak hehe… ada yang mau nyumbang aplikasi dan mp3?


Gambar: www.kaskus.net

Friday, March 20, 2009

Pencapaian



Hari ini saya melamun, ketika membeli sop kaki sapi kesukaan ayah saya, di sebuah tempat di dekat rumah. Jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumah. Dan saya berjalan kaki sambil sesekali memandangi lapang volley yang dulu menjadi tempat favorit saya untuk main bola bersama teman-teman. Di lapangan bersejarah itu saya sering mencetak gol kemenangan. Di lapang itu pula ibu-ibu gila volley berkumpul saban sore hari. Tahukah kalian, lapangan ini adalah lapangan serbaguna tempat semua permainan berkumpul?

Atau rumah Amoed, tetangga dan sohib saya, yang dulu selalu menjadi basecamp jika hendak membicarakan hal yang menurut kami penting dalam sudut pandang anak SD. Di situ, di depan rumahnya kami biasa bermain kerambol, main nintendo (terutama Mario Bross), makan, membahas topic hangat masa SD, dan lainnya.

Ternyata semua berubah dan terasa cepat. Saya seolah melakukan lompatan kuantum, padahal baru kemarin rasanya saya jadi anak SD. Dan hari ini saya jadi mahasiswa, anak kuliahan.

Mungkin tempat kami tidak berubah. Rumah saya, rumah Amoed, lapang, posisinya tidak berubah sama sekali. Kami tetap tinggal di situ. Namun, ada suasana yang hilang, suasana yang selalu saya rindukan jika berkumpul dengan mereka. Suasana itu tidak saya dapatkan sekarang. Mungkin memang zaman, atau mungkin sudah seharusnya hilang karena takdir. Saya tak tahu. Yang pasti saya merindukan suasana itu, suasana khas dimana hanya kami yang tahu. Suasana yang menyatukan kami sebagai tetangga.

“Pesen apa mas?” Tanya pedagang.
“Oh, saya pesen sop kaki sapi satu porsi”.


Saya perhatikan si pedagang. Saya berpikir dan bertanya, apa dia nyaman dengan pekerjaannya? Setiap hari bergulat dengan kaki sapi dan kambing, bau daging, letupan kuah sop, dan tutup larut malam. Apa dia juga cukup dengan gaji yang didapat? Bisakah gaji itu mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya? Pertanyaan saya mungkin penuh dengan keraguan. Tetapi itulah faktanya.

Tadi siang, saat saya dan teman-teman berkumpul di kampus, ada teman yang mengeluhkan sesuatu. Dia mengungkapkannya secara verbal, walau saya tahu keluhan itu sangat mewakili perasaan teman-teman saya yang lain. Atau mungkin mewakili perasaan kita semua?

“Naha hirup urang teh kieu-kieu wae? Euweuh perobahan…”

Dia mengeluhkan hidup yang seolah berjalan datar, statis, tak ada perubahan dalam hidupnya. Setiap hari dimulai serta diakhiri dengan rutinitas yang sama. pagi pergi ke kampus, masuk jam kuliah, nongkrong, setelah itu pulang. Skema itu terus berulang dan berulang. Seperti sebuah siklus, dia dimulai dan berakhir di tempat yang sama.
Teman saya yang lain mengeluhkan kondisi dirinya saat ini. Dimana setelah putus dari kekasihnya, seolah dunia kiamat. Saya tahu dia mencoba tersenyum dan bersemangat menghadapi hari, tapi nampaknya luka asmara terlalu sakit untuk ditutupi. Entahlah, dia mencoba sekuat tenaga untuk lepas dari belenggu dan bayang-bayang bersama mantan kekasihnya. Namun sekuat dia ingin melepas, semakin perih rasanya.

Namun bukan masalah itu yang saya tangkap. Sebenarnya mereka punya obsesi. Mereka ingin memulai usaha dan menghasilkan banyak uang. Mereka berdua sudah bosan hidup begitu-begitu saja, selalu hidup di alam rencana.

Persoalan menjadi rumit ketika mereka ingin berubah, bermunculan lah masalah pelik. Dan seperti biasa, sebagai manusia normal, mereka—saya juga sering—mengeluh. Sebagai manusia yang didera berbagai masalah, mungkin wajar jika saya atau kalian mengeluh. Namun menjadi tidak wajar jika hal itu berlangsung terus menerus dengan mengungkap berbagai macam apologi atas ketidakmampuan. Ya, kadang selalu bersembunyi dibalik ketidakmampuan.

