Monday, April 30, 2007

Menjelang 30 April 2007

Malam ini, setelah pulang dari Garut untuk menemui adikku dan memberikan formulir AFS (U know that, hah?), badanku pegal-pegal dan dada kanan terasa nyeri. Entah kenapa. Rasanya seperti diinjak-injak sepatu bot. Sakit sekali. Aku pikir ini gejala masuk angin dan panas dingin karena jaket yang kukenakan terlalu tipis untuk sebuah perjalanan luar kota. Dengan mengadopsi gaya motoGP, aku gas motor sekencang mungkin tanpa tahu seberapa besar tekanan angin Garut. Sempat juga balapan dengan motor yang di bore-up.

Setiba di rumah, biasa saja dan tidak ada yang berubah. Semuanya serba terkendali. Namun memasuki pukul 20.00 dada kanan terasa sakit dan kepala sedikit pusing. Tadinya aku ingin melanjutkan proyek novel. Namun karena tekanan yang begitu kuat, aku tak bisa dan terpaksa menyerah di kasur. Mataku terpejam dan tanganku memegangi dada. Syukurlah pagi hari semuanya kembali normal, termasuk organ tubuhku.

Oya, sebelum aku tidur ada seseorang mengirimku SMS. Aku tak tahu dia siapa dan dari mana asalnya. Namanya Junie. Katanya dia seorang secret admirer. Bagi kalian yang tahu akan keberadaan orang ini, harap hubungi aku. Atau kalo si Junie ini baca tulisan di blog ini, tolong ngaku aja deh siapa. Daripada bikin orang mati penasaran dan ngabisin pulsa cuma buat nelfon tapi nggak mau ngomong.

Isi SMS-nya kayak gini: Udh bo2 blom? Mf ganggu. Singkat, padat dan nggak jelas. Tiba-tiba aku teringat kalau malam ini, tepat pukul 00.00 usiaku akan bertambah 1 tahun. Dari yang tadinya 18 tahun jadi 19 tahun. Horeee...aku ulang tahun heu...heu...

Biasa aja dan nggak ada yang istimewa—memang selalu begitu dari tahun ke tahun. Nggak ada perayaan atau tiup lilin. Nggak ada kue tart dan kartu undangan. Cukup dirayakan di dalam hati saja. Namun ucapan met ultah dari temen-temen adalah kado yang paling berkesan buatku. Even they didn’t send me a gift, they gave a big surprise!!!

Pagi-pagi bangun dan liat LCD HP. Kosong dan tidak ada pesan atau miskol dari siapa pun. Kacian deh lo!!! Yasuw aku pergi ke kamar mandi buat wudhu and Sholat subuh. Dingin banget euy airnya. Nah setelah Sholat, ujug-ujug HP bunyi dan ada 2 SMS yang dateng. Yes, ni pasti dari mereka. Aku buka 2 SMS tersebut. Satu dari Zames dan satu lagi dari si Iqbal. Isinya tentu saja ucapan met ultah yg ke-19. tak lupa, setiap ada orang yang ultah temen-temen pasti aja minta traktir. Kalo nggak traktir ya acara babakaran alias bakar-bakar ayam. Wuaduh,,,bukannya nggak mau niy. Tapi financial lagi buruk niy. Apalagi ultahnya jatuh ketika tanggal tua huhuhu...

Setelah 2 SMS tadi, datanglah SMS baru. Kali ini dari Neu. Mau tahu isinya? Ini adalah layanan telkomsel call me. Nomor 08521xxx meminta anda segera menghubunginya. Lho??? Kok iso? Duh, ada-ada aja. Orang-orang pada ngucapin met ultah dia malah CM.

Setelah itu, SMS bertubi-tubi datang dari para sahabat, orang terdekat, kakang prabu, Dede-Qu pokoke semuanya deh. Susah kalo disebutin satu-satu. Pas aku SMS sama c Dede-Qu ini, isi SMS-nya lucu banget. Mau tahu? Ini dia:


To: Dede-Qu

Message: Dede nggak ngucapin hari ini ke kakak?

Report: Delivered


From: Dede-Qu

Message: Ngucapin apa?


To: Dede-Qu

Message: Skrg kan tgl 30 niy...masak g tau siy...???

Report: Delivered


From: Dede-Qu

Message: memang skrg tgl 30


To: Dede-Qu

Message: Hr ini kan ultah ka2k…ayo donk ucapin…

Report: Delivered


From: Dede-Qu

Message: jgn sedih ya kak…


To: Dede-Qu

Message: @#$*^&…mksud De2 apa???

Report: Delivered

From: Dede-Qu

Message: kan jatah hidupnya tepat berkurang lagi 1 taun hehe…


???


Heu...heu...bisa aja ngelesnya. Hmmm...banyak orang yang tanya apa harapan kita untuk tahun ke depan. Kalo aku sendiri pengen cepet-cepet bisa beresin novel GLOBALISUSI yang baru aja nyampe 48 halaman spasi 1. bener juga kata Fahd kalo semua alasan yang aku buat karena belum bisa beresin novel ini hanya sebuah apologi. Fahd juga bilang kalau novel yang aku buat hanya tinggal diselesaikan saja. Apa yang mesti dipermasalahkan???

Kedua, semoga tahun ini aku bisa masuk Fikom Unpad. Ngebet banget nih dari zaman Fir’aun ngaku tuhan. Semoga saja SPMB kali ini aku tidak dipusingkan oleh masalah ehem..ehem...cewek lagi he..he..

Ketiga, pengen pisan lihat ortu senyum waktu tahu anaknya bisa bikin novel. Asal tahu saja, beda banget senyum ortu pas suasana biasa-biasa aja. Tapi pas tau anaknya bisa menang lomba semisal COTW & debat se-kab Garut serta bisa nulis di koran, aku lihat senyuman paling tulus se-dunia. Aku ngerasa itu senyuman penuh harapan dan kemenangan. Rasanya bahagia banget bisa bikin ortu seneng.

Temen-temen, doakan aku ya. Semoga saja ultah ini bisa menghidupkan kembali energi yang telah lama tersimpan. Semoga si raksasa bisa bangun dan membuat kejutan. Semoga bom waktu yang telah lama dipersiapkan meledak dan menggemparkan seluruh dunia. Are you ready for GLOBALIZACKTION??? I’m ready now!!!

Monday, April 09, 2007

Barudak, ada yang bisa bantu aku bikin shoutbox? Udah nge-install tapi ga jadi-jadi terus. Help me!!!

Tuesday, March 27, 2007

REPUBLIK GELISAH

PSIKOTES POLISI

Aku kaget mendengar berita hari ini. Sangat. Aku tak habis pikir negara ini sangat bobrok dengan segala yang ada di dalamnya. Mulai dari sistem pemerintahan, pendidikan, militer, para polisi, anggota DPR dan lain sebagainya. Hari ini, aku sadar bahwa orang Indonesia memang perlu terapi kejiwaan dan sedikit ”jamu” yang bisa membuat orang waras dari sakit jiwanya.

Di televisi, aku mendengar ada bawahan yang menembak mati atasannya. Dan kalian tahu dari institusi mana berita ini datang? Yup, dari institusi bernama kepolisian. Peluru yang disarangkan ke tubuh sang atasan berjumlah sekitar 20 butir peluru. Padahal, setiap polisi hanya dibolehkan memiliki sekitar 18 peluru. Sungguh aneh.

Dari kasus ini, polisi melakukan tindakan preventif berupa tes psikologi bagi para anggota polisi di Semarang. Kenapa di Semarang? Karena kejadian polisi bunuh polisi terjadi di Polda Semarang. Sekitar 200 orang polisi mengikuti tes psikologi untuk mengetahui seberapa besar tingkat pengendalian diri para aparatur negara ini. Lalu, bagaimana dengan hasilnya? Rasanya kita semua harus mengucapkan selamat kepada para polisi yang telah bersedia mengikuti tes psikologi ini. Dari 200 orang peserta, hanya sekitar 15 orang saja yang lulus tes. Selebihnya tidak lulus. Aku tak tahu apakah tes psikologi ini ada tes perbaikan dan remidial. Aku juga ragu apakah 15 orang polisi yang lolos kualifikasi benar-benar murni lulus. Aku takut mereka saling bekerja sama dan nyontek.

Saatnya kita ucapkan selamat kepada para aparatur negara. Mari kita ucapkan selamat. SELAMAT MENUJU KEHANCURAN INDONESIA PAK POLISI!!!


LAPTOP ANGGOTA DPR

Anggota DPR saat ini memang aneh. Aneh kelakuannya. Aneh gayanya. Aneh maunya. Lihat saja kursi kosong di gedung DPR. Kenapa kursi yang dulu mereka perjuangkan mati-matian kini dibiarkan kosong? Kenapa kursi itu dibiarkan kosong? Mungkin mereka telah bosan memperebutkan kursi. Setelah menjadi anggota DPR mereka lebih senang memperebutkan yang lain. Entah itu uang, persepsi pribadi/ golongan dan bahkan (mungkin) wanita.

Kasus skandal sex juga telah mencoreng muka lembaga perwakilan rakyat. Masih ingat kasus video ”binatang” antara ME dan YZ? Itu adalah salah satu kelakuan anggota dewan. Aku juga tidak memungkiri (mungkin) selain YZ masih banyak anggota dewan—sebut saja anggota hewan—lainnya yang coba-coba berbuat dan mencoba perilaku ”hewani” tersebut. Hanya saja tidak ketahuan karena mereka tahu bagaimana merahasiakan skandal sex-nya. Sedangkan YZ tidak tahu bagaimana seharusnya skandal sex yang baik dan benar menurut sudut pandang DPR. Intinya, teman-teman YZ sedikit lebih cerdas dalam merahasiakan hubungan gelapnya. YZ sendiri bisa dibilang agak sedikit terbelakang dalam masalah ini.

Anggota DPR itu latah. Segala-gala ngikut. Peraturan anu ngikutin negara anu. Sistem keamanan ngikut sistem buatan negara anu. Sampai-sampai gaya bercinta ME dan YZ meniru gaya panda hamil ala China.

Tak terkecuali dalam masalah teknologi. Kabarnya, tiap-tiap anggota DPR akan diberi fasilitas tambahan. Dan katanya, fasilitas tambahan ini diinspirasi oleh salah satu acara infotainment di salah satu TV swasta. Tahun ini merupakan era kebangkitan Tukul Arwana. Dia telah menginspirasi DPR untuk kembali ke laptop. Ya, tiap-tiap anggota DPR rencananya akan diberi laptop.

Yang menjadi pertanyaan, apakah dengan gaji anggota DPR sekarang ini mereka tidak bisa membeli laptop dari gajinya sendiri? Apakah gaji yang diterima tidak mencukupi untuk membeli laptop merek terkenal? Apakah anggota DPR masih merasa belum cukup dengan gaji kisaran 15 juta-an perbulan sehingga DPR harus ”menafkahi” mereka dalam urusan laptop?

Pertanyaan tidak hanya sampai di situ. Masih banyak hal ganjil dalam urusan pengadaan laptop ini. Apakah semua anggota DPR telah melek sama teknologi? Kalau belum, lebih baik pihak DPR memfasilitasi setiap anggotanya untuk kursus laptop terlebih dahulu. Bukankah itu lebih bermanfaat. Aku takut jika nanti setiap anggota diberi fasilitas dan tidak tahu bagaimana cara menggunakan laptop yang benar, bisa-bisa ada acara nonton film porno bareng bersama anggota DPR di laptopnya masing-masing. Bukankah ini sangat membahayakan negara? Betul tidak ibu-ibu?

