Monday, June 09, 2008

TWO DAYS BEING AN ADJUDICATOR


Ahmad, Harfa, dan Ria

Gue, Panji, dan Ediethya. Ya, kami bagaikan pasukan Beettle Borgs jika tidak dibilang ban becak. Kami bertiga adalah utusan dadakan kampus Unisba. Bayangin aja, surat udah
dikirim sebulan kemaren, tapi informasi jelasnya baru gue terima sekitar seminggu sebelum acara. Dan parahnya, surat tersebut disimpen dulu sama bagian kemahasiswaan!
Ya, kami adalah perwakilan kampus dalam acara NUEDC 2008 di UPI. NUEDC ini semacam kontes debat bahasa Inggris tingkat mahasiswa yang berasal dari region B1, terdiri dari Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Selama 3 hari gue dan yang lainnya mesti stand by di UPI sampe maghrib dan pulang malem banget.
Bento, sang pembimbing kita di debat kali ini udah capek hate plus capek gawe. Dia Cuma nargetin ikut juga udah syukur. Ya, hanya sebatas itu. Hmmm…ternyata banyak sindrom gagal yang berkeliaran di otak manusia. Karena kenapa? Karena kita nggak ada persiapan apa-apa. Bahkan, latihan aja Cuma seminggu sebelum debat. Can you imagine that?
Karena NUEDC menggunakan sistem British, maka peserta debat hanya berjumlah 2 orang /tim. Berbeda sama sistem Asian dan Australian yang mengharuskan 3 orang /tim. Terus, gue dikemanain? Gue nggak jadi ikut debat dan gue nggak masuk skuad Unisba. Tapi gue diajukan untuk jadi adjudicator atau tim penilai. What the…??? Gue, jadi tim penilai? Oh, apa gue pantes menilai orang berdebat? Gue belum punya pengalaman kalo jadi adju (a.k.a adjudicator). Sedangkan skuad Unisba diisi oleh Panji (temen gue di Fikom, calon penyiar di SKY) dan Ediethya (Anak psikologi, walopun namanya agak maskulin sebenernya dia cewek).
Ternyata untuk menjadi seorang adju harus mengikuti tes adjudicator. Dan tes ini berlangsung tanggal 27 Mei 2008 atau hari selasa kemaren. Tapi anehnya, ada surat yang nyampe ke Bento kalo pembukaan NUEDC dilaksanakan pukul 19.00 di ruang BPU UPI. Ini berarti acara diundur dari siang jadi malem. Renacan tes adjudicator yang tadinya tanggal 27 pukul 14.00 nggak jadi. Kemungkinan diundur ke malem. Pikir Bento.
Ternyata salah. Waktu kita mau berangkat dari Unisba setengah tujuh malem, tiba-tiba ada panitia yang nelfon dan nanyain kenapa Unisba nggak dateng pas tadi siang. Ya Bento jawab kalo di surat pembukaannya kan jam tujuh malem. Berarti kta berangkat malem. Dan panitia pun ngasih klarifikasi kalo surat yang tadi dibaca Bento itu adalah surat buat pihak rektorat alias buat pak Rektor, bukan buat peserta. GUBRAKSSS!
Gue, Edieth, dan Panji Cuma bisa bengong nggak percaya. Bento, untuk kesekian kalinya menjadi merasa sangat guilty. Karena udah banyak rekor yang dia pecahkan kalo dalam kasus miskomunikasi. Tapi untunglah panitia nggak mendiskualifikasi kita. Panitia tetep nyuruh kita pergi ke UPI saat itu juga. Waktu menunjukkan pukul 18. 30 WIB.
Tiba di UPI pukul 19.00 dan langsung menuju gedung BPU. Di sana udah ada tamu undangan yang rata-rata terdiri dari kalangan akademisi dan pejabat. Ada segelintir mahasiswa juga yang ikut di sana. Kita berempat langsung masuk aja ke gedung BPU dan duduk menyaksikan pembukaan. Setelah itu konfirmasi ke panitia soal kecerobohan surat tadi. Well, kita tetep boleh ikutan debat, tetapi nggak buat adju. Adju boleh ikut besoknya tapi nggak bisa ngasih penilaian. Dengan kata lain, gue Cuma jadi adju training dan penilaian gue nggak berpengaruh buat tim yang bertanding karena gue nggak ikutan training dan kualifikasi adjudicator tadi siang. Gara-gara surat salah sasaran tersebut, gue nggak merasa jadi adju yang sebenarnya. Ah, sial!
Besoknya pagi-pagi sekitar jam 8 gue, Panji, dan Edieth udah stand by di UPI. Lomba mulai jam 9 pagi. Sebenernya, gue juga pesimis dengan kondisi saat ini. Kondisi yang menyedihkan dimana pembahasan motion debat nggak begitu mendalam dan terkesan seenaknya aja. Gue juga hanya bisa berdoa semoga Panji dan Edieth diberikan ketabahan dan kekuatan apabila digempur habis-habisan oleh pasukan Unpar, Unpad, UPI, dan terutama ITB.
Tibalah waktu yang dimulai. Peserta debat memasuki ruangan yang bernama debaters hall. Sedangkan adjudicator memasuki ruangan yang bernama adjudicator’s room. Ya, tentu saja gue memasuki ruangan buat adjudicator. Di sana, gue bertemu dengan manusia-manusia baru. Gue bertemu dengan orang-orang yang baru dan memiliki idealisme yang jelas.
Erry, head of adjudicator, gayanya cuek banget. Inez, salah satu dedengkot adjudicator gayanya juga cuek. Pokoknya, waktu gue masuk ke ruangan tersebut, gue nggak menemukan aura bersahabat. Lebih cenderung individualistis. Gue hanya sempat berkenalan dengan seorang laki-laki dari Unswagati Cirebon yang bernama Taryadi lengkap dengan logat Jawa-Panturanya yang medok.


Take a rest

Debate Session 1
Kali ini gue berada di room 7. gue sebagai adju training ternyata satu tempat dengan Taryadi. Sementara Chief adju yang bakal menilai terdiri dari Erry, Harris, dan Novi. Di depan kita semua udah ada 4 tim berbeda yang bakal tanding. Gue lupa dari mana, tapi yang gue inget tuh IPB sama Unsil. Dua lagi gue lupa.
Yeap, yang namanya debat tentu aja perang argumen. Tiap tim ngasih argumen dan analisisnya masing-masing. Sementara gue—dengan kemampuan terbatas sebagai adju—hanya mengamati dan mencatat poin-poin penting. Pokoknya, kami semua mencoba menjadi serius.
Dan akhirnya debatpun selesai. Setiap adju memberikan pandangan masing-masing tentang tiap tim yang bertanding. Debat kali ini motion-nya adalah This house justify internet gambling. Cukup sengit dimana IPB memenangkan debat di room 7 ini. Tapi untuk penilaian, debat kali ini tergolong gampang karena keliatan banget mana tim kuat dan lemah.
How about Unisba? Tidak, ternyata Unisba kalah telak. Bahkan nggak dapat poin sama sekali. Panji sama Edieth udah lemes banget. Bahkan Panji udah buru-buru mau pulang aja dan kuliah. Mungkin jika diurutkan, Unisba menempati posisi 28 dari 28 peserta. Sedih.
But, the struggle never ends. Karena masih ada dua kali lagi pertandingan debat yang harus diikuti oleh semua tim, termasuk Unisba. Bento terus ngasih motivasi dan gue sedikit ngasih bocoran trik-trik supaya posisi Unisba terangkat ke klasmen yang lebih tinggi. Gue kasih tau aja Edieth dan Panji supaya maen lebih ngotot serta memperbanyak POI (Point of Interruption) serta membuat rumusan masalah yang lebih sistematis supaya juri nggak bingung.

Debat session 2
Ini dia debat yang seru. Ada setidaknya 3 tim yang adu kekuatan dan bisa dirasa seimbang. Mereka adalah ITB, Unpar, dan IPB. Kebetulan gue sama Harfa—pernah juara JOVED 2006—jadi adju di room 1. terutama ITB yang sangat superior, Unpar dan IPB masing-masing menempati urutan 2 dan 3.
Gue sempet keki waktu peserta dari ITB nyampein argumennya. Gila, bahasa inggrisnya fluent banget. There’s no idle, he spoke along time as we given. Selain itu argumennya emang bagus banget.
Gue sempet ketawa-ketiwi sendiri waktu peserta yang bernama Andrew (Unpar) ngutarain pendapatnya. Bukan karena pendapatnya salah, namun lebih karena pendapatnya lucu. Perlu diketahui kalo motion kali ini adalah This House Belive former public official should be treated as ordinary citizen. Andrew yang posisinya sebagai Opening opposition mengutarakan pendapat (kurang-lebih) kayak gini: Let we see. We have parrents. We have to care to our parrents. So, the former public official is like our parrents. They have been growing up us. They have built this nation. So, we have to care about them. We have treat them specially. Dia menyatakan bahwa mantan pejabat adalah orang yang berjasa terhadap kemajuan bangsa dan menganalogikannya dengan orang tua kita. Maka kita harus menyayanginya dengan memberikan perlakuan istimewa. Hehehe….
Ternyata emang bener. Debat session 2 kali ini sangat menarik. Apalagi setelah gue keluar dan ketemu sama Panji dan Edieth. Mereka sumringah banget dan bilang ke gue: Zak, kita juara! Kita ke-1! Kita dapet tambahan 3 poin! Yeah, apa gue bilang. Makanya, sering-seringlah POI dan maen ngotot.

Debat session 3
Nah, sekarang gue ada di room 4. sekarang sekitar jam setengah 3 sore. Di sini udah ada chief adju yang terdiri dari Novi, Eman, dan Etha. Sedagkan gue dan Anan jadi training adju. Untuk orang yang bernama Etha, ada sedikit garis bawah. Nama aslinya Margaretha. Cantik & lucu banget nih orang hehe...
Debat berlangsung biasa saja dan nggak terlalu rame. Bahkan gue sempet shock waktu ada peserta dari Kalimantan yang bikin seisi ruangan ketawa. Bayangin aja, kita semua lagi serius-seriusnya nilai, dan ketika peserta dari Kalimantan tersebut dapet giliran buat nyampein argumennya, dia keliatan PD banget. Dari segi pencitraan, gue yakin banget nih orang sangat meyakinkan dan telah menguasai motion. Dan lo tau kata-kata apa yang dia ucapkan sebelum menyampaikan debat? Jawabannya adalah ‘Good Morning everybody...’!
Whaaaa...!!! tidak! Yang bener aja...? ini udah jam tiga sore, mbak! Masya Allah... gue dan Anan ketawa-ketiwi nggak jelas. Ya ampun, runtuh sudah kepercayaan yang gue bangun beberapa menit yang lalu.

”Zak, gue seneng banget! Kita tadi lepas banget maennya. Insya Allah deh kita menang lagi!’ Begitulah teriakan Edieth dan Panji. Untuk kedua kalinya gue merasakan perubahan mendasar dalam benak dua anak manusia ini. Dua anak manusia yang sebelumnya Cuma memnuhi kewajiban kampus supaya kampus eksis di mata mahasiswa lain. Tapi, setelah gue dan Bento ’nyetrum’ mereka, akhirnya ada juga perubahan. Bahkan Panji sempet mau menitikkan air mata haru karena akhirnya Unisba menempati klasmen sepuluh besar (posisi 9) dan berhak melanjutkan ke babak quarter final!
Peringkat 9 sudah cukup bagus buat tim yang sebelumnya peringkat 28 dari 28 peserta. Tapi tetep, gue masih belum puas. Besok adalah babak 16 besar. Dan besok mesti bisa tampil all-out karena Unisba satu grup sama ITB!