Ini yang menjadi masalah serius buat saya. Saya memandang masalah mereka bukanlah cinta atau perasaan bahwa hidup ini tidak berubah. Buat saya, masalah itu penting. Semakin ruwet masalahnya, semakin tinggi kualitas manusia tersebut. Bukankah untuk naik level game kamu harus menghadapi musuh yang terkuat? Bukankah Ksatria Baja Hitam harus bertarung susah payah melawan Gorgom untuk kemudian menjadi Ksatria Baja Hitam RX?

Masalah sebenarnya adalah perubahan. Mau berubah atau tidak. Itu pilihannya.

Saat ini posisi saya mungkin hidup dalam bayang-bayang orang lain. Simpelnya seperti ini: saya ingin mobil ini, saya ingin motor itu, saya ingin punya rumah dengan tipe tertentu, saya ingin istri cantik, dan ekspektasi lain yang saya inginkan. Saya masih memimpikannya, saya masih mengusahakannya. Sedangkan di sisi lain, ada orang yang sudah lebih dulu memiliki segala yang saya inginkan.

Jika saya terus berkutat di alam rencana, saya tak pernah bisa menjadi apa yang saya inginkan. Maka saya memilih tak ingin terlalu berteori, tak ingin terlalu diam memikirkan hidup, tak ingin semua ini sia-sia. Saya mungkin lelah dengan semuanya, tapi lelah saya akan menghasilkan sesuatu. Itu standar hidup yang saya anut saat ini.

Saya menemukan dua hal aneh hari ini. Yaitu banyak orang takut menjadi miskin, namun tak sedikit pula orang takut menjadi kaya. Kita bekerja, kita belajar, kita beraktifitas untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Sebisa mungkin menghindari kemiskinan menuju kesejahteraan. Namun, mengapa banyak orang juga takut menjadi kaya? Takut kemalingan, takut diserang penyakit ‘orang kaya’ semisal kanker, bahkan takut mempertanggungjawabkannya di akhirat. Teman saya takut menjadi orang kayak arena katanya tanggung jawabnya besar. Teman saya yang lain takut diserang penyakit kanker, stroke, dan penyakit mematikan lain. Lalu saya tanya,” jika kamu sudah kaya, masihkah hal itu dipermasalahkan?”

Teman saya hanya diam dengan senyum simpul.

Persoalan mereka adalah mempermasalahkan sesuatu yang belum terjadi. Sedangkan permasalahan saya adalah menjadikan persoalan itu terjadi. Kita berbeda dalam hal yang sangat dasar. Dan ini akan menjadi sangat penting.

Saya percaya pada sebuah pencapaian. Bahwa kualitas seseorang itu akan menjadi berbeda dengan orang lain dilihat dari pencapaian yang didapat. Seorang yang mencapai derajat sufi pasti berbeda kualitas keimanannya dengan muslim biasa. Atau sopir bus, kualitas hidupnya pasti berbeda dengan ‘sopir pesawat’—walaupun jabatan keduanya sama-sama sopir.

Pencapaian berarti kita melewati tahapan hidup yang sangat penting demi merubah kualitas diri. Kita terus berubah dan mencari. Semakin tinggi pencapaian, semakin bagus kualitas hidup kita. Semakin banyak permasalahan, semakin banyak kita belajar. Semakin banyak belajar, semakin banyak kau tahu.
* * *

“Ini sopnya kang” Kata si pedagang.
“Berapa semuanya?”
“Lima belas ribu, kang”


Saya bergegas pulang, ayah saya sudah menunggu dari tadi. Ah, kenapa saya jadi mengkhawatirkan nasib si pedagang? Apa kekhawatiran saya mewakili nasib si pedagang? Mengapa saya jadi mempermasalahkan sesuatu yang saya tidak alami? Hehe…


Gambar: www.agylardi.wordpress.com

Wednesday, March 04, 2009

WORKING WITH MY PICO



Setelah kerja keras banting tulang mulai dari nabung, ngumpulin honor tulisan, honor ngajar, lalu membujuk orang tua (hehe…) akhirnya kebeli juga mainan baru. Mainan baru ini akan menjadi teman saya dalam menyelesaikan berbagai tugas dan kegilaan saya dalam menulis dan browsing internet. Mainan baru ini akan menemani hari-hari saya kemanapun saya pergi. Bersama mainan (teman) baru ini, kita bersama-sama akan menguasai dunia mhuahaha…

Jadi kronologisnya begini. Saya ngebet banget pengen punya laptop dengan desain bagus dan performa kenceng. Namun apa daya, doku daku tidak mencukupi untuk membeli spek laptop seperti itu. Ada sih, Cuma seken dan itu pun laptop tahun jebot. Maka saya turunkan ekspektasi saya dan mulai melirik netbook. Sebenernya, Netbook muncul dari program OLPC (one laptop per child), dimana rencananya setiap anak di seluruh dunia bisa memiliki laptop mini dengan harga dibawah $300 bahkan dibawah $100 per unitnya.