Bayangkan, laptop yang akan diterima tiap anggota harganya sekitar Rp 21.000.000,00. Wow, harga yang sangat fantastis untuk ukuran sebuah laptop. Jika dibandingkan dengan harga motor bebek yang paling bagus pun masih kalah.

Roy Suryo, pakar di bidang IT mengatakan, ”Untuk ukuran laptop, harga 21 juta itu sungguh harga yang sangat fantastis. Bahkan, dengan harga 7-8 juta pun pemerintah masih bisa mendapatkan laptop dengan kualitas dan merek terkenal”.

Namun alhamdulillah sekali ternyata eh ternyata si laptop ini nggak jadi dikasihin sama anggota DPR karena banyaknya reaksi yang menolak. Kita juga sebagai rakyat mesti mensyukuri gagalnya ”peristiwa” terbodoh dalam sejarah Indonesia ini. Kita bersyukur sekaligus mensyukuri semua anggota DPR akhirnya tidak terjerumus pada kasus yang sedikit kontroversial. Dengan keputusan ini, semoga saja nonton bareng film ”esek-esek” berdurasi ± 20 detik di DPR tidak terjadi. Semoga anggota DPR jadi sadar dan membelanjakan sebagian gajinya untuk beli laptop. Semoga kasus yang lebih bodoh dari ini—semisal pembelian pesawat terbang untuk masing-masing anggota dewan—tidak lagi terjadi di negara Indonesia. Semoga saja.

Jika masih bisa dapat laptop dengan harga murah dan kualitas bagus, mengapa harus bayar lebih mahal???? Kan sisanya untuk korupsi, mark up dan kepentingan pribadi. Tolong jangan bilang KPK soal kasus ini. Nanti aku kasih kamu 5% dari pengadaan laptop ini, OK?



IRONI GRANDMASTER


Pagi ini, sebelum aku berangkat kuliah, seperti biasa ayahku udah stand by nonton TV.
Eits, jangan salah dulu. Babeh isnt watching a rubbish programe. He is watching some news. Menurut penelitian, laki-laki cenderung mahluk yang tidak sabar, mudah bosan pada sesuatu dan lebih senang menggonta-ganti channel TV. Intinya, ayahku termasuk orang yang nggak bisa setia sama satu stasiun televisi.

Ketika ada berita penting di Metro, dia ganti channel dari RCTI ke Metro. Terus, kalo di Metro beritanya bosenin dia ganti channel ke Trans TV. Seperti itulah siklus pergantian berita menurut sudut pandang Babeh.

Ketika ada berita mengenai anak-anak umur 10 tahun yang menjadi grandmaster catur tingkat ASEAN, Babeh jadi penasaran dan mulai ”memanas-manasi” adikku yang duduk di kelas 5 SD agar dia juga termotivasi. Karena rasa penasaran segede gunung dan sedalam lautan (alaaachh...) Babeh nggak gonta-ganti channel lagi. Dia mencoba untuk ”setia” dan ngajanteng buat nonton SCTV.

Setelah lama menunggu akhirnya berita tersebut muncul ke permukaan. Di sana tampak sang presenter (Bayu Sutiono kalo gak salah mah) sedang duduk di hadapan seorang anak kecil bernama Masruri. Kalo ga salah sih yang namanya Masruri ini masih duduk di kelas 6 SD. Orangnya sedikit pemalu, tidak terlalu blak-blakan, wajahnya tidak dewasa, gaya bicaranya sederhana dan dia tidak kuliah (ya iyalah....secara dia masih SD!).

Bayu Sutiono sebagai presenter mulai mewawancarai Masruri. Ternyata Masruri ini sangat berbakat jadi pecatur. Dia pernah jadi Grandmaster catur anak-anaak se-ASEAN. Pernah juara tingkat nasional. Pernah juara tingkat anu di anu. Pernah menyabet piala anu dan segudang prestasi lainnya. Hebat sekali. Gue aja sampe iri sama dia.

Ternyata sang presenter orang yang sangat kreatif. Selain wawancara dan tanya jawab serta jawab-tanya (kok kayak yang sama ya??? Bedanya apaan sih?), Bayu menantang Masruri bermain catur cepat (blitz) di depan kamera TV. Dan, siapakah pemenangnya? Kalian pasti udah bisa nebak JRENG....JRENG....JRENG......Ya dialah Masruri. Percaya ato nggak, Masruri naklukin Bayu hanya dalam beberapa langkah. Its AMAZING!

Setelah itu, berlanjut pada sesi wawancara lagi. Pada sesi kali ini, Bayu lebih mengarahkan pertanyaan ke masalah kesejahteraan Masruri dan keluarganya. Ternyata kesejahteraan Masruri tidak bersinar layaknya prestasinya di bidang catur. Masruri tinggal di pinggiran ibukota. Hidupnya sangat memprihatinkan. Selepas pulang sekolah dia harus membantu ibunya berjualan. Keluarganya sangat pas-pasan. Bahkan jika keluarganya ingin melihat dia bertanding, maka ibunya harus mencari pinjaman sana-sini. Dan yang lebih mengagetkan lagi ketika Bayu bertanya:


Memang berapa uang yang kamu peroleh ketika menjadi grandmaster di Jakarta?”

”Waktu itu saya dapet piala. Saya berharap waktu itu mendapat uang. Tapi ternyata tidak. Akhirnya, saya pulang dari Ancol ke rumah jalan kaki”.


Kalian denger kan? Dia jalan kaki setelah menjadi Grandmaster dan mengharumkan nama bangsa di pentas dunia!!! Sungguh pengorbanan yang hebat! Ini yang harus dicontoh.

Aku nggak bisa bayangin, sebenernya tugas menpora itu ngapain sih? Masak orang yang udah jelas-jelas ngebela bangsa dibiarin gitu aja. Sementara ”spesies” semacam Nurdin Halid—sang koruptor kasus gula impor dan pernah mendekam di penjara ketika ia masih menjabat—dipertahankan sampai saat ini sebagai ketua PSSI. Apa menpora nggak peduli sama nasib anak ini dan lebih mengutamakan koruptor? Aku rasa ini adalah hal terbodoh untuk kesekian kalinya yang dilakukan pemerintah. Pemerintah itu lebih banyak bodohnya daripada pinternya. Kapan ya pemerintah kita bisa cerdas???

Kembali lagi ke masalah wawancara tadi. Melihat fakta seperti ini, Bayu menyeru pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib atlet. Juga menyebut menpora Adhyaksa Dault bertanggung jawab atas kasus semacam ini jangan sampai terulang lagi.

Hmmm...ini baru kasus atlet catur. Mungkin di luar sana masih banyak Masruri-Masruri lainnya dan berprestasi di bidangnya masing-masing. Semoga kasus seperti ini menjadi pelajaran dan menjadi cambukkan bagi bangsa ini supaya lebih peka terhadap nasib rakyatnya. Rakyat yang baik tidak pernah mempermasalahkan seberapa besar pemberian dari penguasa. Namun penguasa yang goblok tidak pernah memberi nafkah terhadap rakyatnya walaupun sang rakyat telah berjasa!!!


Bandung, 27 Maret 2007

Skak matt!!!

Thursday, March 08, 2007

ATHEIS G*BL*K!!!

Percakapan ini diinspirasi dari kisah nyata selama gue ikutan pesantren mahasiswa Unisba di Ciburial tercinta hweu…2007x. Bagi sebagian orang yang merasa tersinggung dengan percakapan ini, harap kasih comment yang lebih rasional dan logis. Dan bagi para atheis di seluruh dunia khususnya di Indonesia, gue tantang kalian untuk menjadi tuhan (memakai “t” kecil, bukan dengan “T” besar) jika kalian terus memepertanyakan siapa itu Tuhan.

Dengan senang hati, gue memakai nama asli aja deh daripada pake nama samaran atau nama popular. Kenapa? Karena biar lebih gentle aja. Ajang debat kali ini harus bener-bener debat usir antara dia sama gue. TITIK.

Perdebatan ini melibatkan satu mahasiswa dari fakultas Syariah (Zakky) yang lucu dan imut hweu…2007x. Sedangkan lawannya adalah mahasiswa fakultas Hukum (Aries) yang (maaf) sangat menyedihkan huhuhu….


Aries : Zak, kamu percaya Tuhan gak?

Gue : Percaya.

Aries : Terus, apa buktinya Tuhan itu ada?

Gue : Banyak. Dunia ini salah satu contohnya.

Aries : Tuhan keliatan ga?

Gue : Ya nggak atuh.

Aries : Berarti Tuhan nggak ada. Bener ga?

Gue : Ya nggak atuh.

Aries : Terus, kalo ada mana buktinya? Buktinya Tuhan gak keliatan.

Gue : Ya iyalah gak keliatan. Kita kan Cuma mahluknya. Jadi yang punya kuasa atas segala sesuatu hanya Tuhan sendiri (mencoba untuk tidak emosi—sabar).

Aries : Gini, sesuatu yang ada berasal dari yang ada pula. Nggak mungkin sesuatu berasal dari ketiadaan. Bener, kan?

Gue : Ya.

Aries : Berarti Tuhan itu nggak ada. Karena Tuhan itu nggak keliatan.

Gue : (Nih orang mikirnya pendek banget ya.) Lho? Kata siapa? Al-Quran udah cukup bukti nunjukkin ke kita kalau Allah itu ada.

Aries : Gue nggak percaya Quran. Persetan dengan Quran. Semua yang ditulis di Quran itu bohong! Dan Muhammad adalah si pembohong!!!

Gue : (Darah gue udah mendidih nyampe 400) Sebentar! Bisa dijelasin kenapa lo ngomong kayak gitu?

Aries : Huh! Quran itu Cuma buatan manusia bernama Muhammad. Bisa aja dia itu membuat Quran untuk membodohi bangsa Arab supaya meraih kekuasaan di Arab. Gue juga nggak percaya sama isi Quran! Quran itu Cuma perkataan Muhammad!!!

Gue : (Kalo body gue gede, gue udah hajar tuh orang jelek bernama Aries. Sayangnya body gue kecil huhuhu…) Lho? Quran kan udah ngejamin bahwa nggak ada seorangpun di dunia ini yang bias bikin ayat semisal Al-Quran walopun lo sekongkol sama professor jahat sekelas Robert Morey (im sure you know who I mean, right?) bahkan kalo lo sekongkol sama jin sekalipun, lo ga bakal bisa bikin ayat yang nandingin Quran!

Aries : Persetan sama Quran!!! Bisa aja kan Muhammad bikin ayat kayak gitu supaya manusia nggak kreatif dan tidak membuat ayat baru. Nah itulah yang dinamakan pembodohan! Gue juga nggak percaya kalo Muhammad itu nabi! Muhammad itu Cuma maniak seks! Istrinya aja ada 9. Ini nandain kalo dia itu maniak seks!!!

Gue : (Ya Allah, si buruk rupa ini telah memfitnah nabi gue dengan sedemikian keji! Gue kaget banget ada anak semester 1 yang bilang kayak gini. Gue tahu, kayaknya anak yang bernama Aries ini cemburu sama nabi karena nabi punya istri 9 sedangkan si Aries sendiri cintanya ditolak sama cewek. Huhuhu…malangnya nasibmu. Sudah malang, berwajah buruk rupa, menghina orang pula. Sungguh nista dan tidak sportif…) Ya nggak dong. Muhammad nggak kayak gitu! Apa kamu tahu latar belakang kenapa nabi mempunyai istri 9?

Aries : Ah, persetan! Sekali maniak tetep maniak seks!