Esoknya...
’Haduh Zak, gue cari bahan tadi malem sampe-sampe larut banget.’ Ujar Panji.
’Tuh kan, kata gue juga apa? Pas dulu banyak waktu luang leha-leha. Eh, pas pertandingan udah di depan mata baru deh sibuk nyari bahan.’ Edieth dan Panji Cuma bisa nyengir.
’Tapi Ki, Edieth mah nggak nyari bahan tuh.’
’Iya, gak apa-apa Dieth. Yang penting maennya mesti tetep ngotot dan perbanyak POI ok?’
’Siiip...’
Well, perlombaanpun berjalan. Lagi-lagi gue nggak sempat menyaksikan rekan satu kampus gue tanding. Because what? Because i got the shift in other room. Dan entah kenap gue selalu kebagian IPB. Bahkan, untuk yang satu ini ada duo IPB yang tanding. Duh, should I recognize Unisba in my dream till I get one chance to see how Edieth and Panji show?
Babak 16 besar emang ketat banget. Dan yang paling menarik adalah banyaknya kejutan yang datang. Selain karena majunya beberapa tim dari Kalimantan ke perempat final, pada kesempatan kali ini ada dua berita mengejutkan. Pertama, Unisba kalah (biasa aja...). kedua, ITB ikut-ikutan Unisba alias ITB kalah brow! And U know, ITB and Unisba can be lost by ABA Kalimantan! Do you belive it?
Ya, kalo Unisba akan menerima apapun hasilnya dan (seolah) pasrah. Masuk 16 besarpun udah bagus. Tapi tim yang bermental juara dan menjunjung tinggi perstige seperti ITB tak akan membiarkan begitu saja hal ini terjadi. Upi, salaha satu peserta dari ITB ngotot nggak nerima hal ini. Dia pun ngadu ke panitia. Dan tahukah kalian bahwa ketika ngadu ke panitia, Upi protes menggunakan bahasa Inggris yang lancar banget! Dia nggak terima dengan hal ini! Memang harus seperti itulah tim bermental juara.
Setelah ITB dinyatakan tak bisa melaju lagi, akhirnya ribalah saat yang ditunggu-tunggu: babak final. Ada empat tim yang melaju yaitu Unikom, UPI, Unpar A, dan Unpar B. dibandingkan dengan tiga tim lainnya, Unikom yang (menurut gue) terlalu kelihatan lemahnya dan gue rasa nggak sebanding jika disejajarkan dengan UPI dan Unpar. Mereka Cuma rebutal dan rebutal. Nggak ada definisi yang jelas dan solusi yang ditawarkan. Dan inilah para pemenangnya:

1’st : Unpar A
2’nd: UPI
3’rd: Unpar B

Ini bakal jadi pemanasan buat JOVED juli nanti. Congratulations!

Saturday, May 31, 2008

Sayap Jiwaku

Malam sunyi tak tergetarkan
Renungan sepi menyelimuti
Relung jauh dalam dirku
Berbisik,
Berkata malu-malu,
Menelusuk jauh

Tentang sesuatu yang ingin kuucap
Tentang jiwa yang terus kucari
Tentang seseorang

Memikirkanmu adalah waktu yang terus kubuang
Membayangkanmu tak ubahnya menyiksa diri dengan sabuk silice
Tajam, berduri, menyeramkan, dan berdarah-darah

Sebuah kebodohan adalah mengenal dirimu
Menghimpit ruang, melambung jiwa
Meletup-letup bak pistol
Menerjang,
Menerawang,
Dan sampailah pada satu titik

Kupunya sayap
Tapi tak bisa terbang
Hanya bersamamu kubisa melayang
Kau adalah sayapku yang tertinggal

Oh, sayap jiwaku
Terlalu lelah mengejar
Kau terlalu cepat dan menyiksa

Kembalilah,
Dan menyatulah denganku
Kau tercipta untukku
Takdir telah menggariskan kita untuk bersatu
Tak ada kata selain satu, sayap jiwaku




note: Puisi ini kubuat di saat orang lain terlelap tidur sedangkan aku terjaga. Terjaga dari semua hal yang membuatku gila akhir-akhir ini karena aku terlalu pengecut. Kucoba berlari untuk menghindar, tapi tak bisa dan tak kan pernah. Satu-satunya cara adalah aku harus jujur, jujur terhadap diriku sendiri bahwa dia adalah penerang, penyemangat, oase.

Terserah kau anggap ini 'annoying' or something else. Aku hanya berusaha untuk jujur. Jika seandainya aku tak bisa berterus terang padamu, setidaknya kau tahu apa yang sebenarnya. For 'little girl' who always shapes my dream...

Thursday, May 08, 2008

SUKSES ITU....???

08 Mei 2008

Semua karena semangat. Tak ada kata selain semangat. Percuma kau punya skill jika tak dibarengi semangat. Semangat adalah jalan panjang menuju sebuah pertemuan mengejutkan bernama momentum.

Kemarin, aku sempat berdiskusi dengan bang Iwan—staf bidang marketing di sebuah penerbitan. Sebenarnya ngobrol dangan dia adalah hal biasa yang kulakukan di kampus. Hampir setiap minggu jika tak ada halangan, kita berdua selalu menyempatkan untuk diskusi tentang masalah-masalah apapun. Penerbitan tentu saja jadi perbincangan, kondisi kampus menjadi bahan kritikan, jalanan di Bandung sangat menjengkelkan, tulisanku yang sempat ditolak, gadis-gadis Unisba yang aduhai memikat hati, dan kondisi internal BEM masing-masing. Ya, hampir tak ada yang berubah setiap kali bertemu. Topik yang dibahas selalu itu dan itu saja. Tak ada yang baru.

Namun kemarin, aku benar-benar dibuat sadar akan satu hal. Tak kusangka pertemuan itu begitu sangat kebetulan. Dimulai dari diriku yang biasa nangkring di BEM, secara tiba-tiba bang Iwan datang dan menyapa.

’Ada kuliah kau hari ini?” Dengan logat batak yang kukenal.
’Udah beres, bang.’
Kami berdua duduk. Dan seperti biasa, percakapan dimulai.

’Gimana, sudah kau tamatkan tulisanmu?”
’Belum, bang.’
’Kau jangan putus semangat karena naskahmu ditolak. Justru di situlah kau harus bangkit.’
’...’ Seperti biasa, suntikan motivasi.
’Aku sebenarnya iri sama adik aku. Umurnya empat tahun di bawah aku...’ Sambil menerawang ia melanjutkan percakapan, ’Tapi dia udah lulus sarjana dan sudah nulis buku. Aku yang udah umur 28 tahun, masih saja tetep kayak gini.’
Bang Iwan pernah cerita kalau dia punya adik yang kuliah di Unpad. Selain lebih muda, adiknya juga sedikit lebih beruntung. Novelnya sudah diterbitkan oleh beberapa penerbit terkemuka.
’Dulu aku lebih mentingin kerja di penerbitan. Kuliah terbengkalai. Gaul pun jarang. Aku berorientasi sama kerja dan tak pernah sosialisasi. Tapi pada akhirnya, aku sadar kalau itu salah. Aku ngerasain itu sekarang.’
Wow!
’Kau tahu Zak saudara aku? Dia saat ini sudah sukses karena pernah mengalami cobaan hidup. Dia pernah jatuh ke titik nadir hidup dan tak mempunyai motivasi untuk bangkit. Uangnya dibawa kabur oleh orang yang baru dia kenal. Tetapi sekarang dia telah menjadi salah satu prototipe manusia sukses. Mobilnya banyak, istrinya cantik, uang gampang, dan segala apa yang dia pengen tinggal bilang.’
’Wow, keren banget bang!’
’Dia pernah tak mempunyai apapun. Tetapi untunglah ada orang yang mengerti dengan keadaan dia. Dia terus dimotivasi oleh orang tersebut dan pada satu kesempatan, dia dipinjami modal sebesar tiga juta rupiah. Kau bisa bayangkan uang tiga juta mau dipake usaha apa?’
‘Hmmm…kecil banget, bang. Aku nggak tahu dia mau buka usaha apa.’
‘Uang itu dia belikan satu unit komputer pentium 2, kertas, dan printer. Untuk apa? Untuk ngetik naskah.’

DARRR!!!

Aku seakan disambar petir ketika bang Iwan bilang ‘untuk ngetik naskah’. Dengan modal pentium 2 pula. Aku nggak habis pikir.

‘karena dia ahli dalam bidang psikotes, maka dia buat sebuah buku panduan psikotes. Setiap hari tak ada kata selain ngetik dan ngetik. Sampai naskah pedoman psikotes itu jadi dan dikirim ke penerbit. Dan akhirnya diterima. Kau tahu, di situlah hidupnya berubah.’

Turning point!

‘Coba kau bayangkan, mobilnya sekarang itu bekas menteri. Plat nomernya saja masih pakai embel-embel RI di depannya. BMW-nya saja sudah puluhan. Mau ini tinggal beli. Mau itu tinggal ambil. Pokoknya ngeri lah aku dibuatnya.’

Jangankan abang, aku saja merinding membayangkan hal itu.

’Makanya, kau jangan putus asa. Jadi penulis itu sebenarnya ngeri. Ngeri kalau tulisannya jadi best seller. Dimana ada orang penghasilannya Rp. 120.000.000 tiap bulannya? Penulis bisa!’

Sudah bang, aku tak kuat mendengarnya! Rp 120.000.000 bisa beli kerupuk se-kota Bandung. Atau aku akan belikan motor baru, beli laptop, ganti HP, investasi, dan sisanya ditabung buat nikah haha...
Terus terang aku migrain. Penghasilan sebesar itu belum terpikir olehku. Aku baru berpikir kalau nanti aku bekerja penghasilanku harus diatas sepuluh juta rupiah—dollar juga bolah, Amien. Rp 120.000.000? cukup untuk memberi makan orang miskin satu bulan!

’Teruslah berkarya. Aku yakin suatu saat kau akan jadi sepeti itu.’
Amien. Beribu-ribu ’Amien’ kuucapkan dalam hati.
’Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku, bang.’ Dengan nada tertahan, giliraku yang berbicara.
’Apa itu?’
’Aku terperangkap oleh sebuah kalimat motivasi. Kalimat itu buatku jadi beban berat. Dan seolah aku merasa dipaksa untuk menjadi seseorang.’
’Kalimat apa itu?’
’kalimat motivasi biasa bang.contohnya seperti ini ’jika Bill Gates, Thomas Alfa Edison, dan Einsten mampu menciptakan berbagai penemuan besar modern, kenapa kita tidak bisa seperti mereka? Bukankah mereka sama seperti kita?’
’Apa yang jadi beban?’
’Aku seolah dituntut untuk menjadi orang lain, bukan diriku yang sebenarnya. Aku terjebak dalam teori. Aku dituntut untuk menjadi Thomas Alfa Edison, aku dituntut menjadi seperti Bill Gates, seperti Einstein, padahal aku tak mampu menjadi seperti mereka. Kemampuanku tak bisa seperti mereka. Dan yang paling parah, kata-kata motivasi tersebut sangat membangun sekaligus membunuh.’
’Kau tahu, menulis itu bukan beban. Menulis adalah seni. Seni mengolah kata menjadi kalimat berkaitan sehingga membentuk suatu kejadian yang bisa dipotret oleh orang lain. Pada akhirnya, dia mengandung suatu makna yang berarti. Kau harus tahu, salah satu indikator buku itu bagus adalah komentar beberapa tokoh—endorsement—yang terpampang dalam buku. Percayalah, menulis bukan beban. Waktu pertama kali kulihat tulisanmu, aku sudah merasakan kalau tulisan kau itu punya kekuatan. Walaupun beberapa terkesan masih rancu, but it’s ok tulisanmu sebenarnya sudah bisa dijual dan diterbitkan. Hanya masalah semangat yang kadang kau sendiri tak punya.’
’Hmmm...semangat ya?’

Gejala psikologi memang salah satu penghambat untuk terus semangat. Tetapi, yang sering aku alami adalah gejala procrastinator, gejala sering menunda-nunda untuk menyelesaikan pekerjaan—naskah.

’Saudaraku, kalau saja dia tak punya semangat, belum tentu dia bisa sesukses sekarang. Walaupun dia mempunyai keahlian dalam bidang psikotes, dia juga mempunyai semangat tinggi untuk menyelesaikan naskahnya.’
’...’
’Coba kau terus jaga semangatmu. Kalau kau terus bisa menjaganya, kau akan semakin dekat dengan kesuksesan. Ingat, orang gagal itu bukan orang yang tidak pandai. Orang gagal itu adalah orang yang tidak tahu kalau sebentar lagi dia akan sukses. Karena tak tahu, dia menyerah di tengah jalan dan mundur dari perjuangan hidup. Padahal sebentar lagi dia akan sukses.’
’Hmmm...iya juga sih bang. Karena terus semangat akhirnya ketemu juga sama momentum.’
’Setiap orang tahu kalau dirinya bisa sukses. Namun, satu yang mereka tak tahu: mereka tak bisa memastikan kapan waktu yang tepat untuk menjadi sukses. Sama halnya dengan kematian. Setiap orang akan mati, hanya mereka tak bisa memastikan kapan mereka meninggal.’