Lalu saya browsing di berbagai situs dan mendapati kenyataan bahwa pemakaian netbook ternyata sudah masif, bahkan karena ukurannya yang tidak ribet banyak orang memilih netbook daripada laptop. Tak jarang juga orang membeli netbook sebagai pendamping laptop. Jadi laptop untuk menjalankan program berat seperti nonton DVD, olah gambar adobe atau corel, dalam waktu yang bersamaan. Nah netbook ini biasa digunakan untuk program-program ringan seperti word, chatting, browsing. Bisa juga untuk program berat, namun performanya tidak sehebat laptop.

Maka saya mulai pensasran dengan benda bernama netbook ini. Selain karena harganya yang berada di kisaran 4-6 jutaan, bobotnya pun ringan. Rata-rata netbook mempunyai bobot 1-1.2 kg. Hmmm…ringan sekali untuk ukuran body saya. Karena kalau harus gendong atau jinjing laptop yang rata-rata beratnnya 1.8-2.2, kg saya kewalahan. Ini tidak baik untuk pertumbuhan badan saya hehe…

Setelah browsing sana-sini, akhirnya ada beberapa rekomendasi yang bikin saya bingung. Beneran, ini adalah tahap yang paling berat jika harus menentukan dan memutuskan. Karena saya adalah orang yang lumayan bingung juga kalau sesuatu yang dipilih speknya bagus-bagus semua.


Acer Aspire One
Merek netbook ini sudah massif, seolah punya tagline laptop sejuta umat. Kasusnya sama dengan nokia 3310 yang dulu familiar dan mendapat predikat sebagai HP sejuta umat. Dengan spek intel atom N270, 1 GB RAM, memori 120 GB, layar 8,9 inch, 6 cell battery, saya bener-bener tergiur. Apalagi ditambah nama besar Acer, pokoknya nggak ada keraguan deh. Dan kemaren pas pameran, Acer melansir seri terbaru Aspire One dengan prosesor intel atom N280.

Asus Eee PC
Ini dia pioneer dalam pembuatan netbook. Seri pertamanya aja laris manis kejual. Dilengkapi prosesor intel atom N270, memori 80 GB, 1 GB RAM, layar 8,9 inch, 6 cell battery. Beratnya juga hanya 1 kg. ini benar-benar netbook yang ringan.

HP Mininote 2133 & 101-OTU
Stylish dan bikin ngiler! Jujur, desain HP mini emang juara. Bikin ngiri lah pokoknya mah. Untuk seri 2133 tidak menggunakan intel atom. Sedangkan seri selanjutnya yaitu 101-OTU sudah dilengkapi prosesor intel atom. Grafik keduanya hamper sama, speknya juga sama, bedanya 2133 dengan memori 120 GB sedangkan 101-OTU menggunakan memori 60 GB.

Axioo Pico
Jujur, saya agak asing dengan merek yang satu ini. Pertama lihat yang punya temen juga malah pengen ketawa nggak kuat. Soalnya desainnya kecil, lucu dan menggemaskan. Sedangkan bobot temen saya sendiri nggak bisa dibilang ringan. Jadi saya ketawa karena bobot temen saya hehe…
Dilengkapi prosesor intel atom N270, 1 GB RAM, memori 160 GB, layer 10,2 inch, 3 cell battery. Boleh juga nih!

MSI Wind
Netbook ini banyak dibicarakan di forum-forum. Speknya memang mumpuni. Intel atom, 120 GB, Bluetooth, 6 cell battery. Desain MSI Wind sama dengan Axioo Pico seri DJM karena (katanya) satu pabrik. Tapi walau begitu, spek MSI Wind tentu menang kalo diadu dengan Pico.


Ya, saya berpusing-pusing ria kali ini. Sebenarnya untuk memilih sangatlah gampang. Hanya yang saya pusingkan adalah budget (iya, Mang Dana dan Bi Aya). Dengan budget terbatas saya harus bias beli netbook dengan spek yang bagus, minimal lumayan lah.