Gue : Ya nggak gitu. 8 dari 9 istri nabi adalah janda. Kalo misalnya nabi itu maniak seks, kenapa dia nggak nyari yang perawan aja buat dikawinin? Kenapa harus yang janda? Ini bukan masalah maniak atau nggaknya. Nabi melakukan hal ini karena berkaitan dengan tugas kerasulan.

Aries : Mau bukti apa lagi? Terus, kamu tahu pas nabi dapet wahyu di Gua Hira? Gua Hira kan kecil terus dating malaikat Jibril dari belakang seraya mendekap nabi. Itu berarti nabi homo sama malaikat!!!

Gue : (Goblog!!! Ini yang ngomong orang atau cucunya iblis sih? Darimana dia bisa tahu malaikat punya kelamin? Apa dia dokter spesialis kelamin Malaikat?) Kata siapa? Itu konteksnya beda. Kayak gini aja, ada ayat yang artinya : tangan Allah berada diatas tangan mereka. Apa di sini secara nyata Allah punya tangan layaknya manusia? Nggak kan? Arti tangan di sini berarti kekuasaan, bukan tangan layaknya tangan manusia.

Aries : Alah, sebodo amat! Gue nggak percaya sama Tuhan!

Gue : Kalo kamu nggak percaya sama Tuhan, terus kenapa kamu Shalat? (Mencoba untuk mematahkan serangan bertubi-tubi yang dibangun oleh si muka jelek)

Aries : Y ague mah olah raga aja Sholat teh (dengan wajah santai dan tanpa dosa ia bilang seperti itu!!!)

Gue : (Anjr**t!!! Jadi selama ini Sholatnya cuma buat olah raga aja??? Gue udah ngerasa terhina dengan semua omongan ini!!!) Terus, apa yang kamu rasakan setelah Shalat?

Aries : Ya seger lah. Namanya juga olah raga (dengan tanpa dosa ia berkata seperti itu).

Gue : Terus, ngapain kamu Shalat tapi nggak percaya Tuhan?

Aries : Ya konsep hidup saya memang beragama, tapi saya tidak mengakui Tuhan.

Gue : Ooo….(gwelo banget nihy orang. Ngelesnya jago banget!!!)

Aries : Tuhan itu ada karena manusia ada!

Gue : OK, gue terima pendapat lo. Sekarang kita berdua nggak usah bawa-bawa Al-Quran lagi kalo ngobrolin masalah logika. Kalo ngobrolin masalah logika kita pake logika dan akal sehat, key. Bukan akal busuk!

Aries : OK.

Gue : Baik. Sebagai manusia gue punya landasan hidup dan keyakinan. Gue mau Tanya, landasan hidup lo apa?

Aries : Ya landasan hidup gue ya diri sendiri.

Gue : Diri sendiri? Maksudnya?

Aries : Ya landasan dan dasar hidup gue ya diri gue sndiri!

Gue : Hmmm,,,landasan hidup yang aneh! Kalo gue udah punya landasan hidup yaitu Quran dan Sunnah. Umat Kristen punya bible. Nah lo sendiri apa?

Aries : (Diam…tak berkata sepetah kata pun…bingung)

Gue : Ya udah, kalo lo bingung dan nggak percaya Tuhan gue Bantu lo buat nemuin dasar hidup lo (gimana nggak baiknya seorang Zakky? Temen yang udah bikin dia panas hati aja masih mau dikasih bantuan). Nih, gue punya kertas sama pulpen. Sekarang, kalo lo masih beranggapan Muhammad itu pembohong dan Quran itu palsu, gue minta lo bikin wahyu sendiri.

Aries : (Diam…bingung…tidak ada kata yang ia ucapkan)

Gue : Kalo lo emang ngerasa paham lo paling bener, pastinya lo punya dasar yang kuat. Nah, gue tawarin lo bikin wahyu saat ini juga!

Aries : (Maka mulailah si orang jelek ini menuliskan wahyu di atas secarik kertas putih bersih dan suci. Seolah-olah ia sedang menodai kesucian dan keperawanan sang kertas huhuuhu… Dan tahukah kalian apa yang ia tulis?) “Manusia itu diciptakan dari tanah melalui proses bertemunya ovum dan sperma”.

Gue : (Ha…ha…ha…Orang ini goblog ato emang udah keturunan jadi bodoh ya?) Sorry, bukannya gue nggak interest sama wahyu yang lo bikin. Sorry fren, kalimat kayak gini udah ada di surat Al-Mu’minun ayat 12-14. Jadi dengan kata lain, kamu dengan sangat tidak teliti dan semena-mena telah mencoba untuk memplagiat ayat-ayat Quran.

Aries : Mmm…plagiat itu apa?

Gue : (Ha…ha…ha…Tuh kan? Apa kubilang? Orang ini udah dari sononya gebleg) Plagiat itu artinya ngejiplak hak cipta orang lain. Ibarat lo bikin lagu terus dijual. Eh tiba-tiba orang mulai ngebajak lagu lo!

Aries : Ya gue nggak percaya sama Quran!!! Quran itu bohong! Muhammad itu bohong!!!

Gue : (Dia mengalihkan pembicaraan. Dan ini adalah salah satu strategi mereka supaya kita dibikin nggak focus) Sebentar dulu goblog! Lo jangan jelek-jelekin orang lain! Gue juga bisa nyebut lo wajah buruk rupa dan kulit hitam kusam!!! Sekarang, lo jawab pertanyaan gue: Lo ngejiplak kalimat ini dari Quran kan? Jawab ya ato tidak!!!

Aries : (Diem dan mikir panjang. Dan dengan malu-malu bagong, akhirnya dia menganggukkan kepala tanda YA!)

Gue : (Hore…berhasil…berhasil…hore!!! Akhirnya lo ngaku juga) Sekarang gini. Lo bilang tadi kalo lo nggak percaya sama Quran kan?

Aries : Ya.

Gue : Lo sendiri ngambil dasar dari Quran. Apa lo nggak malu?

Aries : (Diem)

Gue : Gini, lo kan nggak percaya sama Quran dan menganggap Quran itu salah. Bener kan?

Aries : Ya.

Gue : Wahyu yang lo bikin sama persisnya dengan Quran surat Al-Mu’minun ayat 12-14. Berarti wahyu yang lo bikin sama salahnya denga Quran. Bener kan?

Aries : Pokoknya gue nggak percaya Quran. Muhammad itu bohong!!! Bla…bla…bla…

Gue : OK, OK, OK!!! Kita udah sepakat jangan pernah ngehina, key? Kita udah sepakat!

Aries : (Diem + nyengir kuda = mahluk buruk rupa)

Gue : Sekarang lo tinggal jawab pertanyaan gue, secara logika wahyu yang lo buat sama salahnya kan dengan Quran? Jawab YA atau tidak!

Aries : (belepep…belebep…hanya menganggukkan setengah kepalanya tanpa rasa ikhlas dan sportif menerima kekalahan)

Gue : Nah, gitu dong! Kalo salah ya ngaku salah. Kalo bener ya ngaku bener! (Tapi kalo wajah lo jelek ngaku jelek, mendingan gak usah ngaku di depan gue and temen-temen. Nggak ngaku juga gue ama temen-temen udah tau kalo lo tuh emang jelek! Mendingan lo ngaku di infotainment aja. Itu jelas sebuah sikap yang berani dan gentleman, Ris. Hwa…hwa…hwa…).

Aries : (Diem + mata tajam tak menerima kekalahan = wajah iblis!)

Gue : Gue berani jadi pengikut lo, asal lo bener! Gue nggak mau jadi pengikut orang-orang liuer kayak lo! Beresin dulu otak lo, baru ngomong!


Based on a true story. Based on true person. Based on a true location. It so real…


Ada lagi satu kisah yang sangat bodoh untuk diketawain bareng-bareng. Begini cerita temen gue….


Aries : Ga, lo percaya Tuhan?

Rangga : Percaya.

Aries : Tuhan keliatan ga?

Rangga : Nggak.

Aries : Berarti Tuhan nggak ada.

Rangga : OK. Lo punya otak nggak?

Aries : Punya.

Rangga : Otak lo keliatan gak?

Aries : Nggak.

Rangga : Berarti lo nggak punya otak!

Aries : …..????


Hweu…hweu…hweu…Orang gebleg mencoba untuk menghilangkan Tuhan dengan rasio dangkal? Subhanallah sekali ya si orang gebleg tersebut huhuhu…


Gw kasih tips untuk lebih mengenali orang-orang atheis tapi bermuka dua. Maksudnya, mereka nggak percaya Tuhan tapi masih melakukan ibadah yang didalamnya justru mengagungkan Tuhan sendiri. Mereka pengen ngehancurin agama Islam dari dalam dan membentuk islam baru menurut sudut pandang mereka. Ini dia tipsnya :

  1. Sikap baik, ramah lingkungan dan bebas polusi. Maksudnya, kesan mereka itu baik, sopan dan selalu peduli. Hati-hati ya orang yang first impression-nya kayak gini. Tapi bukan berarti buruk sangka dunk…

  2. Hati-hati kalo udah nyerempet masalah Aqidah. Biasanya mereka memulai pertanyaan dengan kata-kata seperti ini : “kamu percaya nggak Tuhan itu ada?” atau “Benar nggak sesuatu itu berasal dari yang ada?” atau “kamu masih percaya sama Muhammad dan agama?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuat kalian seakan-akan disentil keimanannya.

  3. Jika kalian sudah masuk perangkapnya, pertama-tama yang akan dikuasai adalah emosi kalian. Kalian akan dibuat marah dan kesal oleh hinaan dan cacian mereka terhadap Tuhan, nabi dan agama. Semisal : Tuhan itu ada karena manusia ada (yang ini kayaknya nyontek dari album RADJA. Kesimpulan gue, orang-orang atheis itu salah satu penggemar RADJA huhuhu…). Agama itu candu dan membuat bodoh manusia dan lain sebagainya.

  4. Kalo emosi kalian udah kena, kalian nggak bisa berpikir rasional lagi. Dan bahayanya, pola pikir kalian akan dibentuk dan didoktrin sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kehendak mereka.

  5. Jika berargumen, jangan sekali-kali pakai dalil Quran atau hadits. Karena mereka itu orang-orang yang nggak berpendidikan agama (kan gue udah bilang, Iqro 1 aja belum tentu tamat, apalagi khatam Quran). Percuma mulut kalian berbusa-busa ngeluarin dalil tapi nggak dianggep.

  6. Pakai logika dan akal sehat, bukan akal bususk! Ikuti kemana ia membawamu pergi dan ketika ada kesempatan, ubahlah skor akhir menjadi 2-1 untuk keunggulan kita.

  7. Jangan mau kalah kalo ngomong sama orang gebleg semisal si Aries. Kalo lo nggak aktif, mereka akan menguasai jalannya pertandingan.

  8. Jangan lupa, kendalikan emosi dan membaca doa sebelum tidur (Lho? Kok iso?)

  9. Kalo lo ngerasa nggak bisa nandingin mereka, minta bantuan sama para ahli semisal dukun atau paranormal buat nyantet mereka hweu…2007x. Nggak ketang. Cari temen yang bisa diajak debat masalah kayak gituan. Soalnya ini akan sangat berakibat fatal terhadap masa depan bangsa dan Negara. Selamat mencoba tips dari gue…..