JLEBBB!

Aku seakan ditusuk pedang kesadaran. Kata-kata ini begitu membius dan mengendap dalam pikiran. Lama aku mencerna kata-kata seperti ini karena—mungkin—kata-kata inilah yang saat ini aku butuhkan.

Selama ini aku selalu mempertimbangkan dan penuh perhitungan. Kalau misalnya dikirm ke penerbit ini dan dimuat, aku akan bla..bla..bla..tapi kalau tidak dimuat harus bagaimana? Setiap kesempatan aku coba untuk selesaikan naskah, masak sih nggak dimuat? Ya, perhitungan matematis semacam inilah yang kugunakan waktu itu dalam menulis. Sudut pandang yang kugunakan bukan sudut pandang seorang penulis, tetapi paradigma pedagang di pasar. Tulisan, bagaimanapun jenisnya, adalah sebuah tulisan. Entah kau menyebutnya novel, roman, puisi, cerpen sastra, essay, artikel, semuanya adalah tulisan. Perbedaan yang mencolok adalah: dimuat atau tidak, diterbitkan atau tidak, dipublikasikan atau tidak, dinila atau tidak, dan dibaca atau tidak.

Aku harus lebih bijak lagi dalam memandang sesuatu. Tidak semuanya harus dihitung dengan angka, diukur oleh eksak, dikalkulasi dengan persentase, dan disajikan dengan data statistik. Yang terpenting adalah modal diri. Seberapa jauh semangat kita untuk bertahan, mampu memupuk kemampuan dan menyuburkannya dengan motivasi, sehingga hasil yang dituai bisa memberikan manfaat tidak hanya bagi pribadi tetapi juga bagi orang lain.

Percakapn diakhiri karena pukul 14.26 Bang Iwan harus masuk kelas kuliah. Aku yang duduk di sebuah kursi panjang hanya bisa merenung diiringi tatapan seorang gadis mungil yang sedang menyeruput minuman. Ah, mungkinkah gadis itu akan menjadi bagian tolak-ukur kesuksesanku? Hehe... ;p

Tuesday, April 15, 2008

Naskahku Ditolak!

KEJURANLIST[R]IKAN (Ini judul novel gw yang nggak jadi diterbitin)

Sedih, pastinya. Melihat kenyataan yang tak sesuai harapan. Ah, kenapa selalu meratapi nasib? Kita hidup bukan untuk dikasihani dan menjadi seorang masochis bukan?

Well, gw ceritain aja deh kronologis pembuatan novel sampe akhirnya dengan sukses novel ini ditolak--Untuk sukses katanya mesti ditolak dulu, hal ini berlaku untuk semua kegiatan dalam hidup, bahkan katanya dalam masalah cewek pun kita kadang mesti gagal dulu hehehe....

Sekitar bulan agustus 2007 kemaren gw bener-bener stuck. Pikiran jenuh dan rasanya pengen keluar dari kehidupan yang jenuh ini. Rutinitas kuliah yang stagnan dan lingkungan yang kurang kondusif membuat gw stres setengah mampus. Apalagi dengan aktifnya gw di sebuah organisasi kampus bernama Suara Mahasiswa (SM). U know tht? Iya, beberapa temen gw dah familiar dengan nama ini. Tapi waktu itu gw udah nggak familiar lagi, gw malah kyk yg gimana gitu....

Bagi kalian yang pengen masuk organisasi di kampus, ada baiknya pikir2 lagi. Memang bagus sih buat ngisi waktu luang dan ngembangin diri, tapi mesti pilih-pilih dan sesuai banget sama minat. Jangan masuk karena pengen keren atau nampang gaya doang. Ini salah besar! Bisa-bisa kalian menyesal seumur-umur.

Seperti kasus yang menimpa beberapa temen gue dan (tentunya) gw sendiri. Temen gue sampe ada yang diuber-uber supaya kumpul rapat. Sampe dia nggak bebas buat main atau sekedar ngobrol sama temennya gara-gara organisasi yang dia masuki menerapkan sistem 'pacaran'. Maksudnya begini. Seolah-olah, anggota yang udah masuk organisasi adalah 'hak milik' dan 'inventaris' yang harus dijaga sebaik-baiknya. dan parahnya, organisasi ini terkesan mengikat. Kalo dalam istilah pacaran mah organisasi kayak gini teh 'possesif' pisan lah. Gak boleh maen sama yang laen, gak boleh nongkrong kecuali di basecamp organisasi itu, gak boleh ini-itu, mesti rajin ke markas/ sekre setiap hari, rajin diskusi ini-itu, setor beunget, dll. Yah, possesif ternyata dianut oleh beberapa organisasi di Unisba. Makanya, jangan masuk Unisba hehehe...(heureuy)

Temen gw aja perjuangannya berat bgt buat sekedar menghindar dari 'intaian' orang-orang organisatoris. Kalo misalnya ketemu, kadang temen gw diajak ngobrol dan dibawa ke sekre organisasi tersebut. Ngeri banget! Ya walopun nggak disiksa sedemikian rupa, tapi tetep aja serem. Ya paling di sekre mereka diajak diskusi dan diberi sedikit psywar.

Untung sekali gw masuk SM. Karena menurut gw organisasi ini cukup demokratis dan menjunjung tinggi HAM. Mereka sangat menghormati kebebasan. Kalo seandainya gw nggak ke sekre, paling2 ditanya 'kemana aja?' atau 'Naha atuh jarang ka sekre?'. Setahu gw lom pernah ada yang ditarik dan digugusur wat datang ke sekre. Juga belum ada aksi sporadis anggota SM ditahan selama sehari dua tahun di sekre. Yah, paling-paling ditanya aja dan seikit 'psywar'.

Karena stres dengan organisasi tersebut, gw mencoba untuk menuangkan perasaan stres gw di komputer. Waktu itu gue keluarin keluh-kesah tentang SM--organisasi yang gue singgahi. Semua unek-unek dan persaan bercampur sedih dan senang gue keluarin. Kekesalan yang gue pendam gue keluarin. Jadilah sebuah tulisan dengan panjang 3 halaman A4.

Besoknya, gue nulis lagi. Kali ini nggak tanggung-tanggung gw nulis sampe 10 halaman. Dari sini gw punya ide, kenapa nggak dijadiin novel aja? Dan besoknya gue terus menulis. Sempet juga ketunda selama beberapa minggu. Namun dengan tekad kuat dan semangat penulis, gue selesaikan semua ini. Gue udah buta mata, gue pengen jadi penulis!

Das! Akhirnya sekitar 5 bulan berlalu, tulisan gue jadi. Panjangnya hampir 150 halaman spasi 1. Cukup panjang untuk tulisan semacam itu. Kebetulan ada temen yang ngenalin gue ke salah seorang editor buku. Dia bilang siap nerima naskah novel. Apalagi gue sama editornya berteman cukup baik. Semua hal tentang penerbitan dia ceritain.

Sampai tibalah hari bersejarah dimana gue menyerahkan novel ini. Dia juga optimistis naskah gue bakal diterima karena ada beberapa hal dari novel gue yang menjadi nilai plus. Pertama, susunan bahasa udah cukup bagus untuk novel remaja. Kedua, bodorannya nggak biasa. Ketiga, novel gue udah jadi (ya iyalah, kalo nggak jadi ngapain masuk penerbitan?)

Gue pun sumringah dan terbuai oleh khayalan. Apalgi setelah editor tersebut menganjurkan kalau semisalnya naskah gue diterima, gue mesti ambil sistem royalti. Jangan ambil sistem jual-naskah. Yeah, obsesi gue semakin membara!

Dia juga bilang kemungkinan besar naskah ini bakal jadi terbit. Ah, semakin sumringah saja hatiku ini!

Tapi, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Setelah 2 minggu menunggu, datang sms yang berbunyi: 'Zak, naskahmu blom dapat diterbitkan. Maaf ya...Ntar di kampus aku kasih tau kekurangannya' Sender: Bang Iwan.

JLEBBB!

Seakan ditusuk anak panak bergaram, gue terheran-heran. Ya, memang sih gue juga nggak berharap banget bisa langsung terbit. Soalnya saya adalah pemula. Tapi, pas denger naskah ditolak asa gimana gitu....

But, life must go on....

Sebenernya kalo buat dia, naskah gue udah ok. Tapi masalahnya editor yang lain. Karena ngedit novel ini turut pula editor yang lain yang sekiranya bisa menilai. Dan di sinilah letak ketidakberesan novel gue. Novel gue ceritanya loncat-locat, benang merahnya nggak dapet, dll. Di sinilah novel gue seakan 'ditelanjangi'.

Oh bumi, telanlah aku!

Ya mau gimana lagi, gue mesti nerima ini dengan lapang dada. kalo kita siap diterima, kita juga mesti siap ditolak. bang Iwan juga berpesan: 'Zak, kamu mau pilih mana? Nyerah atau terus ngejar ambisi kamu? Aku saranin kalo kamu pengen serius jadi penulis, kamu mesti coba terus. Kecuali kalo kamu milih pengen gagal'.

Gue pilih tetep terus. Karena menurut gue, gagal bukan pilihan. Gagal adalah ketidakmampuan untuk menentukan pilihan dan ragu akan pilihan. Gue nggak mau seperti itu. Gue bakal terus sampe janji gue ke temen gue suatu hari buku gue bakal dipajang di etalase sekaliber Gramed dan Gunung Agung.

Begitulah kisah setengah mateng dari gue. Walopun ditolak, setidaknya gue tau penyebab pastinya. Novel gue ini ditulis dalam kondisi stres. Dan ceritanya memang rada2 sakit. Sedangkan penerbit ini nggak biasa sama naskah yg lebih ke Personal literature. Mereka lebih ke novel-novel konvensional. No problem lah...

Mungkin gue bakal kirim naskah ini ke penerbit yang menampung naskah personal literature. Ya semisal Bukune dan Gagas. Semoga aja diterima. Amien....

Note: Setelah ini, gue bakal menyelesaikan novel pertama yang belum jadi-jadi juga, judulnya: GLOBALISUSI. Kalo ini beres, gue bakal beralih ke ide novel selanjutnya: BEM--Badan Eksklusif Mahasiswa. (Penulis mungkin harus menelan berbagai penolakan. Tapi suatu saat penolakan mungkin akan membuat kita menjadi lebih kuat dan terbiasa untuk berkarya).

Friday, April 04, 2008

Sebuah Alasan

"Ada saat dimana dia seolah menjauhimu tanpa alasan yang jelas, walaupun sebenarnya dia sangat mencintaimu. Entah kenapa, aku pun tak tahu. Wanita tak selalu harus punya alasan khusus untuk melakukan hal seperti ini. Tapi mereka punya jawaban, bukan sebuah alasan!"

Tuesday, March 04, 2008

Fenomena Kesurupan (LIVE)


(Walopun udah agak lama, tapi keun welah...)



Selasa, 22 Januari 2008
LDKM. Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa. Hmmm...sebenernya gue alergi dengan acara-acara yang sifatnya formal dan kaku kayak gini. Selama kurun waktu enam tahun di Garut, gue sudah mengalami asam-garam acara-acara semisal LDKM. Yang gue rasa, LDK macem gini acaranya monoton, menguras tenaga dan pikiran, capek, nggak dinamis, dan buang-buang waktu.

Alergi disebabkan pola pikir gue yang biasanya nggak sejalan. Kadang gue pengen berontak dengan keadaan kaku dan nggak dinamis. Tapi, mau gimana lagi? Toh waktu itu gue nggak tau apa-apa. Waktu itu masih polos banget.

Dan menginjak mahasiswa, kirain gue bakal ketemu sama suasana baru dan orang-orang hebat. Nggak tahunya justru—terkesan—lebih buruk dari ekspektasi awal. Nasib...nasib...

Semster tiga ini gue dipilih sebagai koordinator divisi acara LDKM. Oh my God! I’ts a bad news! I don’t like this! I hate! Nggak tahu siapa yang merekomendasikan gue untuk menjadi koord. div. acara LDKM. Tau-tau gue ditempatin di divisi acara, koordinator pula.