Dari semua pilihan yang hadir daan menggoda, saya prioritaskan dulu yang realistis. Dari sekian rekomendasi ternyata Axioo Pico yang paling realistis dalam masalah harga. Bayangin, harganya ada di kisaran 4,5 juta. Desainnya juga sama dengan MSI Wind. Apalagi temen saya ada yang pake dan sejauh ini Pico temen saya so far so good, nggak ada masalah. Waktu itu dia beli di kisaran 4,7 jutaan.

Untuk membunuh rasa pensaran saya terhadap Pico, saya browsing lagi. Dan saya dikejutkan oleh kenyataan bahwa Pico telah meraih 5 penghargaan nasional dan internasional. Bahkan di sebuah majalah komputer ternama, PICO DJM 616 meraih gelar laptop of the year 2008! Saya hanya bias bengong dan berkata, “beneran ini teh?”

Masih nggak percaya juga, saya browsing ke forum-forum dan blog orang-orang yang sekiranya punya Pico. Hasilnya? Ternyata saya memang harus beli Pico gimanapun juga. Ternyata netbook ini kecil-kecil cabe rawit! Resolusi layarnya 1024x600, layarnya 10,2 inch, memori paling besar di kelasnya, dan dengan harga 4,5 juta saya pikir Pico layak jadi pilihan saya. Maklum mahasiswa, jadi harus mikir dua kali. Apalagi netbook ini akan saya beli dengan hasil keringat sendiri walau pada akhirnya tetap ada intervensi dari orang tua hehe…

Kebetulan ada pameran computer di Landmark Braga, jadi aja sekalian cari info. Memang bener, kata tukang stand-nya kalo Pico ini banyak diminati terutama yang seri DJM 616. waktu ke pameran saya pengen langsung DP aja, tapi ternyata doku saya gak cukup alias masih kurang untuk membawa pulang Pico. Maka saya pulang ke rumah dan konsultasi dengan ortu. Akhirnya ortu bersedia menambah kekurangan uang saya. Yes, akhirnya Pico bakal saya bawa pulang.

Namun ternyata kenyataan berkata lain. Ketika saya akan membeli Pico seri DJM, stoknya udah abis. Saya ubek BEC, Be-Mall, pameran, semuanya udah abis. Ada juga seri DJM 612 yang memorinya 120 GB. Wah, nanggung banget nih. Dan si penjaga toko ngasih alternative gimana kalo Pico seri DJJ 615 aja. Well, sejujurnya saya udah fallin’ in love sama Pico DJM 616 terutama desain dan resolusi layarnya. Itu yang bikin saya ngebet banget. Namun apa daya, stoknya emang udah abis. Bahkan saya baca di Koran kalo Pico seri DJM 616 udah sold out alias semua produksinya kejual habis! Wow!

Ya sudahlah, saya nggak bisa keukeuh. Akhirnya dengan ikhlas saya beli Pico DJJ 615 yang harganya sekitar 4,7 (nambah 200 ribu). Well, secara desain emang kalah jauh sama seri DJM. Resolusi layar masih di bawah DJM. Tapi seri DJJ ini netbook yang punya spek edun pisan lah. Bayangin aja, harddisknya 250 GB! Netbook lain belum ada yang punya harddisk segini gede. Terus dilengkapi modem internal, jadi bisa internetan pake 080989999 (walau memang udah nggak zaman).

Untuk mengetik memang perlu adaptasi lagi. Keyboardnya nggak kayak Pico seri DJM yang tuts-nya timbul. Seri DJJ tuts-nya datar alias rata. Tombol shift ada dua, di kiri dan kanan. Terus ukurannya kecil sehingga agak sulit kalau ngetik. Saya udah beberapa kali salah ngetik karena masalah keyboard. Tapi mungkin ini masalah adaptasi saja.

Untuk membuka aplikasi semisal word atau yang lebih berat semisal Corel Draw X3, nggak ada masalah. Lancar aja. Tapi untuk yang lain semisal wi-fi, atau modem internal saya belum coba. Urusan suara alias program kayak musik atau video dengan winamp, suara yang duhasilkan bener-bener halus dan nggak pecah. Beda sama seri DJM yang suaranya pecah kalo nggak pake headset. Cuma emang suaranya nggak kenceng kayak pake PC. Suaranya halus banget pokoknya.

Well, secara keseluruhan untuk ukuran netbook Pico udah lumayan lah. Dengan harga yang terjangkau, fasilitas yang kita dapet udah lebih dari cukup. Walau di beberapa bagian emang rada ganjel, but it’s ok. Dan yang terpenting netbook ini sesuai dengan body saya hehe…


Gambar: www.axioo-shop.com