Si Aries itu termasuk golongan manusia yang kalo ada razia muka jelek pasti dia kena tilang sama petugas pembersih muka blangsak hwa…hwa…Sorry Ries gue sengaja. Gue nggak percaya sama lo karena:


  1. Omongan lo ngaco

  2. Nantangin Tuhan padahal lo sendiri ciptaan-Nya

  3. Belagak dan sombong. Padahal khatam Quran dan Iqro 1 juga kayaknya belom

  4. Ilmu lo dangkal dan Cuma ngandelin logika doang

  5. The last, muke lo blangsak dan tidak memenuhi standar yang meyakinkan untuk mencapai sebuah derajat kegantengan yang agung. Gue saranin ya, daripada lo nyari mangsa buat dapetin pengikut yang bisa lo doktrin semau lo, mendingan lo mulai benahin muke lo yang sangat mengkhawatirkan itu. Sekali lagi gue yakin, kalo ada razia wajah jelek lo pasti ketangkep!


Kalo lo ngerasa jago buat debat tentang Tuhan, jangan cari mangsa orang awam dan yang nggak paham masalah agama dan Tuhan. Cari orang yang seimbang dan tahu banyak soal Tuhan!


Note: Kejadian ini nyata dan benar-benar terjadi. Jadi bagi kalian yang belom pernah ngalamin hati-hati karena mereka bergentayangan di sekitar kita. Let save our generation!!! We haven’t much time to spend our time!!!

Friday, January 26, 2007

INFANTILISME

Umurku sudah delapan belas tahun. Orang bilang umur segini tuh saatnya ngerasain hidup yang sebenernya. Aku harus bisa ngerasain gimana kerasnya hidup. Aku harus lebih sensitif lagi terhadap masalah-masalah di sekitar. Aku mesti—mau gak mau—peduli terhadap kahidupanku. Gak boleh lagi kayak SMA. Dan tentunya, aku harus bisa merasakan beban yang ditanggung oleh orang tua.

Mungkin seperti itulah hal-hal yang sering dipikirkan orang delapan belas tahunan. Nggak jarang dari kita langsung milih kerja daripada kuliah. Ada juga yang lebih mentingin kuliah daripada kerja. Bahkan ada yang dua-duanya. Kayaknya, fenomena kayak gini timbul dari kesadaran kita semua sebagai mahluk 18 tahun—sebut saja seperti itu—dan didasari oleh berbagai faktor.

Apa hal itu salah? Aku pikir nggak ada yang salah dengan semua itu. No problemo lah. Justru di situlah tingkat kedewasaan kita diuji, apakah kita berani mengambil keputusan dengan segala resiko yang ada? Atau kita lebih memilih titik aman dan terus menunggu waktu yang tepat dalam memilih keputusan.

Nah, sekarang gimana sama aku sendiri sebagai ”mahluk” yang telah berkeliaran selama 18 tahun di bumi tercinta ini? Mana yang aku pilih sebagai jalan hidup? Hmmm...sebenernya aku juga bingung.

Terus terang, sampai saat ini aku kadang—bahkan sering—terserang infantilisme. Tepatnya gejala ke-kanak-kanakan yang menyerang orang dewasa. Setiap hari, aku tak pernah lewat untuk tidak menyaksikan Spongebob squarepants. Entahlah, aku juga bingung. Namun, aku memang penggemar berat Spongebob. Beberapa hari kemarin, wallpaper di HP-ku bergambar spongebob. Bahkan, aku umumkan kepada beberapa temanku kalau spongebob adalah pahlawanku hwa...hwa...hiperbolis banget ya.

Sejak kapan aku tergila-gila pada spongebob? Hmmm...pertanyaan yang sulit dijawab. Aku pun tak tahu. Mungkin dari pertama kali muncul di TV aku sudah menyukainya. Spongebob memberiku banyak inspirasi dalam berpikir. Tingkah konyolnya sangat penting untuk direnungkan—daripada sekedar ditertawakan. Dia adalah tokoh kartun yang paling aneh yang pernah aku tonton. Dan Patrick—sahabat spongebob—adalah tokoh tertulalit namun intelek. Lho? Bingung, kan? Sama, aku juga bingung. Tetapi baguslah kalo kalian bingung. Kalo nggak bingung, berarti ada yang aneh dengan diri kalian.

Sebenarnya, aku tidak hanya menyukai Spongebob. Aku juga penggemar Jimmy Neutron, Chalkzone, Over the Hedge, Ice Age dan beberapa film kartun lainnya. Aku seneng kartun. Dan setiap hari aku menonton film tersebut bersama adikku. Biasanya sih sehabis pulang kuliah (jangan bilang siapa-siapa ya kalo kelakuanku seperti ini...).

Ada satu peristiwa yang nggak bisa aku lupain kalo ngobrolin soal kartun. Beberapa bulan kemaren pas film kartun Over the Hedge diputar di bioskop, aku bersama gebetan nonton bareng Over the Hedge. Bukan aku nggak mau nonton yang romantis—saat itu kalo ga salah HEART masih diputar—, tapi aku emang pengen banget nonton Over the Hedge. Aku juga sempet tanya sama dia, ”Neng, mau nonton apa?”. Dia jawab apa coba? ”Terserah Kiki aja, deh. Pokoknya Neng ikut aja”. Yasuw kalo gitu. Mumpung si Neng bilang ”terserah”, aku pilih aja Over the Hedge. Dan apa reaksi si Neng? Dia biasa aja tuh. Mungkin jaga sikap kali, ya.

Pas film diputer, aku sama si Neng ngakak abis ngeliat tingkah lucu dan innocent tokoh-tokoh kartunnya. Pokoknya nih film gue banget, deh. Trus, gimana romantisan-romantisannya dunk? Duh, boro-boro romantis-romantisan. Yang ada gue sama dia ketawa-ketiwi terus. No time for romantic if you see me watching cartoon, key?

Dan temen-temen gue juga udah mafhum sama tingkah aneh gue. Mereka juga udah pada tau kalo selama ini seorang Zakky terserang penyakit aneh yang dibawa oleh Spongebob ke dalam otaknya sehingga mengakibatkan beberapa komponen otaknya mampu berpikir aneh dan kadang berpikir lain daripada orang lain. Spongebob dkk. telah memberi warna baru bagi pola pikirnya. Terkadang kelakuannya pun seolah meniru tokoh kebanggaannya itu. Setidaknya itulah persepsi teman-temanku yang tahu siapa aku ini.

Apa nggak malu tuh udah gede tapi jadi fans berat Spongebob? Sama sekali nggak! Justru aku bangga. Lho, adda appa ini adda appa?

Kadang orang menganggap remeh hal-hal kecil semacam pola pikir Spongebob ataupun Patrick. Namun bagiku, pola pikir mereka unik. Mereka mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan maksud, kekonyolan mereka serta bagaimana mereka menyikapi sesuatu. Hmmm...aneh ya? Baru kali ini ada mahasiswa yang membahas pola pikir Spongebob ditinjau dari segi keunikannya hwa...hwa...

Buatku, kartun nggak hanya sebatas hiburan. Aku sering ngambil banyak inspirasi dari film kartun, terutama spongebob. Bagaimana dengan kalian???

Indonesia, baru kali ini aku bangga padamu!!!

”Hari ini, aku sebagai rakyat Indonesia mengakui bahwa sesungguhnya Indonesia itu hebat. Indonesia terlalu tangguh untuk ditaklukan. Indonesia terlalu kuat untuk dilemahkan. Aku bangga menjadi orang Indonesia dan aku tidak malu lagi menjadi orang Indonesia. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan masalah teknis akan dibahas kemudian.”


Bandung, 17 Januari 2007

Atas nama diri sendiri


Pertandingan Singapura vs. Indonesia sangat menegangkan. Di babak awal, timnas kita harus rela ditekan sedemikian rupa. Barisan pertahanan Singapura yang solid membuat timnas sangat sulit menembus rapatnya pertahanan. Sementara itu, beberapa bomber Singapura terus menekan dari setiap sudut. Alam Shah dan Indra beberapa kali membuat kerepotan barisan pertahanan Indonesia. Otomatis, 20 menit babak pertama berjalan, posisi kita terus terjepit.

Petaka terjadi pada menit kelima belas ketika kiper Indonesia menjatuhkan striker Singapura Alam Shah di kotak penalti. Sang algojo Alam Shah akhirnya mengeksekusi penalti tersebut. Kedudukan pun berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan tuan rumah Singapura.

Keadaan ini membuat para pemain Indonesia harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa lolos ke putaran selanjutnya. Mau tidak mau timnas kita harus menang atas Singapura karena perbedaan selisih gol, walaupun dari segi perolehan poin Indonesia dan Singapura sama-sama mengoleksi jumlah poin yang sama. Ini sangat sulit bagi tim sekelas Indonesia. Apalagi dengan keadaan teringgal 1-0 dari Singapura.

Setelah 20 menit berjalan, tanda-tanda perubahan itu muncul. Timnas seakan-akan menemukan bentuk permainannya. Umpan satu-dua dari kaki ke kaki sangat pas diperagakan. Koordinasi lini tengah dengan sayap terbangun sangat apik. Serangan yang dibangun beberapa kali membuat Singapura seakan kebakaran jenggot. Dan belum lama berselang, gol balasan dari Ilham Jaya Kesuma bersarang di gawang L Lewis. Kedudukan berubah 1-1.

Keadaan ini membuat semangat timnas semakin membara. Dengan dukungan pengalaman dan teknik individual, Zaenal Arif cs. Seakan tak henti menggempur pertahanan Singapura. Beberapa peluang emas sempat membuahkan gol. Namun sayang beberapa tendangan yang mengarah ke gawang Singapura kurang bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga tidak membuahkan gol.

Tekanan Indonesia terhadap Singapura mengalir deras. Namun tak jarang pemain kita terlalu asyik menyerang sehingga melupakan pertahanan. Serangan balik yang dilakukan para pemain Singapura bisa dimanfaatkan dengan baik. Akhirnya terciptalah gol yang tidak diinginkan oleh para pemain kita. Gol kedua Singapura diciptakan oleh Indra.

Hal ini membuat para pemain kita seperti dicambuk. Serangan demi serangan terus dibangun. Beberapa peluang pun hampir membuahkan gol. Dan akhirnya, ketika sepak pojok yang dilakukan oleh Atep tertuju pada Zaenal Arif, Zaenal tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung shoot on the target. Dan Goaaa....allll!!! Kedudukan imbang 2-2.

Kedudukan terus bertahan sampai peluit panjang dibunyikan. Dan dengan berat hati, baru kali ini timnas kalah di babak penyisihan. Sangat disayangkan sekali. Timnas harus menyerahkan diri pada Singapura. Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Vietnam yang bisa melaju ke babak semi-final. Masak sih kita kalah sama tim sekelas Vietnam?

Walaupun kalah, aku tetap puas melihat penampilan timnas malam ini. Ya, baru kali ini rasanya melihat Indonesia bermain taktis. Umpan-umpan maut berbahaya, tendangan jarak jauh Eka Ramdani dan Atep yang sangat akurat, Perpaduan antar-lini begitu terkoordinasi. Pokoknya aku puas malam ini—dan tentunya sangat tegang.

Setelah laga Indonesia kontra Singapura, kabarnya Peter Withe dipecat. Hmmm...suatu tindakan yang tegas dari PSSI mengingat selama ia melatih prestasi timnas biasa saja, tak ada yang istimewa. Walaupun dari permainan lebih berkembang, kita juga harus menargetkan hasil. Betul?

Iraha atuh Indonesia juara deui? Maenya kudu balik deui ka jaman bareto? Iraha deui atuh klub-klub di urang bisa ngalawan tim sakelas AC MILAN, LAZIO jeung FIORENTINA? Saha deui atuh pamaen urang nu maen di serie-A lian ti Kurniawan? Maenya kudu ngadagoan 30 taun deui? Da embung atuh!!!