Bukannya gue nggak bisa ngurus kayak ginian. Gue Cuma nggak interest aja sama acara kayak gini. Gue juga udah nggak niat. Ditambah paradigma “status quo” yang menghinggapi sebagian besar panitia. Format acara tahun sekarang biasanya sama dengan acara tahun kemarin. Walaupun ada perubahan paling Cuma dikit.

Karena memang nggak niat, gue pun bekerja asal-asalan. Jarang rapat, jarang kumpul, jarang ngasih masukan, miskin kontribusi, dan menjadi pembangkan di garis depan. Cuma bisa ngritik dan ngritik, tapi nggak bisa ngasih solusi. Begitulah keadaannya.

Melihat polah sikap gue, beberapa panitia mengusulkan untuk memutasi gue ke divisi akomodasi. Dengan kata lain, gue turun kasta. Tapi tak apalah, justru gue bersyukur. Kenapa nggak sekalian aja keluarin gue dari kepanitiaan?

Gue menjadi tukang angkat barang dan perlengkapan. Apa panitia nggak liat apa body gue kecil kayak gini? Tandu, TOA, galon, nyiapin angkot menjadi tugas gue. Huhuhu...ya nasib.

Tibalah hari pemberangkatan. Hari selasa tanggal 22 semua peserta LDKM—yang notabene maba 07—udah kumpul di depan BEM. Dengan kostum aneh mirip alien—bola setengah yang dipake sebagai topi plus antenanya—semua berbaris rapi. Kemudian berjalan beriringan menuju angkot yang udah diparkir di depan kampus. Waktu menunjukkan pukul 13.00.

Gue dan Rangga—rekan satu divisi akomodasi—naek motor ke Lembang. Panitia kebanyakan pake motor. Peserta udah jelas naek angkot. Kita berjalan beriringan sepanjang jalan. Mirip rombongan mudik lebaran 2008.

Acara LDKM kali ini mengambil tempat di Balatkop—Balai Latihan Koperasi, Lembang. Tempatnya memang cukup jauh dari Jawa Timur (ya iyalah!). perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dari kampus Unisba. Balatkop sendiri tempatnya cukup strategis karena terletak di pinggir jalan. Alhamdulillah kita nggak usah mendaki gunung, lewati lembah. Nggak usah masuk perkampungan penduduk juga. Yah, pokoknya tinggal di sisi jalan dan masuk. Beres. Titik!

Sesampainya di Lembang, Edi dan kawan-kawan sudah sembuh...eh, maksud gue, semua panitia dan peserta langsung baris dan cek jumlah peserta. Hal ini dimaksud agar jumlah peserta di awal berangkat sama dengan jumlah peserta yang sampai di tempat tujuan. Panitia punya ekspekstasi kalau-kalau ada beberapa orang peserta yang mencoba bunuh diri dengan cara terjun bebas dari angkot jurusan Ciroyom-Lembang. Nggak lucu banget kan ntar ditanya, ”Yulastri?” Terus temennya jawab, ”Tadi terjun bebas dari angkot. Mungkin udah almarhum sekarang mah, teh.”
Ya, jangan sampe kejadian deh. Ntar dituntut lagi sama pihak keluarga.

Well, acara LDKM ini ternyata sesuai dengan prediksi awal gue. Bahkan, sebelum gue menginjak kuliah juga gue telah memprediksi—karena gue adalah futuris amatir—kalo acara ini bener-bener monoton. What i felt last year, nggak ada bedanya. Semua susunan acara sama dan formatnya pun nggak jauh beda. Yang beda Cuma tempat doang—dan tentunya gue sebagai panitia jadi tambah ganteng karena mempunyai fans cewek-cewek (akhwat) 2007. itu aja sih bedanya...

Jujur, gue nggak ngeh sama kondisi kayak gini. Bener-bener pengen pulang dan membawa kabur motor gue ke rumah. Biarin dituduh maling motor juga, soalnya ini kan motor gue!

Hari pertama, nggak ada sesuatu yang berarti. Semua serba monoton. Semuanya terlalu kaku. Semuanya membosankan! Puihhh...gue jadi inget DA. Huh, kalo gue bandingin acara mahasiswa dan acara barudak DA, jelas jauh banget. Soal kualitas, arah tujuan, final result, dan lain-lain. Matakna barudak, mun ngayakeun acara di DA tong satengah-satengah. Mun misalna kudu ribut jeng pihak pondok keun welah! Labaskeun weh...

Namun, semua berubah pas hari kedua. Dari yang semual monoton menjadi menegangkan. Dari yang semula biasa aja jadi luar biasa! Coz what? Kita semua kedatangan tamu tak diundang....

Sekitar pukul 20.00, 10 menitan sehabis gue shalat isya, para peserta yang lagi ngumpul di ruang sidang—karena ada simulasi persidangan—dikejutkan oleh beberapa orang peserta yang tiba-tiba pingsan. Korban pingsan pertama sebut saja Indah. Dia tiba-tiba pingsan dengan sebab yang nggak jelas. Mungkin karena capek. Atau mungkin juga karena sebab lain.
”Teh, ada yang pingsan!” Teriak beberapa peserta.
“Mana?”
“Itu!” Sambil menunjuk ke arah orang yang pingsan.
Pas beberapa temen gue yang merangkap panitia ngedeketin, mereka pucat banget. ”Ini kan....?”
”Udah, cepet angkat!” kata Dana.
Baru aja beberapa langkah ngangkat tubuh Indah buat dikasih obat, tiba-tiba Indah ngamuk tak terkendali. Dia bagaikan cacing kepanasan. Menggeliat, memutar, mencakar, dan berteriak sekeras-kerasnya. Set, dia kesurupan!

Sambil meraung-raung nggak jelas, dia terus mencakar-cakar. Gue yang agak shock dengan pemandangan kayak gini merinding ketakutan. Jujur, gue baru liat secara langsung gimana reaksi orang kesurupan! Walopun sering denger berita tentang kesurupan, baru kali ini gue liat yang kesurupan secara live! Hiyyy...amit-amit dah!

Maka, beberapa panitia laki-laki langsung mengamankan Indah. Mereka megangin tangan, kaki, kepala, dan badan Indah. Kita semua khawatir kalo misalnya dia ngelukain dirinya sendiri. Termasuk diantara panitia yang megangin Indah adalah gue! Gue bertugas megangin kakinya Indah supaya dia nggak ngamuk. Ampun deh, gue belum punya pengalaman dalam dunia takluk-menaklukan makhluk halus.

Baru beberapa menit Indah kesurupan, datang lagi korban selanjutnya. Windy, anak 2007, mengalami hal seruap dengan Indah. Dia kesurupan setan! Oh, tidak! Kenapa setan malem-malem gini pada berkeliaran bebas? Terus, kenapa korbannya cewek semua? Apa stok setan cewek di alam sana udah menipis gitu?

Windy ngamuk nggak ketulungan. Dia jerit-jerit sambil ngeluarin kata-kata kasar. Bahkan, ngamuknya Windy lebih parah daripada Indah! Indah dipegangin sama 5 orang juga cukup. Tapi Windy mesti dipegangin sama 10 orang supaya nggak ngamuk! Bener-bener nih setan ngerjain...

Maka atas nasehat beberapa senior, kita ngaji AL-Quran bareng di situ. Dari mulai ayat kursi, Al-Fatihah, Al-Kafirun, dan lainnya. Pokoknya jangan sampe bengong dan pikiran kosong. Bisa-bisa kita yang jadi korban kesurupan berikutnya. Hiyyy....

Sebenernya, gue mempercayai Al-Quran sebagai mukjizat. Untuk mengusir setan dan roh jahat gue kurang sepakat. Tapi apa daya, pada saat itu setannya bener-bener kuat. Malah setannya seolah mempermainkan kita.
”Panaaaasss....anjing!” Ya, kata-kata seperti itu keluar dari mulut Indah saat gue dan temen-temen gue membacakan ayat Al-Quran.
”Panaaass....aing kaluar, aing kaluar!!!” Set, akhirnya Indah diem. Dia kembali tenang dan tidak menjerit-jerit lagi. Ah, nampaknya setan terkutuk itu telah keluar. Maka gue dan panitia yang lain melonggarkan pegangan dan menunggu Indah siuman.

Tapi, beberapa saat setelah melepaskan pegangan, hal yang nggak diduga malah terjadi! Indah bangun kembali dan mengamuk! Gue yang nggak siap dengan semua ini sontak ikut-ikutan menjerit! Gue keget pas liat dia bangun kembali. Dan yang bikin gue menjerit keras adalah karena liat matanya! Ya, matanya bukan ekspresi mata manusia pada umumnya. Lebih ke mata makhluk lain yang gue sendiri nggak tahu makhluk apa itu. Yang pasti sih menyeramkan!

Sementara itu, di ruang terpisah yang disekat oleh kaca, gue melihat kerja keras sepuluh orang panitia cowok yang berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menenangkan Windy. Nampaknya sepuluh orang aja nggak cukup deh. Buktinya mereka kewalahan buat ngimbangin tenaga yang dikeluarin Windy. Mungkin setannya adalah raja setan. Mungkin juga setannya cinta mati sama Windy sehingga nggak mau ngelepasin Windy gitu aja. Owh, dasar setan jahanam! Mau lo apa sih?

”Jelma ieu milik aing...!!! Jelma ieu milik aing...!!!” Windy bicara kaya gitu. Hmmm...sebenernya sih yang bicara bukan Windy, tapi si setan terkutuk. Dia nggak mau keluar dari tubuh Windy. Dia pengen tetep bersarang di tubuh Windy!

Mengerikan! Sekarang Indah kadang ngamuk kadang diem. Dan asal lo tau aja, suara Indah berubah-rubah. Kadang suara laki-laki, suara anak kecil, dan terkahir suara nenek-nenek. Zigh! Bulu kuduk gue semakin berdiri. Apalagi malem ini hujan gede banget ditambah halilintar yang menderu begitu keras. Udah mah dingin, mencekam pula! Mirip kayak adegan di film horor. It’s real....

Setelah berjuang sekian lama guna menaklukan setan di tubuh Indah, akhirnya sekitar pukul 22.30 atau setengah sebelas malem, Indah berhasil diselamatkan. Itu artinya sekitar dua jam setengah, gue sama panitia yang lain megangin Indah! Lumayan, badan gue langsung encok karena nggak bisa mengimbangi tenaga yang dikeluarkan Indah. Indah sadar dan siuman walopun badannya lemes banget. Dia dibimbing supaya ngebaca istighfar suapay setannya nggak balik lagi. Fiuhhh,,,akhirnya satu korban selamat!

Beda dengan Windy, setan di tubuh Windy nggak mengenal istilah low-batt. Semakin malem malah semakin on fire! Gila nih setan, walopun beberapa ayat andalan semisal ayat kursi udah dibacain, tetep aja setan yang satu in nggak mau pergi. Maka, dengan terpaksa gue pun ikut membantu panitia yang lain megangin Windy. Ya, setelah masuk lobang buaya, gue masuk black hole! Lo nggak liat apa gue encok pegel linu gara-gara megangin Indah? Please deh!

Emang bener. Setan di tubuh Windy bener-bener kuat. Udah belasan panitia yang megangin tapi tetep aja tenaganya gede. Siap-siap aja gue kena osteoporosis gara-gara megangin Windy!

Di tengah-tengah kekacauan ini, tiba-tiba gue pengen pipis. Duh, mana ujan, dingin, pengen pipis pula! Pipis sendirian gue nggak berani karena malem ini begitu mencekam. Maka gue ngajak ke panitia lain.
“Eh, gue beser nih! Ada yang mau ke WC nggak?” Tanya gue sambil tetep megangin kaki Windy.
“Ayo, Zak. Gue juga beser nih!” Kata Wildan.
”Hayu atuh, urang oge hayang ki’ih!” Timpal Razi.
Maka berangkatlah 3 orang ksatria ketakutan ini ke WC. Pas tiba di pintu WC, kita semua bingung.
“Sok maneh tiheula...”
“Ah, maneh weh. Sieun euy...”
Nya nggeus urang weh.” Kata Wildan.
Wildan masuk WC duluan, sementara gue dan Razi nunggu di luar.