Thursday, January 11, 2007

"Benar semua orang bisa bernyanyi, namun tidak semua orang bisa bernyanyi dengan benar"
--anonymous--

Sunday, December 24, 2006

SURAT DARI SABUN

Oleh : M Zakky R


Usiaku kini hampir satu minggu di kamar mandi keluarga besar Hartakusuma. Mungkin, beberapa hari lagi aku akan mati—sebut saja lenyap. Nah, sebelum aku lenyap begitu saja, aku ingin hidupku seakan berarti bagi siapapun. Jadi, dengan bangga aku menulis pengalaman hidupku dalam bentuk surat dan terima kasih bagi kalian yang membacanya.

Rasanya senang juga menjalani hidup sepertiku. Bisa keliling dari mal yang satu ke mal yang lain. Dari supermarket yang satu ke supermarket yang lain. Bisa keliling dari warung yang ada di Dago ke warung yang ada di Antapani. Setelah itu, tibalah aku di tempat persinggahanku yang terakhir yaitu kamar mandi. Di sinilah tempat paling mengasyikkan—menurutku—yang pernah ada di dunia ini. Selain bisa berkenalan dengan berbagai macam produk lain serta mendengarkan pengalaman mereka, aku juga bisa menikmati ”pemandangan” indah yang tak akan pernah kalian saksikan sebelumnya kecuali jika kalian telah benar-benar dewasa dan siap menjalani pernikahan. Pokoknya, kalian jangan iri terhadapku, ya.

Tidak. Aku tidak akan menceritakan kisah yang berbau pornoaksi dan pornografi. Tidak juga kisah yang berbau—maaf—cabul. Aku takut terkena sanksi walaupun sampai saat ini RUU APP masih menjadi pro-kontra. Sudahlah, masalah ”pemandangan” ini tidak usah dibahas terlalu panjang. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan hingga akhirnya koran X memuat berita tentang pemerkosaan terhadap siswi A oleh siswa B. Aku takut disalahkan, padahal yang berbuat adalah oknum dari manusia itu sendiri.

Menurut beberapa ”seniorku” yang telah cukup lama berada di kamar mandi keluarga Hartakusuma, dulu kamar mandi ini tidaklah sebagus sekarang. Namun setelah pak Hartakusuma sukses dengan bisnisnya, maka disulapnya rumah ini menjadi istana. Termasuk kamar mandi ini, tidak ketinggalan dengan berbagai produk untuk kamar mandi. Dari mulai sabun mandi produk lokal hingga pembersih muka buatan Eropa. Sebenarnya telah terjadi akulturasi budaya di kamar mandi ini. Sedikit demi sedikit aku mulai belajar bahasa inggris pada produk pembersih muka XX yang memang asli dibuat di Eropa. Begitupun sebaliknya. Ah, senang sekali rasanya bisa belajar bahasa inggris langsung dari sumbernya. Gratis pula.

Ssstt...jangan berisik. Nyonya Hartakusuma masuk kamar mandi. Apa yang akan dia lakukan kali ini? Oh, ternyata dia ingin membersihkan wajahnya dengan gel pembersih yang diimport langsung dari negeri tirai bambu, Cina. Ternyata jika nyonya Hartakusuma tidak pakai make up, dia kelihatan sedikit lebih tua dan wajahnya penuh dengan jerawat. Dalam hati aku bertanya, ”Kenapa dengan memakai kosmetik-kosmetik yang ada wajah nyonya menjadi seperti itu? Bukankah fungsi dari kosmetik tersebut untuk menghaluskan, melembutkan dan membuat wajah jadi lebih kencang?”.

Belum sempat aku selesai dengan berbagai pertanyaan, sang nyonya mengambil botol lain yang isinya aku pun tak tahu. Dia menumpahkan cairan yang ada di dalamnya dan mengusapkan cairan tersebut ke wajahnya. Dan oh...tidak! Wajah nyonya menjadi lebih aneh lagi! Kali ini disertai dengan bercak kemerahan yang menghiasi pipi kiri dan kanan nyonya.

Sebenarnya, aku sudah terbiasa dengan hal itu. Namun ketika pertama kali melihat ”adegan” seperti itu, aku kaget setengah mati. Sungguh. Bisa kalian bayangkan perubahan wujud yang begitu drastis dari seorang ibu peri menjadi ibu buruk rupa.

Lain sang Nyonya, lain pula anaknya. Leila, anak pertama sang nyonya adalah wanita yang lebih mementingkan untuk menjaga kebersihan kulitnya. Bagaimanapun ia akan mengusahakan supaya kulitnya terlihat lembut, tidak kusam, bersinar dan tentunya putih, seputih kapas. Kosmetik dari berbagai merek ternama selalu menjadi pilihan utama Leila. Dia tidak mau ambil resiko. Namun sayangnya, hingga saat ini kulit Leila masih belum juga terlihat putih. Justru dengan berbagai kosmetik yang ia beli, kulit sawo matangnya semakin terlihat jelas. Mungkin ini yang disebut penmpakan.

Beberapa hari di sini aku sempat frustasi melihat kenyataan yang tidak sesuai dengan janji manis iklan di TV. Produk XXX bisa membuat kulit putih selama beberapa hari. Produk G bisa membuat kulit halus dalam tiga kali pemakaian. Dan seabreg janji manis iklan di TV. Tapi ternyata yang kutemukan adalah hal-hal paradoks.

Akhirnya, aku mengadukan hal ini kepada ”senior” yang lebih berpengalaman. Ia adalah sebuah cermin berbentuk bulat yang senantiasa dipakai oleh keluarga Hartakusuma dari semenjak kamar mandi ini diperbaharui. Usianya memang bisa dikatakan tua.

Dengan bijak, ia tidak serta-merta men-judge apakah hal yang dilakukan sang nyonya dan anaknya salah atau benar. Ia membawaku pada satu kesimpulan bahwa pada dasarnya setiap wanita ingin terlihat cantik. Namun, dalam kenyataannya, media yang kita gunakan sekarang tidak hanya sekedar menuntut setiap wanita untuk tampil sekedar cantik. Tetapi lebih. Salah satunya adalah putih. Ya, kulit putih adalah representasi wanita yang berpikiran maju, merdeka dan mandiri. Dengan kata lain, cantik belum tentu putih. Begitu pula sebaliknya.

Sebenarnya, produk-produk yang ada di kamar mandi ini belum tentu semuanya aman. Masih ada beberapa kosmetik yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti mercury dan lain sebagainya. Adapun embel-embel iklan yang menawarkan bahwa produk A mengandung bahan alami, produk B bebas dari bahan-bahan berbahaya dan iklan lainnya sebenarnya perlu diselidiki lebih lanjut.

Dalam hal ini, produsen cenderung ingin mengambil keuntungan sebesar-besarnya terhadap sikap konsumerisme publik—terutama kaum Hawa. Dengan representasi terhadap wanita yang semakin hari semakin menuntut mereka untuk tampil cantik, putih dan kulit halus otomatis keperluan untuk tampil ”sempurna” sebagai seorang wanita semakin meningkat. Di sinilah letak ketidakberesan itu. Bukan berarti tidak boleh mempergunakan kosmetik. Silakan saja. Bukankah itu adalah hak setiap orang terutama wanita? Hanya saja jika sudah terjebak pada sikap konsumerisme, ini yang perlu dihindari.

Ya, aku sadar sekarang. Aku tidak berhak melarang sang nyonya dan anaknya untuk berhenti memakai kosmetik-kosmetik yang mereka beli. Aku hanya sebuah sabun yang lemah dan tak bisa berbuat apa-apa. Sebentar lagi aku akan lenyap. Tapi tolong aku. Tolong aku untuk menolong nyonya dan Leila supaya mereka sadar akan sikap konsumerisme mereka.

Kawan, jika kalian tahu dan tidak mau memberitahukannya, kasihan nyonya dan Leila. Jika mereka terjebak lebih jauh aku takut mereka akan mengalami resiko yang tidak diinginkan. Jadi, cepatlah beritahu nyonya dan Leila. Setelah itu sampaikan pada ibu atau kakak perempuanmu. Atau pada teman laki-laki yang berdandan feminin. Jika sudah, coba kau lihat dirimu. Siapa tahu kau termasuk ke dalam orang yang harus kuberitahu.


Bandung, 13 Desember 2006

Ketika iklan LUX dan GIV diputar




Tulisan ini memenangkan penghargaan lomba penulisan surat KMJ (Komunitas Mahasiswa Jurnalistik) UNISBA sebagai surat terfavorit. Perlu diingat, hampir semua orang tidak percaya anak Syariah bisa memenangkan penghargaan prestisius ini. Dan beberapa seniorku berkata, "Zak, kamu telah mengalahkan mitos anak-anak jurnalistik. Selamat!!!".

Friday, December 22, 2006

"Jika ada satu buku yang ingin kau baca dan buku itu belum diterbitkan, maka kaulah yang harus membuatnya." --Anonymous--

Thursday, November 09, 2006

SOMBONG

Nggak ada manusia yang demen sama orang sombong, termasuk orang sombong sendiri. Sebisa mungkin kita semua ngejauhin orang sombong supaya dia (si sombong) tau rasa kalo superior itu emang nggak disukai.

Mungkin kita semua udah pernah ngerasain gimana sih orang sombong itu—menurut pribadi kita kalau sombong itu ya kayak gitu. Pernah juga nggak deket-deket sama si sombong. Dan—kalau kita punya nyali—berusaha untuk nyadarin dia dari kesombongan dan superioritasnya. Sebisa mungkin ngasih nasehat kalau sombong itu nggak baik. Bisa dijauhin temen lah, dikucilkan dari pergaulan lah, dimusuhin bla…bla…bla…

Pertanyaannya sekarang, gimana kalau temen-temen di sekitar kita ngasih cap “sombong” sama kita padahal kita nggak pernah ngerasa sombong? Atau minimalnya, kita ngerasa kalau kita nggak pernah macem-macem yang mendatangkan cap sombong bagi diri kita.

Hal ini terjadi sama gue. Entahlah, gue juga kaget ngedenger hal ini. Baru kali ini ada manusia yang bilang dengan sangat berterus terang sama gue kalau gue emang manusia sombong. Sombong banget.

Dan kalian harus tahu siapa manusia yang bilang gue sombong sekali. Manusia ini adalah senior gue di kampus. Terus banyak banget yang bilang. Nggak cuma satu orang. Tapi kebanyakan senior. Temen satu kelas gue nggak ada yang bilang.

Mungkin cap sombong gue dapet gara-gara banyak ngritik sistem ospek universitas. Gue vokal banget menyuarakan ospek tuh ortodoks, harus ada sesuatu yang baru dan diperbaharui dalam ospek dan tim pembaharu yang banci—gue nantangin mereka buat man to man aja kalau ada maba yang bikin kesalahan, bukan maen keroyokan sambil bentak-bentak. Banci banget, kan?

Gue langsung bilangin hal ini ke panitia. Tanpa perantara tertulis sekalipun. Maksud gue nggak sombong. Karena hal ini juga berdasarkan aspirasi temen-temen gue yang takut buat bilang ke panitia. Daripada dipendem terus dalam hati, mending gue keluarin aja.