KREKK...!!
Pintu WC terbuka. Owh, tidak! Wildan udah beres...! (iya, nggak ada apa-apa kok).
”Sok, maneh heula Zak.” Kata Razi.
”Ah, ente heula weh.”
”Nya nggeus, barengan weh.”

Kita berdua masuk WC barengan. Ini bener-bener situasi darurat dimana gue dan Razi mesti berbagi tempat untuk buang air kecil. Beneran, ini karena diliputi rasa takut yang amat sangat dalam. Adanya peristiwa kayak gini jangan salahin gue dan Razi, salahin setannya!

Kita kembali memegangi Windy. Setannya kali ini bener-bener kalap. Ngamuknya keterlaluan banget. Cuihhh,,,masak gue mesti ngeracun si Windy buat ngeluarin setannya? Nggak kan.

Ada beberapa kejadian yang bikin gue sama panitia yang lain ketawa-ketiwi nggak jelas. Sumpeh, ini kejadian bikin perut gue ngakak setengah mampus. Dan baru kali ini gue denger.
”Istighfar, Win. Istighfar...” Kata Ade.
”Sia anjing...!!!” Teriak Windy—iya, bukan Windy yang bilang, tapi setannya.
Merasa terhina dan dilecehkan, Ade nggak terima. Kemudian dia berkata, “Istighfar anjing!”
”Anjing!” Kata Windy.
”Eh, anjing! Sia teu sieun ka Al-Quran, hah?”
”Sia anjing...!
”Anjing teh!”

Tuding-menuding antara setan dan manusia. Gue baru denger dan itu jelas banget di hadapan gue. Bisa juga kita menyebutnya saling hina antara manusia dan setan! Setan menghina manusia dan manusia membalas!

Waktu lagi kenceng-kencengnya megangin Windy, tiba-tiba Windy bilang kayak gini, ”Pergi kamu setan!”
Windy ngomong kayak gitu pas banget di muka Razi dan muka Tesar soalnya mereka kebagian megangin pundak Windy. Terus terang, Razi dan Tesar tersungging dan tersinggung. Mereka nggak terima dikatain setan! Mereka pun bales nyerang!
”Kamu yang setan!!!” Kata Razi dan Tesar kompak sekaligus emosi.

Setan teriak setan! Emang, setan sekarang daya intelegensianya mengalami perkembangan yang cukup pesat. Buktinya, dia bisa memfitnah manusia. Setan yang berbakat jadi koruptor!

Usaha mengendalikan Windy berujung sia-sia. Sampai hampir jam 12 malem, Windy nggak kunjung sadar. Malah semakin menggila tak tetolong lagi. Karena panitia kehabisan akal, maka diundanglah seorang ahli dalam bidang rukyat.

Pakar rukyat tersebut memang ahli. Dengan gerakan slow-motion, dia ngajak Windy bicara empat mata. Gue nggak tahu apa yang dibicarain. Mungkin mereka lagi negosiasi. Mulutnya komat-kamit seakan di hadapannya ada orang yang diajak ngobrol. Dan akhirnya, beberapa saat kemudian Windy bisa ditenangkan. Windy udah normal kembali dan dibawa ke kamar panitia.
Fiuhhh....

Gila, badan gue pegel-linu, encok, lemes, dan semua penyakit orang tua menjalar sekujur tubuh. Bayangin dong, Windy kesurupan dari jam delapan malem dan beres jam 12-an gitu. Berarti sekitar empat jam gue dan panitia megangin! Hiiiiyyy….bener-bener kerja rodi! Gue mah mending maen futsal 4 jam deh daripada megangin orang kesurupan.

Panitia bener-bener shock! Belum pernah acara LDKM kejadian kayak gini. Out of expectation! Kita semua merinding ketakutan. Panitia cewek apalagi, mereka bener-bener takut setengah mampus. Bahkan beberapa dari mereka juga ada yang sempet pingsan. Aneh, peserta yang kesurupan kok panitia ikut pingsan? Tapi untungnya nggak ada yang kesurupan.

Sekitar pukul 01.30, kejadian tak terduga datang lagi. Kita dibuat kaget lagi dan adrenalin gue dipacu untuk yang kesekian kalinya. What’s goin’ on? Kesurupan lagi!!!

Windy ngamuk lagi dan setannya kembali merasuki tubuh Windy. Anjrit. Mau lo apa sih setan? Lo nggak puas udah bikin kita-kita olah raga secara sukarela buat megangin lo doang, hah? Lo kagak kasian apa sama anak orang?

Ya untuk kesekian kalinya kita-kita megangin Windy lagi. Sungguh, malam yang sangat panjang mengingat peristiwa ini berlangsung secara tak terduga dan berlangsung sepanjang malam. Gusti nu Agung...hapunten bilih mah simkuring seuer kalepatan! Mugiya dihapunten sagala kalepatan. Amien...

Gue nyerah. Gue ngantuk. Gue pengen istirahat! Dengan terpaksa hanya beberapa orang aja yang nungguin dan megangin Windy. Selebihnya pada tidur karena nggak kuat ngantuk. Termasuk gue. Tidur dengan pulas sampe jam 7 pagi. Huhuhu....maaf kelewatan shalat subuh, soalnya gue capek banget!

Well, akhirnya Windy dibawa pulang pihak keluarga pada pagi hari pas gue masih pules-pulesnya tidur. Dia diamankan ke rumah. Sementara Indah alhamdulillah nggak berulah dan nggak kambuh lagi kesurupannya. Anak yang baik....

Bagi kalian yang mau ngadain acara di tempat yang belum terjamah, ada baiknya tahu tentang medan dan kondisi fisik serta psikis peserta. Ini penting guna kelancaran acara. Dan tentunya untuk meminimalisir hal-hal semacam ini. Ugh, setan zaman sekarang...aya-aya wae!

Tuesday, January 01, 2008

ARTIS CILIK, MUSIK, DAN KEBEBASAN


Aku suka Eno Lerian. Aku nge-fans sama Bondan Prakoso. Nggak kalah juga aku bener-bener kepincut sama Trio Kwek-Kwek. Mereka adalah orang-orang hebat yang pernah meramaikan dunia musik anak-anak zaman baheula. Di zamannya, album mereka laris-manis mirip penjualan MP3 bajakan. Seppupuku sampe beli album trio kwek-kwek plus Eno Lerian. Sedangkan aku sempet-sempetnya belain—dan merengek-rengek—minta dibeliin lagu Si Lumba-Lumba milik Bondan Prakoso.

Well, bagi sebagian orang mengingat-ingat masa lalu dan masa cupu adalah hal yang nggak banget. Jijay! Tapi nggak buat gue. Gue termasuk tipe yang sangat menghormati masa lampau. Kenangan indah seputar penyanyi cilik nggak bakal gue lupain gitu aja. Karena itu masa lalu dan menjadi bagian hidup.

Apa sih istimewanya penyanyi-penyanyi kayak gitu? Masih alergi kalo denger Trio Kwek-Kwek? Atau trauma sama gaya Bondan yang sok macho mirip Rhoma Irama di lagu Si Lumba-Lumba? Emang nggak kangen apa sama tahi lalat di hidung Eno Lerian?

Ngaku aja deh, nggak usah malu-malu. Kalo kalian pernah merasa dan hidup pada dekade dimana penyanyi cilik sedang menjamur, gue yakin ingatan kalian bakal ditarik ke masa tersebut. Nikmati saja.

* * *

Zaman sekarang sepertinya industri musik kita lebih terfokus pada pertumbuhan band-band anak muda. Entah itu karena trend atau pasar, semuanya seakan terfokus pada pencarian bibit unggul dari anak-anak muda. Pencarian pun dikerucutkan lagi pada jenis-jenis musik Pop, Rock, Death Metal, Indie, dan sebagainya. Ditambah lagi dengan aroma kebebasan yang diembuskan beberapa tahun terakhir membuat semuanya serba permisif.

Termasuk dalam musik. Memang, warna musik saat ini lebih bervariatif dan mutunya semakin bagus. Penjualan album pun meningkat tajam. Buktinya album-album dari penyanyi kita laku keras di luar negeri. Sebut saja nama-nama seperti Peterpan, Radja, Padi, Samsons, dan lain-lain.

Namun kebebasan yang dibuka lebar-lebar membuat orang lupa diri. Kebebasan dalam bermusik saat ini tidak hanya terpaku pada aransemen dan komposisi musiknya. Akan tetapi telah menjalar pada lirik. Coba perhatikan lirik ini:

Udah nggak kuat nahan, pengen gitu-gituan

Ayo cepat masukan tapi pake pengaman

(Kungpow Chiken)

Atau yang lebih ekstrim lagi:

Perkosa Ibu, Sodomi bapak

(Forgotten)

Lirik-lirik lagu yang beredar sekarang tidak lagi memperhatikan batas-batas formal sebuah kewajaran. Ekspresi kebebasan begitu kental. Pemberontakan pada satu hal konvensional menjadi sebuah trend gaya hidup. Dan akhirnya ini menjadi sesuatu yang mainstream.

Untuk kawasan Bandung sendiri yang menjadi kiblat musik-musik underground di Indonesia, perkembangan band-band indie dengan lirik eksploradis (gabungan eksplorasi dan sadis) tumbuh subur. Sebagian tak memperdulikan lagi mana norma dan aturan. Sebagian lagi cenderung apatis. Dan lainnya hanya diam. Gue punya pendapat sendiri bahwa musik yang dibawa oleh anak-anak underground akan sama nasibnya menjadi ilmu di tangan ilmuwan-ilmuwan Atheis: bebas nilai.

Lebih tepatnya musik bebas nilai. Nggak peduli mau nulis lirik tentang sex, pemerkosaan, setan, atau apapun yang penting bebas. Walaupun harus menyinggung orang lain—bahkan menyudutkan—itu nggak jadi soal. Yang penting bermusik! Titik!

Forgotten, salah satu band underground di Bandung pernah dapet teguran keras dari MUI gara-gara lirik lagunya yang berperikebinatangan. Band gila tersebut seolah nggak mikir waktu bikin lirik. Bahkan, waktu ditegur sama MUI, si vokalisnya bilang kayak gini: Kumaha sia weh anj*ng!

Dari beberapa temen gue yang deket sama personel Forgotten, gue dapet info bahwa maksud dari lirik-lirik yang dibuat sama sekali nggak ada maksud buat memojokkan pihak manapun. Lirik tersebut diinterpretasikan lain oleh para penggemarnya sehingga banyak yang salah paham. Sebenernya yang salah tuh siapa? Yang bikin lirik atau penggemar?

Pernah ada fans Forgotten dari Malaysia yang nekat mau bunuh diri gara-gara denger lagu yang berjudul ”Tuhan Telah Mati”. Padahal, menurut sang vokalis, bukan berarti Tuhan itu telah tiada. Maksud dari judul tersebut adalah keadilan sulit ditegakkan saat ini sehingga banyak orang yang terdzolimi. Kebenaran sulit ditegakkan. Whatever!

Selain Forgotten tentunya masih banyak grup band lain yang kondisinya hampir sama. Eksplorasi besar-besaran mengusung tema sex, melakukan pemberontakan pada lirik, memakai atribut-atribut setan pada wktu konser, meneriakkan sekeras-kerasnya kata-kata kasar merupakan ekspresi atas nama kebebasan. Makanya, gue sangat alergi jika ada orang yang berbicara atas nama kebebasan. Gue menyebut mereka dengan julukan Epigon Intelektual.

Memang, kebebasan adalah hak setiap orang. Dan setiap orang bebas dalam mengekspresikan dirinya entah itu dalam musik, politik, sosial,atau apapun itu. Hanya, pertanyaan gue adalah, sampai dimana batas kebebasan tersebut? Apakah memang kebebasan tidak ada batasnya? Atau batas kebebasan adalah kebebasan itu sendiri? Lalu, untuk apa aturan difungsikan? Apakah pantas kita berjustifikasi dalam segala hal atas nama kebebasan? Kebebasan yang rancu!

Waktu demam virus Al-Qiyadah Al-Islamiyah, banyak orang-orang bego agama yang mendadak jadi sok pinter di depan televisi. Mereka bilang kalau Al-Qiyadah itu harus dilindungi karena negara ini menjamin kebebasan hak setiap individu untuk melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing. Mereka juga mengecam tindakan brutal dan penyerangan terhadap golongan—sebut saja aliran sesat—tertentu. Karena kenapa? Karena itu melanggar HAM.