Ketika panitia ngewajibin semua maba yang ikutan ospek supaya celana panjangnya dimasukkin aja ke kaos kaki—persis kayak dandanan zaman Napoleon dulu yang celananya nggak sampe mata kaki, tapi Cuma selutut aja karena dimasukkin ke kaos kaki—gue langsung berontak dan dengan sangat lantang bilang, ”kang itu kayak orang gila!!!”. Dengan tanpa berdosa gue bilang kayak gitu. Gue pikir itu cuma akal-akalan panitia aja. Apakah nggak ada dandanan yang lebih manusiawi? Gue mikir kayak gitu. Sebenernya masih banyak lagi instruksi dari panitia yang kerasa janggal banget. Walaupun ini ospek, gue nggak mau harkat dan martabat gue sebagai manusia diinjek-injek.

Selama ospek berlangsung, gue sih fun-fun aja. Gue nggak ambil pusing sama sikap gue. Selama gue punya argumen yang logis, selama itulah sikap gue.

Pernah pas materi tentang motivasi, gue bersila di atas kursi. Bukan apa-apa, gue ngerasa pegel. Makanya gue suka rubah-rubah posisi. Setelah beberapa saat, datang panitia dan negur gue kalau hal itu nggak sopan. Gue langsung turunin kaki dan bersikap seperti mahasiswa lainnya.

Ketika materi tentang ekonomi syariah, gue suntuk banget. Gue punya ide. Gue minta permen karet ke temen cewek. Akhirnya gue kunyah tuh permen karet sampe materi beres. Sekali lagi bukan maksud sombong, gue cuma pengen lebih konsentrasi aja. Karena toh dengan mengunyah permen karet otak kita jadi lebih terangsang untuk berpikir. Tapi, tetep aja ada temen gue yang bilang kalau hal itu nggak sopan. Hmmm...aneh juga ya. Kadang bukti penelitian ilmiah belum tentu bisa diterima oleh norma dan perilaku.

Puncak dari semua itu adalah ketika jurit malam. Semua dibangunin jam satu malem sambil dibentak-bentak nggak karuan. Semua maba dikumpulin di aula. Hal ini terjadi karena panitia denger isu kalo ada maba yang bilang ospek itu basi. Mereka juga nyari maba yang nantangin pembaharu buat man to man.Gue deg-degan banget. Karena semua yang diomongin panitia semuanya ngarah ke gue. Dengan sangat terpaksa, gue maju dan mengklarifikasi perkataan gue di hadapan mereka. Tapi yang namanya pembaharu emang suka cari masalah. Mereka terus-terusan nyudutin gue. Dan akhirnya gue diseret ke luar terus mata gue ditutup pake syal. Badan gue diputer-puter kayak kolecer. Terus gue ditempatin di suatu tempat—gak tau dimana—sambil diinterogasi. Di sinilah drama yang paling menyakitkan hati. Di sinilah senior gue ngungkapin perasaannya selama ini. Perasaan yang nggak bisa ditawar-tawar lagi. Perasaan yang membuncah.

”Sebenernya saya respect sama kamu. Kamu berani, argumen kamu logis, aktif dan selalu punya cara pandang tersendiri. Tapi sayang, kamu itu sombong. Jadi, saya harap kamu bisa merubah akhlak kamu.”

SOMBONG. Dalam benak mereka, itulah representasi gue. Gue sempet kaget denger hal ini. Aneh banget. Apa orang yang berbeda dengan orang lain itu sombong? Apakah ketika orang mencoba untuk unjuk gigi dan menunjukkan kemampuan apa yang mereka miliki, pantaskah disebut sombong? Apakah sopan itu identik dengan selalu diam dan bersikap seperti layaknya kebanyakan sikap manusia lainnya yang tidak mempunyai tujuan? Lalu, apa perbedaan antara orang sombong dan orang yang punya cara pandang berbeda dalam memandang satu masalah?

Aku pikir mereka belum bisa ngebedain dua hal itu. Asumsiku seperti itu. Tapi, semoga saja aku salah.

Aku sadar bahwa dibalik muka-muka ramah mereka, terdapat juga sifat paling pengecut se-dunia. Mereka bilang sombong sama gue, tapi mereka nggak mau nunjukkin siapa diri mereka. Ya, karena mata gue ditutup sama syal. Gue cuma bisa denger suara mereka. Kenapa ya kebanyakan orang takut untuk berkata Jujur di hadapan orang lain? Jika pun tidak secara langsung, mereka ungkapkan lewat tulisan sambil diperhalus. Kenapa nggak langsung aja?

Walaupun capek, gue tetep berusaha survive di tengah caci-maki panitia. Ada satu peristiwa yang konyol banget buat diinget. Pas gue adu argumen sama si kang Agung tentang kebebasan mahasiswa, dia tanya sama gue, “Kalau kamu pengen bebas kayak mahasiswa fikom Untad, kenapa nggak masuk Unpad aja? Kenapa ke Unisba?”. Tiba-tiba ada panitia cewek yang bilang, “Alaaah, anak kayak gini paling-paling SPMB-nya nggak lulus”. Denger kayak gini, gue nggak tarima. Gue berontak! Langsung aja gue ladenin tuh panitia. “Maaf, saya termasuk golongan lulus SPMB. Saya keterima di Unpad. Tapi karena berbagai faktor saya lebih memilih Unisba daripada Unpad”. FYI, gue ngomongin ini dengan suara keras. Gue pengen nunjukkin ke semua maba kalau gue emang lulus SPMB. Terserah deh disebut sombong juga. Karena yang lebih pantas disebut g*bl*k adalah si panitia cewek tadi yang berusaha nurunin harga diri gue di depan semua maba.

Ngedenger fakta kalo gue lulus SPMB, si panitia cewek langsung diem. Dia nggak berani lagi berurusan sama gue. Dia berusaha untuk nutupin mukanya yang udah terlanjur malu. Kalo dalam istilah sepak bola sih disebut counter attack.

Gimana? Masih parno kalo disebut sombong? Aku pikir sombong itu ketika seseorang merasa superior dan tidak dapat mengendalikannya. So, kalo kita punya sesuatu yang mesti diperjuangkan, teruslah berjuang. Jangan sampe diinjek-injek sama orang, sekaliapun itu orang yang lebih tua dari kita. Kadang orang yang berbeda itu punya pengalaman hebat yang lain dengan orang biasa.

Saturday, November 04, 2006

AMERICAN F**CK SOCIETY (AFS)

Sebelumnya, gue mau minta maaf sama pihak AFS (American Field Society) atas dimuatnya tulisan ini di blog gue. Juga kepada temen-temen yang pernah ngerasain fasilitas beasiswa yang dikasih sama AFS selama di luar negeri sana. Gue nggak ada maksud buat stereotip sama organisasi ini. Gue Cuma mau ngasih kritik konstruktif. Itu aja, gak lebih kok.
* * *
Nggak tau kenapa malem ini gue (ujug-ujug) kepikiran lagi peristiwa beberapa tahun silam waktu di DA. Tepatnya waktu gue kelas 1 SMA. Ya sekitar tahun 2004 gitu, deh. FYI, peristiwa ini sangat menyakitkan bagi gue dan sobat deket gue. Sedangkan buat yang lain, ini adalah kemenangan besar. Mau tau peristiwa apa? Gue sama sobat gue nggak lulus tes AFS buat go abroad overseas to US selama setahun.
Rasanya sakit banget deh denger gue sama sobat deket gue (dua-duanya katanya pinter. Tapi emang bener sih he..he..narsis) nggak lulus. Dan yang lebih menyakitkan lagi, gue dan dia nggak dapet surat keterangan lulus atau nggak dari AFS. Jadi status lulus atau nggaknya gue dan dia masih dipertanyakan. Mungkin gue nggak lulus. Tapi siapa tau aja ada sesuatu yang bikin surat keterangan itu nggak nyampe ke tangan gue dan sobat gue. Masak sih temen-temen yang lain udah pada kebagian surat lulus dan nggak lulus tapi kita berdua belum? Aneh banget, kan?
“Zak, kamu udah dapet surat dari AFS belum?” Gue cuma bisa bengong sambil ngebuletin bibir ngebentuk huruf “O”. Gue malah balik tanya, “Lho, emangnya udah ada pengumuman lulus/ gak lulusnya gitu?” ya, itulah gue yang telat info. Lebih tepatnya, telat info gara-gara pihak AFS gak mau ngasih tau apakah gue lulus ato nggak.
Gue sama sobat gue udah deg-degan. Pokoknya H2C banget, deh. Gue sama dia saling merendah. “Bir, gue yakin pasti lo yang bakal go abroad ke USA.” Gue ngeyakinin dia. Tapi dia juga bilang, “Gue mah nggak mungkin bakal ke US. Lo Zak yang lebih pantes. Gue yakin lo bakal ke US.” Namun ternyata fakta berbicara lain. Gue sama dia nggak dapet surat. Otomatis gue ataupun dia nggak ada yang berangkat ke Amrik. Gue sama dia tetep tinggal sebagai warga negara USA (Urang Sunda Asli) di Garut.
’Lho kok? Ada apa dengan semua ini? Kenapa peristiwa ganjil ini terjadi sama gue? Kenapa nggak sama orang lain aja? Toh gue lebih baik daripada mereka?’ Mungkin itulah sumpah-serapah gue waktu itu. Sumpah, gue kesel banget terutama surat keterangan yang nggak nyampe-nyampe. Kemana sih tuh surat? Gue sempet hubungin mbak Elsa (salah satu panitia penyelenggara AFS) dan nanyain masalah kenapa surat gue nggak nyampe-nyampe. Tapi apa jawabannya? Dia jawab kayak gini: ”Mmm...surat yang mana ya?”. Kurang ajar banget nggak sih tuh jawaban? Heran deh!!! Panitia tapi nggak tau. Sempet juga gue tanyain sama beberapa orang aparatur pondok. Dan jawaban mereka kurang memuaskan. Bahkan sepertinya ada beberapa guru dan aparatur pondok yang (kayaknya) seneng banget gue sama sobat gue nggak lulus. Ada apa dengan semua ini, hah?
Setelah jadi detektif untuk beberapa hari dan nguping beberapa tanggapan miring, ternyata gue sama sobat gue emang sengaja nggak dilulusin ke tes selanjutnya, tepatnya tes di Jakarta. Gue masih belum percaya sama gosip miring ini. Namun, setelah beberapa kali rapat ”PKI” di sebuah tempat bersama beberapa guru yang tahu tentang permasalahan ini, gue pasrah. Gue pasrah masa depan dan impian gue buat ke luar negeri hancur. Gue nggak bisa apa-apa lagi selain ngegugat dan bersama-sama pihak yang dirugikan melakukan advokasi dan sedikit provokasi sama pihak pondok. Gue nuntut hak gue! Gue nuntut hak buat ngedapetin informasi apakah gue lulus ato nggak! Gue berhak atas itu! Cuma itu yang gue mau.
Mungkin, kalo di novel-novel berat karangan penulis luar negeri, gue namain peristiwa ini dengan ” konspirasi jahat Darul Arqam”. Ya, sebagus-bagusnya sekolah gue pasti punya noda hitam yang sulit buat dihapus. Dan salah satu noda itu adalah peristiwa ini.
Entahlah. Perlahan persoalan itu menguap begitu saja. Seakan tidak ada apa-apa antara gue, pondok sama AFS sendiri. Gue terus nuntut hak gue. Pondok seolah mencoba untuk tidak menyinggung soal gue dan sobat gue. Sedangkan AFS sendiri seakan tidak mau tahu. Mereka Cuma mau ngurusin anak-anak yang udah lolos seleksi ke Jakarta. Titik. Persoalan gue sama sobat gue itu masalah lain. Bahkan mungkin itu bukan satu masalah sama sekali.
Walaupun gue nggak lulus, gue bisa terima kok. Asalkan ada bukti tertulis yang nyatain kalo gue emang bener-bener nggak LULUS! Tapi kalo kenyataannya kayak gini gue nggak terima! Enak aja, gue udah capek-capek fotokopi ini-itu, legalisir raport, foto buat persyaratan, bolak-balik Bandung - Garut, ngerepotin ibu gue yang lagi kerja supaya nge-faks dokumen inlah-itulah, nyusahin babeh gue yang lagi sakit supaya datang ke JLCC buat ngasihin raport sama gue walau akhirnya babeh marah-marah karena gue nggak nemuin dia, telefon panitia dan segala pengorbanan besar yang udah gue lakuin selama itu. Dan hasil dari semua itu…apa coba? Gue nggak dapet apa-apa selain capek hate dan capek gawe bari jeung teu kapake! Gue ngerasa semua itu nggak ada artinya. Gue ngerasa jadi korban penipuan sebuah organisasi besar berskala internasional.
Sempet juga depresi karena peristiwa ini. Lo semua bayangin deh orang yang udah yakin bakal dapet BMW tiba-tiba ada kabar kalo dia gagal dapetin tuh mobil hanya karena pemerintah ngelarang kita (orang kecil) nggak layak jadi kaya. Lucu banget kan? Sistem kasta dibawa-bawa. Gue juga sempet frustasi dan nggak berani lagi buat hidup. Rasanya jadi orang kalah tuh lebih hina dari binatang sekalipun! Yang gue rasa sih kayak gitu. Semenjak peristiwa itu, gue nggak mau terlalu percaya sama orang walaupun itu temen-temen di sekitar gue. Gue anggap semuanya sebagai pengkhianat.
Krisis kepercayaan ini berlangsung sekitar satu tahun. Diitung dari pertengahan kelas 1 sampe kelas 2 SMA. Masa-masa ini adalah masa sulit buat gue. Gue nggak punya semangat hidup. Rasanya dunia ini gelap banget. Sobat gue apalagi. Pokoknya kita berdua ibarat orgil (orang gila) sekolahan. Ya, orang gila tapi sekolah seperti kebanyakan orang waras. Aneh, kan?
Kalau orang-orang ditanya, ”apakah kamu pernah ngalamin jatuh, dicuekin, depresi, stress dan nggak berguna?” Rata-rata mereka jawab: pernah. Tapi kalo gue yang ditanya kayak gitu, gue jawab: SERING. Ya, gue sering banget stress, like breaking down, feel out of place, dicuekin dan hal-hal yang nyakitin banget buat diri gue. Dan ini terjadi waktu gue gagal dapetin beasiswa AFS. Gue serasa jadi alien. Dan orang nganggap rendah gue.
Tapi tenang aja, sekarang gue udah normal kok. Gue udah kembali jadi manusia normal seutuhnya walaupun kadang rada aneh. Wajarlah, aneh itu karakter gue. Gue ngucapin makasih banget buat someone special yang udah nyadarin gue dari tidur panjang itu. Dia juga udah mau dengerin keluhan-keluhan orang aneh ha..ha.. Tanpa dia, mungkin gue bakal lebih lama lagi jadi orang gila di Sekolahan. Makasih banget Sweety, Chubby and Smarty. Dan gue nggak bakal bisa lupain dia sampe kapan pun.
Balik lagi ke masalah skandal AFS. Tahun sekarang (2006) AFS masih juga ngadain penyelenggaraan beasiswa di sekolah gue. Seperti biasa, ada dua orang perwakilan yang dikirim ke USA, satu cewek dan satunya lagi cowok. Namun, apakah tidak ada sesuatu yang ganjil untuk tahun ini? Itulah pertanyaan yang tepat untuk diajukan.
Ternyata, organisasi sebesar AFS tidak pernah luput dari kesalahan. Lebih tepatnya kesalahan fatal. Tahun ini yang berangkat ke USA Cuma satu orang. Yang cewek jadi ke Amrik sedangkan yang cowok batal. Alasannya simpel aja, karena di Amrik nggak ada lagi orang yang mau jadi orang tua angkat buat si cowok buat homestay selama satu tahun. Dan parahnya lagi, surat pembatalan dari pihak AFS dilakukan secara sepihak. Suratnya langsung dikasihin ke cowok yang bersangkutan tanpa ada tembusan ke pondok. Gelo banget kan? Organisasi sebesar ini nggak tau aturan administrasi surat-menyurat.
Rencananya sih AFS mo ngasih kompensasi buat si cowok yang nggak jadi ke US. Kompensasinya yaitu dia boleh pergi ke Jepang selama satu bulan. Semua biaya ditanggung AFS. Ya, lumayan lah...daripada gue he..he...
Buat AFS, gue saranin supaya lebih bijak lagi. Jangan sampe ada kepentingan-kepentingan dibalik semua program yang diajukan. Cukup deh gue sama sobat gue aja yang ngerasain pengalaman pahit ikutan program ini. Jangan sampe adik kelas gue ikutan ngalamin. Sorry kalo gue bilang AFS tuh sebagai American F**ck Society. Gue rasa istilah ini cocok banget deh buat organisasi bikinan orang Amrik. So, be a professional key….