HAM, Hak Amoral Manusia.

Dikit-dikit HAM, dikit-dikit HAM. Sepertinya HAM udah dijadiin semacam tameng guna membenarkan tindakan yang salah. HAM bukan sesuatu yang mewah lagi. HAM telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan lewat media massa. Jika sudah begitu, HAM hanya akan menjadi komoditi di tangan orang-orang berduit.

Apa pantes aliran yang jelas-jelas sesat dan mencemarkan nama baik agama tertentu dibela habis-habisan atas nama HAM? Terus, kalo ada orang maling dan ketangkep apakah dia layak dinyatakan tidak bersalah dengan alasan bahwa mencuri adalah hak setiap individu? Hey, bukankah maling adalah kemampuan alamiah manusia? Lalu kenapa tidak dimasukkan saja ke dalam daftar HAM?

Boleh-boleh aja sih bikin aliran baru, tapi tolong jangan mengatasnamakan Islam. Gue heran, hari gini masih ada aja orang setengah waras ngaku-ngaku Nabi Muhammad lah, titisan Jibril lah, pernah pergi ke surga lah, dan semacamnya. Mana gue nggak tahu apakah dia punya mukjizat atau nggak. Gue pengen lihat orang-orang setengah waras itu parade kemampuan di televisi. Misalnya Lia Eden dibakar hidup-hidup untuk mengetahui apakah dia kebal terhadap api atau nggak—sebagaimana kisah Nabi Ibrahim. Atau Ahmad Musadeq suruh terbang ke langit dan Sidratul Muntaha. Tapi sampe sekarang, gue belum denger mukjizat dari beberapa ”Nabi” kurang waras tersebut.

Beginilah akibatnya jika kebebasan dipegang oleh orang-orang oportunis. Dan perlu diketahui, Indonesia adalah stok terbesar pemasok orang-orang dan spesies seperti ini.

Untuk semua epigon intelektual yang sok tahu, ada baiknya memperdalam kembali ilmu dan pengetahuan tentang kebebasan. Karena kebebasan yang kita pelajari bukanlah kebebasan murni. Akan tetapi kebebasan versi barat yang telah dimonopoli sedemikian rupa. Masih berminat menjadi pembela HAM versi barat? Silakan saja, saya tidak akan pernah memaksakan kehendak pada orang bodoh.

* * *

Sebenarnya kita semua telah mendzolimi anak-anak. Kita hanya peduli pada generasi kita dan lupa pada generasi selanjutnya. Generasi hari ini sedang membutuhkan figur yang tepat. Sayang, tidak ada solusi yang kita berikan.

Dulu, ketika kita masih anak-anak, setiap hari selalu aja disuguhin tembang dari beberapa penyanyi cilik. Bahkan dulu, gue sempat tergila-gila sama Sherina Munaf gara-gara film ”Petualangan Sherina”. All about Sherina gue koleksi. Mulai dari kartu pos, kaset, poster, majalah, dan stiker. Gue bener-bener ”jatuh cinta” sama Sherina.

Lain lagi cerita temen gue. Saking nge-fans berat sama Maisy—pengisi acara CI-LUK-BA, dia bela-belain ngirim surat dan minta fotonya. Walaupun harus membayar sejumlah uang buat dapetin fotonya.

Acara semacam Tralala-trilili dan CI-LUK-BA udah jarang banget sekarang. Papa T Bob juga nggak tahu ngilang kemana. Lagu-lagu anak ibarat barang langka di zaman sekarang. Nggak ada lagi ”Si Lumba-Lumba” atau ”Cit-cit cuit”. Geovani, Saskia, Joshua, dan yang lain telah menghilang dari peredaran. Padahal anak-anak butuh banget figur artis cilik.

Sadar atau nggak, anak kecil zaman sekarang lebih cepet dewasa sebelum waktunya. Kasus pelecehan anak SD oleh temannya banyak terjadi. Kelakuan mereka pun udah nggak ada bedanya sama orang dewasa.

Mungkin, karena tidak adanya figur di kalangan anak-anak, mereka berpaling pada figur orang dewasa. Lagu-lagu bertema cinta, perselingkuhan, kekerasan, dan hedonisme menjadi ”santapan” bagi anak-anak usia dini. Gue pikir, hal ini kurang pas diterapkan pada anak-anak.

Sebagai bangsa yang peduli akan perkembangan generasi selanjutnya, mari kita berikan perhatian pada generasi di bawah kita. Generasi di bawah kita sangat membutuhkan perhatian. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang membiarkan generasi selanjutnya hilang begitu saja—Lost Generation.

Wednesday, November 28, 2007

KEPASTIAN

"Kadang aku mengejar sesuatu yang--sebenarnya--tak perlu kukejar. sebagai konsekuensinya, aku tak mendapatkan apapun. Kadang aku diam dan tak mengharapkan sesuatu. Namun ternyata sesuatu yang tak terduga datang padaku. Hidup ini penuh dengan ketidakpastian. Dan sesuatu yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri."

Saturday, September 22, 2007

MATA SEMBAB SANG PRESIDEN


Untuk Bapak Presiden
Di
Tempat


Sebelumnya, saya sebagai rakyat biasa, ingin memohon maaf jika judul di atas tidak berkenan di telingan Pak Presiden. Saya juga sadar sesadar-sadarnya judul di atas tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan sebagaimana tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945. Saya sadar betul itu.
Satu hal mengapa saya lebih memilih judul ini dan menyingkirkan alternatif judul yang lain, karena Pak Presiden sulit untuk dihubungi oleh rakyatnya. Saya lihat di TV dan media kalau korban Lumpur Lapindo menangis karena tuntutannya belum juga dipenuhi. Pak Presiden tidak mendengar bagaimana kemarahan bangsa kita terhadap Malaysia baru-baru ini. Bapak juga seolah bungkam dengan panderitaan para TKI kita yang dikirim ke luar negeri dalam bentuk utuh dan kemabli dalam bentuk tak utuh, bahkan meregang nyawa.
Sebenarnya, saya sendiri bosan setiap hari mendengar kasus kekerasan terhadap TKI. Tapi, apa daya. Saya tak bisa berbuat banyak. Kadang saya selalu menyalahkan pemerintah. Saya maki-maki kabinet ini sesuka saya berharap kuping Pak Presiden merah dan hati Bapak tidak tenang. Namun tampaknya bapak tidak pernah merasa marah dengan makian saya. Bapak tak pernah mendengar dengan jelas teriakan saya. Bapak hanya melihat sekilas untuk kemudian mengalihkan pandang pada hal lain yang belum jelas pula.
Melihat reaksi Bapak seperti itu, terus terang saya kecewa. Padahal, jika saya bandingkan dengan pemimpin lain semisal Umar bin Khottob yang rela berkeliling di tengah malam hanya untuk memastikan apakah semua rakyatnya telah makan atau belum, jelas Bapak bukanlah harapan terbaik saya. Kenapa saya bandingkan Bapak dengan Umar? Karena saya ingin membuka kesadaran Bapak. Saya ingin menyadarkan diri Bapak tentang arti mata sembab.
Begini, sebagai public figure di Indonesia, Bapak selalu muncul di pemberitaan televisi. Berbagai undangan mesti Bapak hadiri setiap harinya, peresmian ini-itu harus didatangi, dan bolak-balik dari satu daerah ke daerah lainnya. Tentunya hal itu sangat menguras fisik dan mental Bapak sebagai seorang Presiden.
Saya pernah mendengar juru bicara kepresidenan (kalau tidak salah Bung Andi Malarangeng yang agak sedikit cengeng) berkata dalam sebuah wawancara. Dia berkata kira-kira seperti ini, ”Sudahlah, jangan terus memperburuk keadaan. Lihatlah Pak Presiden. Matanya sembab karena tak bisa tidur memikirkan negara.”
Benar sekali. Mata Pak Presiden memang sembab. Itu terlihat dari besarnya kantung mata yang selalu Pak Presiden bawa di setiap kesempatan acara. Dilihat dari ekspresinya, saya pikir memang benar Pak Presiden kurang tidur—atau memang tidak tidur sama sekali. Saya ikut prihatin, citra Bapak di depan publik seikit ’terganjal’ oleh kantung mata besar.
Menanggapi pernyataan Andi Malarangeng yang selalu saja sensitif terhadap kritik (saya pikir dia lagi dapet), hal itu wajar di negara demokrasi seperti Indonesia. Apalagi dengan kondisi yang tidak menentu seperti sekarang ini, sangat memungkinkan berbagai kritik tajam tertuju pada pemerintah. Jika memang Bung Andi tidak tahan kritik, kenapa pula harus jadi penasehat Presiden? Perlu diingat, menjadi penasehat Presiden tidak lebih mudah daripada mengurus kumis Anda!
Kembali pada kasus mata sembab. Saya ingin bertanya pada Pak Presiden. Apa arti mata sembab bagi Bapak? Karena kurang tidurkah memikirkan negara? Lelah karena baru saja bepergian dari satu tempat ke tempat lain? Atau hanya sekedar penanda saja demi menjaga citra dan berharap rakyat yang melihat seperti saya berkesimpulan bahwa tugas Bapak memang berat sehingga saya menyangka Bapak kurang tidur. Jika memang alasan ketiga yang diambil, Bapak telah melakukan blunder. Karena artis-artis saja yang syuting dari pagi hingga pagi berikutnya menjelang tetap terlihat cantik dan ganteng, tidak berkantung mata seperti Bapak.
Umar, dengan kekuasaan yang dimilikinya, rela berkeliling di tengah malam hanya untuk memastikan rakyatnya telah makan—dalam hal ini kita artikan saja dengan menjalani hari dengan baik. Ketika dia berkeliling, terdengar suara tangisan anak kecil. Dan apa yang Umar saksikan? Ada seorang ibu yang sedang memasak batu ditemani anaknya yang manangis. Ternyata mereka berdua belum makan. Entah kenapa ibunya merebus batu. Mungkin untuk menghibur anaknya bahwa dia (pura-puranya) sedang memasak makanan enak karena tak ada lagi makanan yang mesti dimasak.
Umar miris hatinya. Dia tak menyangka masih ada warganya hidup memprihatinkan. Maka dari itu, dibantu oleh asistennya Umar kembali ke rumah dan membawa sekarung besar bahan makanan untuk kemudian memberikannya pada ibu dan anak yang menderita tadi.
Bukan maksud saya memberikan cap baik pada Umar—karena Umar memang adil ti baheula oge—dan meremehkan Pak Presiden. Bukan itu. Saya hanya ingin mempertanyakan arti mata sembab Bapak selama ini. Setelah itu, Bapak harus mempertanggungjawabkan mata sembab Bapak di hadapan kami.
Jika memang mata sembab Bapak menandakan kepedulian dan kepekaan Bapak terhadap masyarakat, tentunya ada realisasi yang terwujud dari mata sembab Bapak. Buat apa mata sembab jika tidak mewujudkan sesuatu?
Jadi begini, kegelisahan dan keresahan Bapak menyebabkan insomnia. Berbagai masalah terus muncul seolah tak mau berhenti. Dalam malam gelap, Bapak tak bisa tidur karena terus memikirkannya. Satu yang harus dicatat, permasalahan tidak untuk dipikirkan. Permasalahan adalah untuk diselesaikan. Sesuai dengan definisi masalah—sesuatu yang harus diselesaikan.
Seharusnya, waktu terjaga Bapak akibat insomnia dimanfaatkan betul untuk mencari solusi demi kepentingan masyarakat untuk kemudian diwujudkan dalam bentuk real kehidupan. Saya tidak memaksa Bapak untuk menyamar dan turun ke jalan sebagaimana dilakukan oleh Umar bin Khottob. Saya pikir itu terlalu berat bagi Bapak. Saya hanya meminta Bapak bersama-sama ’orang pintar’ di pemerintahan mencarikan solusi yang memihak pada rakyat banyak. Itu saja. Karena saya pikir percuma mata Bapak sembab jika tak menghasilkan keberpihakan pada rakyat banyak.
Lupakanlah dahulu citra Bapak di depan masyarakat. Lupakanlah kegantengan Bapak yang sempat digembar-gemborkan media sewaktu berkampanye—walau saya tahu ganteng itu relatif. Lupakan kepentingan partai. Lupakan semuanya.
Lihatlah, negara kita telah sudah hampir sempurna kehancurannya. Berbagai permasalahan selalu saja datang setiap harinya dan tak kunjung selesai. Derita penduduk Indonesia di negerinya sendiri. Derita TKI di luar negeri karena kegiata ’ekspor’ manusia, citra buruk negeri kita di luar negeri, kasus freeport, kasus Munir, kasus teroris, dan kasus-kasus lainnya. Saya tak mau menceritakannya di sini. Terlalu ngeri untuk diceritakan. Terlalu menyedihkan untuk didengar. Terlalu memalukan untuk dijadikan memoar bangsa.
Sampai kapan negeri ini akan terus begini? Sampai saya mati? Sampai Amerika tumbang? Sampai kiamat menjelang? Sampai kapan?
Di sebuah daerah nun jauh di sana, ternyata masih ada rakyat yang mengharapkan pemerintahan ini kembali saja ke rezim orde baru. Menurut mereka, rezim orba (orde baru) cenderung lebih stabil, harga-harga terjangkau, tidak ada demo, stabilitas politik berjalan mulus, dan lain sebagainya. Setidaknya, ini menandakan bahwa mereka butuh keamanan dan kesejahteraraan serta perlindungan dari pemerintah. Sebagai rakyat, mereka berharap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah memihak rakyat banyak. Namun dalam kenyataannya, tidak melulu seperti itu. Rakyat tinggalah rakyat. Pemerintah yang berkuasa. Keduanya seolah berjauhan dan tak saling kenal satu sama lain.
Pak, ada baiknya Bapak tidur lebih dini dan tak usah tidur larut malam hanya karena memikirkan negara. Saya pikir percuma jika sekedar dipikirkan. Tak ada sesuatu yang terwujud jika tidak direalisasikan ke dalam bentuk nyata.
Mengapa saya menyuruh Bapak untuk tidur lebih cepat? Jawabnya adalah kantung mata Bapak. Saya sangat mengkhawatirkan kantung mata Bapak. Saya berharap kantung mata tersebut segera mengecil. Jika dibiarkan terus membesar, saya takut Bapak tidak bisa melihat secara utuh keadaan bangsa dan negara ini. Saya takut penglihatan Bapak terhalang. Dan itu memudahkan orang-orang terdekat Bapak semakin menjauhkan pemerintah dengan rakyatnya. Akhirnya, kalangan pemerintahan bisa bertindak sesukanya termasuk korupsi. Sedangkan rakyat hanya bisa gigit jari.
Pak, perlu diketahui, sejauh yang saya rasakan penderitaan bangsa berbanding lurus dengan besarnya kantung mata Bapak.

Globalizacktion
When i was young, this country felt too old

Monday, July 23, 2007

KAMU MAU KAN NERIMA AKU LAGI?

Aku sudah mulai berkhianat pada diriku sendiri. Beberapa hari ini, aku ketemu “kecengan” baru yang jauh lebih asyik, lebih sexy, dan membuatku nyaman berada di sampingnya. Intinya, aku mulai selingkuh dengan “kecengan” baruku dan melupakan ”pacar” lamaku.
Maaf, bukan maksudku untuk membuatmu terluka. Aku juga tak berniat melakukan hal ini. Sungguh. Aku hanya sedang jenuh pada dirimu dan mencoba pergi darimu. Aku ingin suasana baru yang bisa menyegarkan hati dan pikiranku. Dan akhirnya, aku bertemu dengannya. Dari first impression yang dia miliki, sudah jelas dia lebih unggul darimu. Physicly, impression, dan attitude sudah pasti dia menang darimu. Maka dari itu, sekarang aku lebih senang dengannya daripada denganmu. Maaf.
Tapi, suatu saat aku akan kembali padamu. Setidaknya, jika aku telah bosan padanya. Atau mungkin, jika dia yang bosan padaku. Ya, salah satu diantara kita yang telah bosan itulah yang akan membuatku kembali padamu.
---
Gelaran LA Indie movie kemaren seru banget. Gue bisa ketemu Garin Nugroho dan ngobrol banyak seputar film. Bisa ketemu Monty Tiwa yang talented abis. Dan tentunya yang terakhir, gue ketemu sutradara asal Filipina yang namanya John Torres. Si Alga—vox Panas Dalam—lebih seneng manggil dia Mr. John Tor (baca: Jontor).
Pagi-pagi jam setengah sembilan, gue dan beberapa temen gue udah ngantri di Blitz Megaplex. Ini adalah sesi registrasi ulang buat yang kepilih workshop LA indie movie. Antriannya panjang banget. Tapi, dengan penuh kesabaran dan ketabahan, akhirnya kita semua beres registrasi ulang.
Waktu sempet ngaret sedikit. Pukul sembilan harusnya kita udah mulai workshop. Namun karena ada kendala teknis dari panitia, kita mulai workshop sekitar jam 9 lebih 20 menit. Gue masuk ke gedung bioskop diiringi temen-temen gue. Gue duduk dan mereka pun duduk. Gue muntah mereka nggak muntah. Heran gue.
Buat pembuka dan warming up, panitia mempersilahkan mas Garin Nugroho untuk sekedar bercerita tentang film. Gue antusias banget uy dengernya. Gue nggak habis pikir nih orang pemberontak banget. Bisa dibilang juga agak sedikit anti-mainstream dalam pembuatan film-filmnya.
Soal pengalaman emang nggak diragukan lagi. Udah banyak festival yg diikutin. Penghargaan bejibun, skill teruji, dan argumennya jelas banget. Dari awal ngomong, kayaknya gue udah kebius sama kata-kata mas Garin.
Pembicara selanjutnya adalah Monty Tiwa. U know that? Yeah, dialah sutradara film ”Maaf, Saya Menghamili Istri Anda”. Buat gue pribadi, Monty bukanlah komunikan yang baik. Penjelasannya nggak ngena banget. Dia kayaknya termasuk orang yang sedikit banyak terpengaruh teori text book. Boring banget ngejelasin filmnya. Tapi, jokes-nya OK juga. Fresh jokes from the oven. Dia ngelmu dari siapa ya?
Untuk memberi warna baru dalam pola pikir perfilman indie, pihak LA mengundang sutradara film indie dari Filipina. Namanya John Torres—sebut saja Jontor. Sesi kali ini bener-bener bikin gue pusing. Kalo gue nggak malu, gue lebih milih tidur dari pada dengerin penjelasan si Mr. Jontor ini. Selain karena bahasa pengantarnya pake Inggris, film-filmnya juga gue nggak ngerti. Kata dia sendiri, film-film yang diputer Cuma megang prinsip shoot-edit-shoot-edit. Jadi nggak jelas banget apa isi dari film itu. Jangankan pesan yang pengen disampein, dia sendiri aja bingung sama pesan dari filmnya. Baru kali ini gue nonton film berasa ngelahap buku Noam Chomsky. Njelimet pisan!
Satu yang bikin gue heran sama Mr. Jontor ini, walaupun film-filmnya—hampir semua peserta—nggak bisa dimengerti, film-filmnya yang diputer telah meraih beberapa penghargaan di festival film Singapura. Ajaib!
Ini dia sesi yang gue tungguin. Walopun mesti nungu sampe bulukan, gue jabanin deh. Kapan lagi gue bisa interaksi lebih jauh sama garin Nugroho? Belum tentu kesempatan ini bisa dimaksimalin sama orang lain. Maka dari itu, gue all-out aja pas sesi mas Garin.
Ternyata, Garin memang lebih dari sekedr sutradara biasa. Pengalamannya luas banget. Tanya soal film, proposal film, metode film, dan lain sebagainya udah dijabanin. Gue Cuma bisa takjub ngeluarin air liur.
Acara kelar sampe jam 5 sore. Gue bener-bener interest banget sama LA indie movie ini. Gue jadi mikir, kok bisa ya perusahaan rokok ngasih materi kayak gini? Rokok kan identik sama racun dan perusak organ tubuh. Tapi di sisi lain, mereka juga—perusahaan rokok—ngasih kontribusi lebih buat perkembangan budaya pop bangsa khususnya film dan musik. Jarang banget gue denger Depdikbud menggelar diskusi budaya, film, dan musik misalnya. Atau departemen pariwisata menggelar film tentang kebudayaan dan musik daerah berkolaborasi dengan musisi pop. Kenapa harus perusahaan rokok? Dimana peran menteri Pendidikan dan Kebudayaan? Kenapa rokok yang jelas-jelas menyebabkan kanker, impotensi, serangan jantung dan gangguan kehamilan dan janin bisa melakukan penyegaran otak, nutrisi bergizi kebudayaan, kreatifitas tanpa batas, dan karya anak muda penuh semangat? Apakah instansi pemerintahan terlalu miskin untuk mengadakan acara seperti ini?

Ah, aku tak mau jawab. Biarlah waktu yang menjawabnya.

Kemarin-kemarin aku telah selingkuh. Ya, selingkuh sama LA indie movie karena terobsesi sama film dan melupakan kegemaranku: menulis. Aku bela-belain buat ikutan LA indie movie. Dan aku melupakan rutinitasku: menulis.
Maaf, aku sudah selingkuh bersama LA indie movie. Aku benar-benar khilaf. Aku mohon kamu mau maafin aku dan nerima aku lagi. Aku sadar sekarang. Apalagi setelah penjaringan tahap 2, aku nggak kepilih. Maka dari itu, aku pengen balikan sama kamu lagi. Kamu mau kan nerima aku lagi?
Sebagai permintaan maafku, aku hadiahkan tulisan ini padamu. Ini yang bisa aku tulis dari pengalaman sehari “selingkuh” bersama LA indie movie. Kamu mau kan nerima aku lagi?


Monday, July 16, 2007

MATAKU ADA EMPAT

Adakalanya seseorang itu harus menyerah pada sesuatu bernama MALU. Kadang, karena terpaksa dan dipaksa oleh keadaan kita bisa menutupi rasa malu tersebut. Walaupun tetap malu, toh lebih baik malu daripada tidak sama sekali (ngomong apaan sih?).

Jadi begini, gue dulu parno banget kalo sesuatu yang nggak biasa tiba-tiba harus melekat dan menjadi image bagi gue. Gue udah biasa disebut orang alim dan hampir nggak mau disebut anak badung. Gue udah terbiasa dengan berita-berita baik dan nggak mau denger berita buruk. Tapi itu dulu.



Sekarang gimana? Hmm...kalo sekarang sudah sedikit berubah dan fine-fine aja mau disebut anak apapun. Toh ternyata itu hanya paradigma gue aja yang salah. Tapi ada satu hal yang masih ngeganjel soal paradigma ini dan susah banget buat gue nerimanya. Apakah itu?



Kaca mata. Lebih tepatnya, pria berkacamata. Yeah, gue masih nggak PD kalo harus memakai kaca mata. Rasanya nggak banget dan terkesan pemikir tulen yang gaulnya Cuma sama buku. Gue juga nggak mau dikatain, “Wah, Zak lo minus berapa? Makanya jangan kebanyakan baca buku. Sekali-kali main dong”.



Memang, nggak selamanya orang berkacamata identik sama buku. Mungkin juga banyak orang yang nggak baca buku memakai kaca mata karena alasan tertentu. Contoh: Ian Kasela. Tapi nggak tahu kenapa ya, gue punya perasaan nggak banget deh pake kaca mata.



Seharusnya, gue rajin pake kaca mata dari kelas 2 SMA. Waktu itu minusnya masih imut-imut, yaitu minus 1 dan 0,75. Duh, masih imut dan jinak banget ya minusnya. Namun karena alasan kesehatan, dokter menyarankan untuk membeli kaca mata. Ya, dokter menyarankan untuk membeli kaca mata. Akhirnya, gue membeli kaca mata. Pertama kali dicoba di toko optik rasanya mata jelas banget. Serasa terlahir kembali ke dunia. Gue udah bertekad bulat untuk memakainya.



Namun apa yang terjadi saudar-saudara? Datang ke pondok mental gue ciut. Belum lagi harus menghadapi orang-orang se-tipe Peu2 dan P-nyoe yang kata-katanya terlalu tajam untuk didengar. Pokoknya, gue rahasiain hal ini dan berharap tidak ada seorang pun yang tahu kalo gue pake kaca mata.