Saturday, September 02, 2006

Sebuah Perjalanan Kecil

28 Agustus 2006

Hari ini jadwal service motor untuk yang kedua kalinya. Aku pilih dealer yang di Asia-Afrika aja deh. Soalnya belum pernah ngerasain di sana. Selain itu, tempat tunggu dan bengkel service juga terpisah. Sehingga kita nggak kena polusi di dalem ruangan. Lumayan lama sih nunggu giliran.

Setelah menunggu untuk beberapa lama, aku memutuskan pulang ke rumah daripada menunggu selesai servis. Aku rasa ini momen yang tepat—bisa disebut penyadaran—untuk nostalgia di masa-masa aku tidak punya kendaraan. Hmmm...ternyata aku sangat rindu angkot. Aku rindu suasana berdesak-desakan di angkot, ibu-ibu yang nge-gosip, anak sekolah yang mau berngkat sekolah, pengamen—sebut saja grup band—yang selalu up to date ngebawain lagu-lagu di perempatan jalan dan tentu saja aku kangen berat sama acara ngetem angkot. Fiuh,,,bener-bener aku rindu. Aku sadar itu.

Biasanya, ketika terbiasa naik angkot atau bus kota, aku selalu membayangkan asyiknya ngobrol bareng pacar. Aku selalu berharap suatu saat nanti ada seseorang yang selalu menemaniku—tentunya seorang wanita—kemanapun aku pergi. Tentunya naik kendaraan umum, bukan naik kendaraan pribadi. Sungguh, aku merindukan momen seperti ini. Sayangnya aku lagi jomblo heu...heu...(promosi yeuh!!!)

Tapi saat ini, ingatan itu semuanya pudar. Aku melupakan hal-hal itu dan terhanyut oleh suasana bus kota dan pemandangan kota Bandung sendiri. Entahlah, semuanya terasa berbeda dan sangat indah. Aku menikmati suasana ini dengan penuh rasa rindu. Bus kota, angkot, ojeg....Im coming!!!

Pukul 14.00 aku berangkat ke dealer naik bus DAMRI. Kebayang dong suasana sumpek, bau berbagai macam aroma wangi duniawi—mungkin juga surgawi—beraneka rasa. Semuanya tersedia bau-bauan di bus ini. Kita tinggal pilih bau mana saja—bau atau sangat bau. Tak beberapa lama datanglah para pedagang asongan menawarkan beberapa produk unggulan mereka. Diantaranya ada donat mirip dunkin donut. Kata si pedagang donat yang ia jual dibuat oleh mantan karyawan dunkin. Hmmm...hebat juga lip service-nya. Selain itu ada juga anak kecil yang berjualan. Anak itu sangat menyedihkan untuk dilihat oleh semua orang. Bajunya lusuh, kulitnya diolesi debu jalanan, wajahnya nampak bersinar kehitaman, alas kakinya kulit. Aku tak mau menyebutnya gelandangan atau anak jalanan karena aku sadar kalau dia juga ternyata sedang berjualan. Dia sedang menjual kesedihan, menjual nasib buruk dirinya sehingga menuntut belas kasihan dari kita semua untuk memberi sedikit harta. Dia menjual sesuatu. Dan berharap kita membelinya dengan beberapa recehan—itu pun kalau kita ikhlas.

Selang beberapa waktu, datanglah seorang pemuda sambil membawa gitar. Ah, pasti juga tukang ngamen—pikirku. Jreng...jreng...dan gitar mulai dimainkan. Waw, alangkah terkejutnya aku. Dia menyanyikan lagu barat yang aku sendiri tidak tahu lirik, judul dan penyanyinya. Hebat!!! Ini namanya tukang ngamen melek globalisasi.

Kalau dibandingkan dengan bus Mios jurusan Bandung-Garut, pengamen bus Damri lebih kreatif daripada bus Mios. Di bus Mios semua penumpang hanya disuguhi lagu dangdut dengan kunci gitar yang itu-itu saja. Nadanya pun nggak ada perubahan. Selalu saja yang itu. Sedangkan di Damri, aku serasa dengerin MTV. Lagunya up to date. Kalau pun nggak, pengamen pasti lebih tahu selera pendengar.

Andai saja aku bawa receh waktu itu, pasti sudah kukasih dia 5 keping uang logam pecahan seratus rupiah. Nyanyinya enak banget. Bikin gue merem-merem melek heu...heu...

Perjalanan ini sangat mengasyikkan walaupun hanya sebentar. Selain mengobati rasa rinduku terhadap angkot dan bus kota, aku bisa belajar untuk menyelami dalamnya makna hidup ini. Andai nasibku seperti mereka di jalanan, belum tentu aku bisa sebebas ini. Mungkin aku akan sama seperti mereka. Dicaci, dihina, nggak makan satu atau dua hari, tawuran, jadi sampah masyarakat dan hal-hal mengerikan lainnya. Aku nggak bisa bayangin kalo aku suatu hari nanti jadi gelandangan. Yang penting sekarang harus persiapan jika suatu hari jadi gelandangan. Sekarang (mungkin. Semoga saja nggak) kita yang hidup enak adalah calon-calon gelandangan masa depan. Ingat itu!

Saturday, August 19, 2006

KADANG MUNAFIK ITU PERLU

M ZAKKY R

Munafik. Siapa di dunia ini yang tidak membenci kata itu? Munafik, bagaimana pun bentuknya kerap kali dibenci. Entah kenapa. Mungkin karena munafik itu pengecut, oportunis, bermuka dua dan lainnya.

Tidak ada seorang pun manusia yang bercita-cita menjadi orang munafik. Semua ingin menjadi orang sukses. Namun dalam kenyataannya, manusia sering kali menggunakan kemunafikan. Dan percaya atau tidak, munafik telah banyak membantu manusia di dunia ini.