Dugaan gue Cuma bertahan 1 hari. Temen-temen se-asrama udah pada tahu kalo Zakky bermata minus dan bertubuh kecil (ya iyalah ). Muka gue merah pas pake kaca mata diliatin sama Minceu dan Ade. Mereka ketawa-tawa nggak karuan. Sedangkan gue nggak sadar kalo gue lagi pake kaca mata. Hmm...orang yang aneh.



Akhirnya, berita itu tersebar dengan cepat ke asrama lainnya. Gue Cuma bisa pasrah dan berharap mereka mau mengampuniku (lho???). Ya sudah, karena kepalang tanggung, aku pake aja kaca mata tersebut di kelas. Harap dicatat, hanya dipakai di kelas. Sedangkan di luar kelas nggak dipake. Temen-temen juga agak sedikit aneh memandang gue memakai kaca mata. Gue apalagi. Dunia memang terasa lebih jelas. Namun agak sedikit aneh. Nggak tahu kenapa.



Waktu itu mungkin gue nggak PD buat pake KM (akronim dari Kaca Mata). Maka dari itu, usia KM gue nggak bertahan lama. Hanya beberapa bulan pake KM, gue dengan berat hati menyimpannya di tempat peristirahatan terakhirnya yaitu kotak KM. Lebih tepatnya dimumikan dan diawetkan.



Gue bebas dan nggak terbebani lagi sekarang. KM yang membatasi udah gue lepas. Lebih baik bebas daripada dibatasi oleh kaca mata. Itulah prinsip gue waktu dulu.



Namun, seiring waktu berjalan, ternyata penglihatanku semakin kabur saja. Cewek yang dulu kelihatannya cantik mendadak mukanya rata dalam penglihatanku. Cowok yang nggak ganteng-ganteng amat kok berubah jadi paling ganteng se-Unisba. Gue merenungi hal ini. Gue introspeksi, mungkin gue punya banyak dosa. Dan ternyata mata gue yang banyak dosa. Maksudnya, mata gue minus dan harus segera diobati. Dan satu-satunya pengobatan yang harus dilakukan sekarang adalah memakai kaca mata! Alamak....



Akhirnya gue menghubungi seorang teman yang punya kenalan dengan seorang spesialis kaca mata dan mata minus. Gue disuruh baca huruf dari kejauhan. Dan hasilnya sangat mengkhawatirkan! Mataku sekarang minus 1,75 dan 1,5 brow!!!



Dengan berat hati, terpaksa saya harus rajin pake kaca mata. Ke kampus, ke kost-an temen, ke rumah, dan kemana pun saya pergi. Duh, repot banget pake KM ini. Apalagi pilihan lensanya adalah photo grey. FYI, lensa ini terbuat dari kaca. Selain itu, bisa menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Jika keadaan sekitar intensitas cahayanya berlebihan, maka secara otomatis lensa berubah warna menjadi agak kehitaman. Dan bila intensitas cahaya kurang, maka lensa berwarna bening. Dibandingkan dengan super sin yang terbuat dari plastik dan mudah tergores, photo grey tahan gores. Kekurangannya Cuma satu: agak berat kalo dipake.



Perjuangan belum berakhir seobat. Ketika pertama kali pake kaca mata, keluarga gue pada heran. Temen-temen apalagi. Terutama ketika kita latiha debat di masjid, temen cewek gue perlu waktu beberapa saat untuk mengenali siapakah orang yang berkaca mata ini. Dia aja sampe segitunya. Apalgi ntar kalo ketemu temen-temen SMA. Bisa mati aku!



Akhirnya, saya sadar. Saya sadar kalau KM itu penting sekali. Setidaknya untuk saat ini. Mungkin, kalau saya punya rezeki banyak, Insya Allah akan saya normalkan pakai LASIK he..he..(mimpi itu harus yang tinggi dan nggak boleh setengah-setengah dalam bermimpi). Salah seorang teman saya bilang: ”Selamat datang di dunia kaca mata. Secara otomatis anda sudah terdaftar menjadi member dari spesies kami”.

Saturday, June 23, 2007

FEELING THIS

Dey, kenapa mesti kayak gini? Kenapa aku serasa jauh sekali denganmu. Padahal kita dekat. Di kampus kita sering bertemu dan bertatap muka. Kau sering tersenyum setiap kali kita bertemu. Aku sering menyapa. Begitupun sebaliknya. Tapi sekarang, kita hanya bisa memalingkan wajah seakan kau dan aku tak pernah bertemu sebelumnya. Mungkin aku hanya sebatas makhluk luar angkasa dan kau manusia. Kau menganggapku alien dan sebaliknya, aku menganggapmu bukan bangsaku—alien.

Sudah setahun kulewati. Unisba sama saja seperti biasa. Aku tak menemukan pencerahan di sini. Lebih banyak menemui wanita-wanita cantik berdandan menor dengan senyuman penggoda iman. Pakaian yang mereka kenakan seolah memberi sinyal bahwa semua orang bisa menikmati lekukan—mungkin juga keindahan—agung yang memabukkan. Temanku bilang, setiap hari selalu saja ada ”barang baru” di sini. Maksudku, wanita cantik yang berbeda dari hari ke hari. Dan memang seperti itulah adanya.

Hari ini, aku menjumpai sepasang manusia—lelaki dan wanita—melakukan kissing di depan umum. Aku tak tahu apakah mereka adik kakak atau suami-istri yang belum resmi menikah. Yang pasti aku sedikit shock melihat adegan sepeti itu. Jujur, bagiku ini sangat aneh. Pergaulan yang tidak jelas. Namun pada akhirnya, aku teringat kembali peristiwa tempo dulu. Jar, Angga, masih ingat lomba debat di UPI dengan tema Smookin in front of public is a criminal? Nah, aku pengen sedikit memberi masukan buat panitia debat gimana kalo sedikit dirubah judulnya menjadi Kissing in Front of Public is a Criminal. Setuju?

OK, kembali pada topik semula. Dey, sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku. Dari tatapan matamu, jelas aku merasa ada yang tidak beres antara aku dan kamu. ada sesuatu yang kau sembunyikan. Tapi aku tak tahu apa itu.

Aku minta maaf jika membuatmu marah. Aku juga minta maaf jika tingkah laku dan ucapanku terlalu menyimpang dari standar kemanusiaan. Jujur, aku minta maaf. Tapi aku merasa tak pernah memperlakukanmu seperti itu.

Aku hanya minta penjelasan logis atas semua ini. Kenapa harus seperti ini? Kenapa seakan kita tak pernah saling kenal sebelumnya? Kenapa kau seakan menjauh? Adakah alasan logis dari semua ini?

Aku ingat ketika pertama kali kita bertemu. Aku tak tahu siapa dirimu. Begitupun sebaliknya. Kita disatukan oleh sistem. Kita bertemu di satu kesempatan dan saling kenal. Aku senang bisa berteman denganmu. Apa kau ingat momen saat kau melempar bola padaku dan kusambut dengan menyebut namamu? Apa kau tak ingat hari dimana aku harus mempresentasikan semua kegiatan kita dan kau mendampingiku dalam melakukan tugas ini? Apa kau tak ingat hari dimana rambutmu masih original dan belum dimodif seperti sekarang? Dey, terus terang aku masih ingat semuanya. Aku masih menyimpannya. Aku masih merindukan saat-saat itu. Sungguh!

Mungkin aku orang yang tidak terlalu peka—sensitif—terhadap perasaanmu. Mungkin juga aku terlalu bodoh untuk menjadi seorang lelaki. Seharusnya aku tercipta untuk mengerti. Tapi aku hanyalah aku. Aku tak bisa menjadi siapapun atau apapun yang kau minta. Aku adalah aku.

Aku harap kau bisa mengerti situasi ini. Bagiku, ini adalah hal tersulit. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Apalagi yang harus kulakukan untuk membuat semuanya berubah seperti dulu.aku sungguh tak tahu.

Maaf jika tulisan ini membuatmu marah kembali. Aku tak bermaksud memperkeruh suasana yang telah keruh. Aku hanya menumpahkan segala keluh-kesahku atas apa yang telah terjadi. Semua telah berlalu dan aku harap kita tetap satu. Tak ada lagi sesuatu yang kau sembunyikan. Tak ada lagi acara buang muka diantara kita. Jujur, ini sangat melelahkan hatiku.

Terakhir, aku harap kita bisa kembali seperti biasa. Menyapa dan saling tersenyum. Aku selalu mengingat momen ini. Senyum manis selalu tersungging dari barisan gigi-gigi kecil yang rapi. Seuntai kata selalu kau ucapkan.

Dey, di sini aku masih berharap. Berharap sesuatu akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku butuh dirimu karena sesuatu telah terjadi pada diriku. Aku perlu bicara sesuatu dan ini sangat pribadi. AKU dan DIRIMU.


Bandung, 12 Juni 2007

Dey, sesuatu terjadi dan kau harus mengerti

Wednesday, June 20, 2007

Stuck Banget!!!

Gue udah stuck banget di SM. Gue nggak betah sama iklim kayak gitu. Gue pengen keluar cepet-cepet dan nggak mau terikat sama hal kayak gitu lagi. Gue nggak mauuu....

Entahlah, gue juga bingung sama semua yang ada di SM. Gue bingung sama diri gue sendiri. Rasanya nggak asyik aja ngejalaninnya. Serasa nggak jadi diri sendiri. Kenapa harus kayak gini?

Memang, di awal udah ada konsekuensi yang harus gue ambil. Harus ada yang gue korbanin. Dan terus terang saja gue udah bilang terus terang sama Bowo kalo gue lebih mentingin kuliah daripada SM sendiri. Parahnya lagi, gue Cuma nganggep SM sebagai komunitas, nggak lebih. Mungkin inilah yang bikin beberapa orang di SM menjadi murka dan sakit hati sehingga kawah candradimuka yang telah sekian lama dipendam keluar. Untung aja aku nggak liat keluarnya kayak gimana dan dari siapa aja.

Hari ini bakal mubes. Dan gue udah nggak nafsu sama semua program yang dibikin. Sebodo amat sama mubes! Gue nggak peduli lagi sama sekretariat. Gue nggak mau ngurusin konsumsi walopun gue jadi seksi konsumsi. Bodo amat deh mo kelaparan juga gue nggak peduli!!!

Entah, gue juga bingung. Gue udah pengen keluar tapi masih punya beban moral sama Imay dan semua yang ada di SM. Gue malu kalo mesti bilang hal ini di depan mereka walopun gue tahu ini adalah sesuatu yang gentleman.

Gue udah nggak nafsu sama media yang dibikin SM. Bad news is a good news. Slogan ini cocok banget buat media bikinan SM. Perasaan nggak ada berita yang ngangkat nama baik Unisba. Adanya yang jelek2 aja.

Dari manajemen dan personal, gue liat SM bukan manajemen yang professional walopun kelihatannya hebat—hebat apanya? Gue serasa lihat tukang bajigur yang bikin sendiri bajigurnya. Terus, dijual sama sendiri. Dan kalo nggak abis, ya dimakan sama sendiri.

Persoalan lainnya adalah diri gue sendiri. Gue ngaku kalo gue salah. Keputusan kayak gini memang salah. Dan gue sejujurnya salah.

Tau deh mesti ngomong apalagi. Gue udah terlanjur stuck ikutan lagi LKK/ UKM. Gue udah trauma setengah mati. Kenapa dulu gue nggak ikutan saran Novi aja biar masuk taekwondoo ya? Hmmm....


Saturday, June 02, 2007

UNISBA FAIR 2-3 Juni 2007

Aduh, lupa lagi ini teh stand apa euy?

Horeee,,,dapet baju baru!!! Pas nggak ukurannya? He..he..


Ncut,,,you're tongue is poison!!! Danger....


Dede-Qu dan Susan. Hmmm....


" Duh, gue bingung niy...HUKUM di Indonesia harus di-edit, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perihal undangan aick,,,aick,,,aick,,,"




Suara Mahasiswa, dari mahasiswa untuk kemanusiaan. Tapi gimana caranya memanusiakan manusia ya???




Ciee,,,si Zakky lagi mikirin siapa ya? Tapi kalo diliat lagi sih dia bukan lagi mikir. Dia lagi tidurrr...Zzzzzzzz!!!!




Alat sensor uang




Stand fakultas Syariah dan mesin penghitung uang a la bank.