Rea : Hai, kemana aja sih? Udah lama gak ketemu. Gimana kabarnya?
Aya : Alhamdulillah baik. Aku sibuk sama urusan kuliah.
Rea : Ooo…ngomong-ngomong udah nonton film baru, belom?
Aya : Film apa?
Rea : Film yang hot. Mmm…semisal Gadis Dago gitu.
Aya : Oh, sorry. Aku nggak mau nonton.
Rea : Lho,kok? Jangan munafik deh. Kalo kamu suka jangan bilang nggak suka.
Aya : Aku cuma bilang nggak mau, bukan berarti aku nggak minat.
Rea : Apa bedanya?
Aya : Sex itu kebutuhan pokok setiap orang. Aku pun bakal melakukannya satu saat nanti, yang pasti bukan sekarang. Aku Cuma bilang kalau aku nggak mau nonton film seperti itu, untuk saat ini.
Rea : Berarti, suatu saat kau akan menonton film porno?
Aya : Ya, tepat sekali. Aku akan menyaksikannya dalam bentuk yang sangat nyata. Bukan lagi di layar televisi, komputer atau HP. Akan tetapi secara live di depan mataku sendiri. Karena yang kulihat dan kutonton adalah istriku sendiri!
Rea : Wow, mengagumkan sekali. Aku suka bahasamu. Seperti yang kau tahu, kita ini adalah remaja yang belum dewasa. Lebih tepatnya kita berdua adalah manusia labil. Apa kau tak pernah tahu bagaimana labilnya manusia seperti kita?
Aya : Aku tahu. Aku pun sadar kalau aku adalah manusia labil. Mungkin suatu saat aku akanmengingkari ucapanku tadi. Tapi, siapa yang bisa menentukan? Untuk urusan 17+ aku tak mau mengorbankan masa depanku. Apalagi masalah sex.
Rea : Oya? Bukankah sesuatu yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri? Ucapanmu tidak dapat aku pastikan. Aku pikir kau akan mengingkari ucapanmu, cepat atau lambat.
Aya : Bisa kau jelaskan?
Rea : Begini, hal-hal yang kau bicarakan tadi adalah teori hitam-putih. Dimana hitam dianggap jahat dan putih dianggap baik. Kau mengatakan—tentunya secara tersirat—kalau sex itu mengotori pikiran remajamu. Seolah-olah sex itu hanya milik orang dewasa saja, dan kita tidak berhak. Aku ingin bertanya padamu tantang satu hal yang sangat pribadi. Apakah kau sepenuhnya tidak pernah melakukan hal-hal yang berhubungan dengan sex? Satu permintaanku: jawab dengan jujur.
Aya : Maksudmu?
Rea : Membaca artikel sex sendirian tanpa diketahui orang lain, menonton film porno sendirian, websex, atau bahkan kau melakukan…
Aya : Aku mengerti! Jadi yang kau maksudkan itu adalah aku melakukan hal-hal “tanda kutip” sendirian, begitu?
Rea : Pertanyaanmu terlalu polos untuk ukuran seorang remaja. Aku hanya bisa katakan kalau hal itu adalah yang kumaksud.
Aya : Dengan kata lain, kau ingin aku berkata jujur secara pribadi, bukan?
Rea : Aku pikir pikiranmu terlalu parsial—memisahkan pribadi dan masyarakat. Bukankah pribadimu mencerminkan siapa kau sebenarnya?
Aya : Baiklah. Namun pertanyaanmu terlalu menyimpang dari konteks.
Rea : Maka dari itu, segera buka kedok munafikmu!
Aya : Untuk apa? Pentingkah?
Rea : Kadang teori tak sesuai dengan kenyataan. Kadang ucapanmu belum tentu benar 100%. Jadi, banyak celah untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilanggar.
Aya : Apa aku harus membeberkan sitat burukku di hadapanmu? Apa untungnya? Mungkin kau puas ketika semua sifat burukku terbongkar, dan kau menang. Setelah itu…apa lagi?
Rea : Itu saja. Aku hanya ingin kau tidak menjadi orang munafik. Hanya itu.
Aya : Kau harus tahu kalau sampah itu harus kita tampung di satu tempat yang jauh dari keramaian. Sama, kesalahanku juga harus kusimpan dan jangan sampai orang lain mengetahui—semua orang pun selalu begini. Karena jika kukeluarkan akan menimbulkan “bau tak sedap” yang memungkinkan orang-orang menjauhiku. Bukankah kau juga begitu?
Rea : Namun aku tidak sepertimu!
Aya : Ya, kita tidak sama dan tidak akan pernah sama. Tapi, sifat dasar kita sebagai manusia adalah sama.
Rea : Namun aku bukan kau!
Aya : Secara tidak langsung, kata-katamu menunjukkan kalau kau tidak mau mengakui kenyataan yang memang sudah nyata. Kau harus tahu satu prinsip manusia: Munafik itu perlu.
Rea : Aku benci orang munafik!!!
Aya : Tapi kau juga munafik!
Rea : Bisa kau buktikan???
Aya : Tak kubuktikan pun hal itu sudah terbukti. Kenapa kau tidak ambil saja HP seri terbaru milik ayahmu? Bukankah kau menginginkannya?
Rea : Itu pencurian namanya.
Aya : Itu bukan pencurian. Itu adalah sifat pengecut dengan segala kemunafikan yang kau punya. Kalau kau memang suka sex, kenapa tak kau lakukan saja dengan wanita mana pun dan dimana pun tempatnya. Kenapa kau hanya berani nonton film porno saja? Kenapa tak kau ajak adikmu untuk tidur bersamamu? Bukankah dia cantik dan menggairahkan untuk laki-laki normal sepertimu?
Rea : ……[diam]
Aya : Kala kau beranggapan semua kemunafikan manusia itu adalah sampah, kau salah besar! Karena kau juga munafik dengan segala ketidakberanianmu. Manusia butuh munafik untuk menjaga diri dari hal-hal yang dia pikir beresiko tinggi jika dikerjakan.
Rea : ….[berpikir]
Aya : Lihatlah, ketika kemunafikan telah dilucuti dan dibuang oleh sifat “tidak tahu malu”, banyak kejadian yang kita semua tidak inginkan. Lihatlah berita-berita kriminal di TV. Bukankah kita sering mendengar seorang ayah tega menodai anak gadisnya sendiri yang baru duduk di bangku SMP? Dengan kata lain, si ayah berkata: “Aku tidak munafik lagi. Aku memang menyukai anak gadisku dan aku ingin bercinta dengannya”. Bukankah dia telah melepaskan kemunafikannya sehingga terjadilah apa yang seharusnya [tidak] terjadi?
Rea : …[merenung]
Aya : Kadang…munafik itu perlu. Aku hanya berharap kau menjaga baik-baik rasa munafik di dalam hatimu. Setiap hari kau akan membutuhkannya untuk menjagamu dari hal-hal yang tak diinginkan.
Rea : ….[masih merenung. Atau mungkin telah sadar dari perenungannya?]

Setelah perdebatan panjang mengenai freedom, humanity dan ridiculous.

Saturday, July 22, 2006

Korupsi dan Pendidikan Kita

Oleh: M Zakky R
Sudah sejak lama korupsi di negeri ini bersemayam. Dari pemerintahan orde baru sampai orde reformasi. Bahkan jika ditinjau kembali, dari mulai zaman kolonial Belanda berkuasa, korupsi telah ada. Masih ingat dengan VOC? VOC hancur bukan karena serangan tentara Indonesia atau tantara mana pun. VOC hancur karena satu kebiasaan para pejabatnya. Ya, kebiasaan itu bernama korupsi.
Indonesia adalah negara yang kaya. Tanahnya subur, hutannya banyak, hasil lautnya melimpah. Itu baru dari sumber daya alam hayati. Lalu bagaimana dengan sumber daya alam lainnya? Jangan pernah tanyakan hal itu. Semua orang sudah mengetahui kalau Indonesia adalah surganya sumber daya alam. Maka tak heran banyak orang asing melirik negeri ini. Entah itu hanya sekedar investasi atau bahkan intervensi. Apakah Indonesia sekarang ini masih kaya? Tentu saja. Indonesia sekarang tetap menjadi negara yang kaya, subur dan makmur. Ya, kaya dengan para koruptornya, subur dengan praktek korupsi dan makmur bagi sebagian kalangan yang berduit saja.
Diakui atau tidak, demikianlah kenyataannya. Negara ini memang salah satu lahan tersubur untuk korupsi. Hampir semua instansi baik pemerintah maupun swasta ”akrab” dengan korupsi. Namun, bukan berarti saya ingin menjelek-jelekan negara ini—negara saya. Tidak sama sekali. Sebagai orang Indonesia, saya hanya ingin negara ini ”bersih” dari praktek korupsi. Walaupun rasanya sulit.
Beberapa hari yang lalu, saya mendengar kasus pencabulan terhadap bocah perempuan tingkat SD. Pelakunya tak lain adalah seorang siswa tingkat SMP. Akibat kejadian itu, si bocah mengalami trauma hebat dan beban mental. Sedangkan si pelaku dimasukkan ke dalam penjara setelah babak belur dihajar warga. Perlu diingat, kejadian seperti ini sering kita lihat di TV. Namun, sepertinya ada yang ganjil. Bagaimana mungkin seorang siswa SMP melakukannya? Sedangkan materi pelajaran biologi belum sampai sejauh itu. Bahkan guru biologi juga belum pernah mengadakan (maaf) praktek hubungan intim sesama siswa. Sungguh aneh.
Sama halnya dengan korupsi. Tidak ada satu sekolah pun di negara ini yang memberikan mata pelajaran korupsi. Justru banyak dari bidang studi yang kita pelajari malah menentang keras terhadap korupsi. Tapi mengapa produk-produk sekolah yang dihasilkan justru sangat ahli di bidang korupsi? Kontras sekali dengan buku PPKN yang mengharuskan kepada setiap pelajar agar menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran.
Perlu diingat juga bahwa para koruptor yang telah terbukti bersalah adalah orang-orang dengan tingkat pendidikan tinggi. Dengan kata lain, mereka tahu mana baik dan mana buruk. Atau, kalaupun tidak, minimalnya ia seorang pejabat. Atau bahkan ia merangkap sebagai orang berpendidikan tinggi sekaligus pejabat. Sehingga mudah untuk memanfaatkan berbagai fasilitas serta menyalahgunakan kekuasaan publik yang diwakilkan kepadanya. Hal ini benar dan memang terbukti.
Jika melihat fakta seperti ini, apakah harus dibuat semacam kurikulum pendidikan antikorupsi? Perlukah sekolah-sekolah menambah bidang studi yaitu mata pelajaran antikorupsi? Saya pikir tidak usah. Bahkan tidak perlu sama sekali.
Ketika bangsa ini khawatir akan pengaruh pergaulan bebas dan maraknya prostitusi, muncul satu solusi bernama sex education atau pendidikan sex. Berisi informasi dan penjelasan yang benar seputar masalah sex. Namun banyak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan apa sebenarnya sex education itu. Sama halnya dengan urusan korupsi. Untuk masalah korupsi, bangsa ini memang bangsa korup. Namun tidak seharusnya hal semacam ini dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan kita. Karena sebenarnya beberapa mata pelajaran di sekolah pun telah mengajarkan nilai-nilai keadilan, kebenaran dan lain sebagainya. Secara otomatis, para pelajar tentu telah bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk, termasuk dalam urusan korupsi.
Selain itu, sistem UAN—Ujian Akhir Nasional—yang cenderung menitikberatkan pada hasil ada baiknya dirubah. Karena siswa akan berpikir bagaimana caranya lulus daripada memikirkan proses pembelajaran selama beberapa tahun di bangku sekolah. Hal ini memancing setiap siswa untuk berpikir instan sehingga ada kecenderungan menghalalkan berbagai cara.
Intinya, masalah korupsi di negara ini tidak lepas dari mutu dan sistem pendidikan itu sendiri. Semakin baik mutu dan sistemnya, maka kemungkinan besar korupsi dapat diminimalisir. Akan tetapi, jika mutu dan sistemnya buruk, kemungkinan besar korupsi dapat tumbuh subur walaupun tidak kita inginkan.